“Prenjak (In the Year of Monkey)” baru saja mengukir sejarah baru di dunia perfilman Indonesia, setelah terpilih sebagai film pendek terbaik dalam Cannes Film Festival 2016. Sang kreatornya, Wregas Bhanuteja, bercerita mengenai kisah di balik Prenjak.

Ketika kabar merebak bahwa ada karya sineas Indonesia yang menjadi pemenang di penghargaan Cannes Film Festival 2016, sontak pemberitaan di media massa maupun percakapan di media sosial menjadi riuh. Banyak orang negeri ini, khususnya mereka yang bergerak di dunia perfilman dan kreativitas, turut senang dan berbangga.

Prenjak meraih Leica Discovery Prize untuk kategori film pendek terbaik di Critics’ Week (La Semaine de la Critique) ke-55, salah satu bagian dari Cannes Film Festival ke-69 di Prancis. La Semaine de La Critique sendiri adalah salah satu festival independen terpenting, bagian dari Cannes. Film Indonesia yang pernah dipilih di sini, di antaranya Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1989) dan Fox Exploits Tigers Might (Lucky Kuswandy, 2014).

Wajar saja banyak orang ikut gembira. Pasalnya, penghargaan yang diraih Prenjak merupakan yang pertama kali diterima oleh film Indonesia di penyelenggaraan Cannes. Prenjak berhasil menyisihkan 1500 pendaftar, untuk kemudian tersaring menjadi 10 film terpilih, dan akhirnya didaulat menjadi sang jawara.

Wregas Bhanuteja, sang kreator yang menulis dan menyutradarai, membuat Prenjak dalam durasi 12 menit. Berkisah tentang dua tokoh, Diah (Rosa Winenggar), seorang perempuan yang sedang membutuhkan uang, kemudian menjual korek api seharga Rp 10 ribu per batang kepada temannya, Jarwo (Yohanes Budyambara). Ketika Jarwo menyalakan setiap batang korek itu, ia dapat melihat salah satu bagian tubuh Diah, yakni vaginanya.

Baca halaman selanjutnya: Pesan kuat tentang perempuan…