Euro pertahankan kenaikan di Asia, setelah ketegangan Ukraina mereda



Hong Kong (ANTARA) – Euro mempertahankan kenaikan semalam di awal perdagangan Asia pada Rabu, setelah melonjak di tengah laporan bahwa beberapa pasukan Rusia telah bergeser dari perbatasan Ukraina, meskipun dengan ketegangan masih meningkat, mata uang bersama gagal membuat kemajuan lebih lanjut.

Kementerian pertahanan Rusia pada Selasa (15/2/2022) menerbitkan rekaman untuk menunjukkan bahwa mereka mengembalikan beberapa pasukan ke pangkalan setelah latihan, namun Presiden AS Joe Biden mengatakan Amerika Serikat belum memverifikasi langkah tersebut.

Selain itu, beberapa jam setelah pengumuman Moskow, Ukraina mengatakan jaringan daring kementerian pertahanan dan dua banknya kewalahan oleh serangan dunia maya.

Mata uang umum Eropa stabil di 1,1356 dolar pada Rabu, setelah melonjak 0,45 persen sehari sebelumnya.

Saham di seluruh dunia rebound menyusul laporan tersebut, ukuran ekuitas global MSCI ditutup naik 1,34 persen. Dolar Australia, biasanya terlihat sensitif terhadap sentimen risiko, menggemakan euro, naik 0,37 persen pada Selasa (15/2/2022), sebelum kembali stabil.

Sebaliknya, mata uang safe-haven yen sedikit melemah dan terakhir di 115,65 per dolar, setelah sempat menyentuh 114,99 pada Senin (14/2/2022), ketika ketegangan lebih tinggi.

Secara keseluruhan, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, melemah pada i Selasa (15/2/2022 dan terakhir berada di 96,008.

Namun, analis mengatakan dolar tidak mungkin jatuh terlalu jauh.

Greenback “menurun semalam karena premi risiko geopolitik Ukraina keluar dari pasar, tetapi ekspektasi siklus kenaikan Fed yang agresif akan menjaga basis untuk (indeks dolar) di tempatnya,” kata analis di Westpac dalam catatan pagi kepada klien.

The Fed siap untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Maret, kemungkinan akan memulai program kenaikan yang cukup cepat.

Data indeks harga produsen yang lebih tinggi juga membantu mengirim imbal hasil obligasi acuan AS lebih tinggi.

Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun terakhir 2,0329 persen, kembali mendekati tertinggi dua tahun setelah turun di bawah 2,0 persen minggu ini karena ketegangan meningkat.

Dolar dan suku bunga AS bisa bergerak di kemudian hari setelah risalah pertemuan kebijakan Fed Februari. Investor mencari untuk melihat apakah kemungkinan kenaikan suku bunga 50 basis poin telah dibahas.

Minggu ini, pejabat Fed telah secara terbuka berdebat tentang seberapa agresif untuk mulai menaikkan suku pada pertemuan mereka Maret, dengan Presiden Fed St. Louis James Bullard pada Senin (14/2/2022) mengulangi seruan untuk laju kenaikan suku bunga Fed yang lebih cepat.

Pejabat Fed lainnya kurang bersedia untuk berkomitmen pada kenaikan setengah poin, atau bahkan khawatir hal itu dapat menyebabkan masalah.

Kenaikan suku bunga juga mendukung pound Inggris, yang berada di 1,3543 dolar.

Hampir dua pertiga responden jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, memperkirakan bank sentral Inggris akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan Maret. Itu akan menjadi pertama kalinya bank sentral menaikkan suku bunga pada tiga pertemuan berturut-turut sejak 1997.

Baca juga: Rupiah lanjut menguat seiring meredanya ketegangan Rusia-Ukraina

Baca juga: Dolar melemah, investor terima berita tentang krisis Ukraina-Rusia

Baca juga: Dolar Aussie naik, obligasi turun, meredanya krisis Ukraina jadi fokus

Baca juga: Yuan melonjak 142 basis poin menjadi 6,3463 terhadap dolar AS


 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.