Nama Tex Savario mulai berkibar sebagai desainer mode yang diperhitungkan di dunia internasional sejak gaun tulle hitam karyanya dipakai Lady Gaga di majalah Harper’s Bazaar tahun 2011. Tak berhenti sampai di situ, selain Lady Gaga, Kim Kardashian juga pernah memakai busana rancangannya. Namanya kembali hangat menjadi pembicaraan ketika Jennifer Lawrence dalam perannya di film The Hunger Games: Catching Fire (2013), mengenakan gaun putih karyanya dengan taburan kristal swarovski yang menawan.

Sejak kecil, Tex memang gemar menggambar. Awalnya karakter yang ia gambar adalah kartun, namun lambat laun objek gambarnya pun berubah. “Saya terpengaruh sejak melihat-lihat kostum Marie Antoinette. Gaun yang glamor. Terinspirasi dari situ gaya gambar saya berubah, jadi mulai gambar gaun,” ujar Tex, ketika ditemui pada saat acara fashion show Summer Light Extravaganza di Minotti, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (7/5) lalu.

Tex mantap meninggalkan bangku sekolah SMA-nya demi mengejar passion-nya belajar desain. Ia pun langsung melanjutkan pendidikan ke Bunka Fashion School. “Guru saya di kelas juga tahu saya senang menggambar. Dia bilang, ‘Kenapa kamu tidak ambil fashion design saja, Tex?’ Kalimat itu semacam peningat buat saya. Saya pun tidak mau buang-buang waktu. Jadi ketika usia 17 tahun, saya memutuskan untuk ambil fashion design. Itu murni karena passion, tidak ada bayangan akan berkiprah secara global. Saya cuma tahu inilah jalan saya, dan saya yakin menjalaninya, keluarga pun juga mendukung. Modal saya cuma niat,” ungkap pria berusia 30 tahun itu.

Tex Saverio-Dok. Hitsss
Meski menjadi perbincangan di dunia mode internasional, Tex merasa tak punya kiat-kiat khusus untuk menembus pasar mode dunia. “Buat saya, yang saya jalani masih proses pembelajaran. Saya merasa masih banyak kekurangan. Karena untuk bisa mengerti dan memahami, ya, harus melihat dan masuk ke pasarnya. Biar merasakan pengalamannya secara langsung. Saya ini masih on the way, masih dalam perjalanan dalam mencoba menembus pasar internasional,” ujarnya.

Dari rancangan yang bersifat custom dan khusus untuk klien privat, Tex mulai berpikir untuk membuat rancangan siap pakai (ready to wear) yang dapat dipakai siapa saja. Ia pun mengakui hal itu adalah sebuah tantangan baru, mengubah imej yang terbiasa dengan estetika busana bernuansa dramatis-teatrikal, menjadi sesuatu yang relevan dengan kekinian. “Tidak mudah membuat sesuatu yang wearable. Saya dan tim masih mencari ramuannya yang tepat. Karena itu triknya, touch of Tex yang fokus pada detail, bermain di volume dan dramatis tetap dijaga, tapi siluet dan bentuknya dibuat lebih ringan. Bahannya juga dipilih yang bisa dipakai dalam keseharian,” kata Tex.

Awalnya Tex sempat merasa dilema, karena karakter rancangan sebelumnya dia anggap kurang relevan dengan kesenangan kaum urban masa kini yang ingin serba cepat, praktis, dan simpel. Namun, dengan tetap mempertahankan ciri khas dan kejujuran, ia merasa dirinya akan selalu punya tempat tersendiri. “Dengan menampilkan diri apa adanya, kita pasti selalu punya ruang, dan diterima. Saya tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah mendukung apa yang saya yakini ini. Itu ketakutan terbesar saya, mengecewakan harapan orang lain. Ke depannya, saya ingin industri mode Indonesia lebih maju. Dan paling tidak, saya ikut menjadi bagian dari kemajuan itu,” ujar Tex mantap. (AR)

Comments

  1. Saya salah satu penggemar Rio (Tex Saverio). Merancang sesuatu yg belum biasa kita lakukan memang susah. Tapi dengan tekad kuat pasti bisa..!!
    Dulu saya juga sempat ingin jadi fashion desainer karena sudah terbiasa menemani Alm. Mama yg suka jahit2 baju. Namun apa dikata, ekonomi keluarga ga mendukung. SekarangMalah jadi suka lagi sama fashion sejak tau rancangan2 Rio yang out of the box..
    Ganbatte Rio..