Untuk lelaki yang hobi berolahraga atau memiliki postur tubuh tinggi menjulang, tak jarang punya kendala dalam mencari ukuran sepatu yang sesuai. Biasanya diperlukan ukuran 45-48, yang seringnya sulit ditemukan di toko-toko sepatu di Indonesia. Sekalipun menemukannya, harganya bisa sangat mahal dan berasal dari merek luar negeri.

Dua alumnus Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), Yukka Harlanda dan Putera Dwi Kurnia, telah saling mengenal kala bermain basket bersama semasa di kampus. Di tahun ketiga masa kuliah mereka, Yukka dan Uta mulai memikirkan langkah masa depan yang akan mereka ambil saat lulus kuliah nanti. Sadar bahwa tak cocok dengan kultur korporat, keduanya mencoba mencari peluang bisnis baru.

“Sempat terpikir ingin membuka kafe, kami pun mencari teman yang sudah lebih dulu bisnis kuliner. Setelah berbincang mengenai bisnis kuliner, ternyata tidak sreg dengan yang kami inginkan. Suatu hari, saya butuh sepatu baru, namun tidak menemukan ukuran yang pas dengan nomor kaki saya (47), dan harganya terlalu mahal bagi kantong mahasiswa,” ujar Yukka, membuka obrolan dengan Hitsss, saat ditemui di salah satu cabang tokonya, Brodo Footwear, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Nama Brodo diambil dari Bahasa Italia yang berarti kaldu ayam (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)
Nama Brodo diambil dari Bahasa Italia yang berarti kaldu ayam (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)

Di Bandung, tempat Yukka dan Uta merantau untuk studi S1, memang dikenal sebagai kota pengrajin sepatu, tepatnya di wilayah Cibaduyut. Keduanya berkeliling produsen penghasil sepatu, guna membuat sendiri sepatu untuk Yukka. “Berpuluh-puluh vendor sepatu kami sambangi. Namun kebanyakan baru dapat produksi jika pesanan minimal lima lusin, sedangkan saya hanya ingin memesan sepasang sepatu saja,” kenang Yukka.

Perjalanan pun sampai kepada salah satu vendor yang menerima pesanan satu pasang sepatu kulit, seperti yang ingin dipesan Yukka. Bangga memakai sepatu pesanannya sendiri, Yukka pun memamerkan sepatu tersebut kepada teman-teman kuliahnya. “Tanpa pikir panjang, kami buka sistem pre-order. Ternyata lumayan banyak juga yang tertarik. Akhirnya saya mengeluarkan tabungan saya Rp 3,5 juta, ditambah uang Uta, yang didapatkan dari hasil pinjaman, juga Rp 3,5 juta. Jadilah produksi pertama Brodo sebanyak 40 pasang sepatu,” ujar Yukka, mengingat kala dirinya dan sang rekan menjajal bisnis sepatu yang dikhususkan kepada kaum lelaki itu.

Kaskus, Facebook, dan BBM, pintu awal peningkatan penjualan Brodo

Tahun 2010 adalah titik pertama Brodo melangkah sebagai merek sepatu lokal. Tren forum Kaskus dimanfaatkan Yukka dan Uta dalam menyebarluaskan bisnis kecilnya saat itu. “Di sanalah letak target market segala macam bisnis. Dengan masuk ke dalam sebuah forum terbesar di Indonesia tersebut, kami dapat menyerap semua target market, dari berbagai kalangan dan rentang usia,” jelas Yukka.

Di waktu yang sama, Facebook mengeluarkan fitur terbarunya, yaitu Page. Bila suatu Page memiliki banyak jumlah likes, lalu admin mendorong konten tertentu, maka konten tersebut akan muncul di linimasa orang-orang yang me-like Page tadi. Hal inilah yang dimanfaatkan dan diulik Yukka terhadap Brodo. Facebook pun menjadi situs pertama yang dituju masyarakat, kala berseluncur di dunia internet. Sehingga menjadi peluang baik untuk semakin menyebarluaskan merek Brodo kepada khalayak umum.

Produk terlaris Brodo Footwear (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)
Produk terlaris Brodo Footwear (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)

“Mulai dari keluarga, teman dekat, temannya teman, pacar, dan teman-teman pacar, kami minta bantu untuk meningkatkan jumlah likes Page Brodo. Agar ketika kami dorong konten tertentu, konten tersebut akan semakin tersebar luas di linimasa orang-orang. Pengguna Page ketika itu masih sangat jarang, sehingga belum mengganggu linimasa pengguna Facebook. Tidak seperti sekarang, iklan muncul dimana-mana tanpa permisi,” tambah Yukka lagi. Dalam waktu satu bulan saja, Brodo sudah memperoleh 5000 likes.

Media ketiga yang menjadi penolong Brodo dalam melakukan penjualan adalah aplikasi BBM. Hampir semua orang menggunakan ponsel dengan aplikasi BBM, yang mempermudah komunikasi darimana pun dan kapan pun.

“Kami bahkan bisa menghitung pengeluaran untuk pemasaran bila dibandingkan dengan total penjualan, sangat berpengaruh dari apa yang kami sebarkan melalui tiga media tadi. Kami juga memanfaatkan Facebook Ads, yang memerlukan biaya tertentu untuk memasarkan Brodo lebih luas lagi, dengan sasaran yang dapat kami tentukan juga,” ungkap Yukka. Bila Yukka mengharapkan penjualan Rp 10 juta, maka biaya pemasaran yang harus ia keluarkan tidak boleh lebih dari 10 %, yaitu maksimal Rp 1 juta.

Bolak-balik ranah online dan offline, hingga kelola sendiri keduanya

Masuk ke tahun 2011, pasar sedang diramaikan dengan banyaknya bazar dan pop-up market, dan yang sedang naik daun pada masa itu ialah Brightspot Market. Yukka pun membawa Brodo menjajal pasar offline tersebut.

“Saat Brodo ikut di Denim Market, kami kedatangan tim dari The Goods Dept. Mereka melihat-lihat sepatu Brodo. Yang mengejutkan adalah mereka menawarkan kepada kami untuk bergabung dengan The Goods Dept. ‘Kalau sudah masuk ke The Goods Dept, nanti kalian bisa ikut serta di Brightspot’, begitu kata mereka. Tentu saja kami sangat senang dan mengiyakan tawaran tersebut,” kembali Yukka terkenang akan masa lampau Brodo.

Brodo Footwear untuk didesain khusus untuk para lelaki masa kini (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)
Brodo Footwear untuk didesain khusus untuk para lelaki masa kini (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)

Selain memasukkan produk ke The Goods Dept, Brodo juga tersedia di beberapa distro di kota-kota besar, seperti Jakarta, Medan, Bandung, dan Surabaya. Masa tersebut merupakan jalan baru bagi Brodo, yang ternyata membuahkan hasil yang sangat baik. Yukka mengungkapkan, bahwa ia dan Uta sempat terkejut saat menerima invoice penjualan dari The Goods Dept, yang menunjukkan angka Rp 20 juta.

“Jangan dikira dengan angka penjualan fantastis, kami para pendiri sudah mengantongkan keuntungan. Kami tidak gajian sampai tahun 2012. Berapa pun nilai keuntungan yang kami peroleh, kami putar kembali untuk biaya produksi. Sebab saat itu kami sangat bergelora untuk terus menambah stok produk, guna merespon permintaan dari konsumen,” jelas Yukka.

Diskusi Yukka dengan sang pasangan bisnis, memutuskan bahwa sudah saatnya mereka menerima uang hasil kerja keras keduanya. Keduanya pun membuat perhitungan antara komisi pihak ketiga (ritel) dan biaya pemasaran digital yang dikeluarkan Brodo sendiri, dibandingkan dengan angka penjualan. Hingga ia menemukan hasil yang cukup menarik. “Tentu saja ada pembagian pendapatan antara kami dengan pihak kedua. Persentase tersebut ternyata bila kami alihkan ke biaya pemasaran digital, yang memerlukan sarana lebih sedikit, ternyata dapat menghasilkan angka penjualan lebih besar,” tambahnya lagi.

Hingga perlahan Brodo tak lagi memasukkan produk ke distro-distro, begitu pula di The Goods Dept. Tahun 2013 adalah masa peralihan bagi Brodo. Sebab setelah sekian lama mengabaikan pemasaran digital (Kaskus, Facebook, dan BBM), mereka pun membangun jalannya kembali ke ranah dunia internet. Semua stok produk Brodo kembali dialihkan untuk pembelian dari ketiga media digital tersebut.

Bersama dengan hal tersebut, Yukka yang sudah kembali ke Jakarta seusai studi sarjananya, merasa perlu membuka sebuah kantor alias gudang penyimpanan stok produk Brodo. “Awalnya gunanya hanya untuk menyimpan stok barang saja, supaya bisa cash on delivery (COD) dengan pembeli. Namun saat kami menempati bangunan yang lumayan besar ini, kami akhirnya buka toko. Malah saya juga berbagi dengan adik saya yang buka bisnis barber shop di sebelah Brodo,” ungkapnya seraya menunjukkan bisnis sang adik.

"Di Brodo Store Bandung, gudang kami dapat memuat lebih dari 15 ribu pasang sepatu" (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)
“Di Brodo Store Bandung, gudang kami dapat memuat lebih dari 15 ribu pasang sepatu” (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)

Yukka pun menambahkan, bahwa hadirnya Brodo Store dapat meningkatkan kepercayaan para calon pembeli yang hendak berbelanja di Brodo. Para pembeli yang mengetahui ada Brodo Store juga beramai-ramai datang ke toko mereka, serta mampu lebih banyak mengundang orang untuk lebih mengenal produk Brodo. “Pengalaman dalam berbelanja offline tidak dapat tergantikan dengan belanja online. Apalagi dalam memberi sebuah barang, dengan warna, bahan, desain, dan ukuran tertentu,” jelas Yukka yang membuka Brodo Store di Jakarta, karena melihat pembeli Brodo 40 % berasal dari Jabodetabek.

Melihat maraknya situs e-commerce, Yukka dan Uta merasa sudah saatnya membuat situs Brodo, guna menampilkan segala macam produk Brodo, yang pada tahun 2013 tersebut sudah menjual produk selain sepatu, yakni jaket, tas, sandal, dan perlengkapan membersihkan sepatu. Melalui situsnya, Yukka dapat memanfaatkan peralatan dari Google, seperti Google Ads dan Google Analytics. Situs tersebut juga menjadi media pemasaran yang sangat efektif karena dapat memasukkan banyak sekali konten, antara lain introduksi, katalog, dan jurnal.

Sejak tahun 2013 hingga saat ini, Brodo Store sudah ada di empat kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Bekasi, dan Surabaya. “Kami sengaja memilih lokasi di jalan yang tidak terlalu strategis, artinya calon pembeli butuh sedikit proses untuk mencapai toko kami. Gunanya adalah untuk menghemat harga sewa atau beli bangunan toko tersebut,” tambah Yukka. (KA)