Jangan sampai kamu terjebak menjadi “yes man”, karena ini bisa berbahaya untuk karier kamu ke depannya.

Dalam bekerja, mungkin kamu sulit untuk mengatakan “tidak” dan berusaha memenuhi semua perintah atasan. Padahal, menjadi “yes man” tidak selalu baik. Menurut Danny Oei Wirianto, CMO PT. Global Digital Prima (GDP) Venture yang juga penulis buku Think Fresh! (2018) menjadi “yes man” bisa jadi bumerang yang membahayakan karier kamu. Ia bahkan menyebut yes man is an evil man. Lima hal ini perlu kamu tanamkan dalam diri kamu agar tidak terjebak menjadi “yes man”.

1. Katakan tidak sanggup jika memang tidak sanggup

Menjanjikan sesuatu yang kamu tahu berada di luar batas kemampuan dan kamu tahu tidak bisa melakukannya hanya membuat orang merasa diberi harapan palsu.

“Yang terbaik adalah mengatakan tidak sanggup jika kita tidak sanggup, atau mengatakan sanggup jika memang sanggup melakukan pekerjaan itu,” ungkap Danny. Karena ketika kamu berpura-pura bisa padahal tidak bisa itu sama saja kamu memakai topeng. Tidak ada orang yang suka bekerja dengan orang yang penuh kepura-puraan.

2. Kamu berhak bahagia

Dengan menjadi “yes man” kamu mungkin berpikir bahwa kamu bisa dan ingin menyenangkan orang lain. Tapi, kamu juga perlu memikirkan kebahagiaanmu. Apakah kamu benar-benar bahagia melakukannya? Kebahagiaan setiap orang tentunya berbeda-beda.

“Menyenangkan orang lain adalah hal yang baik. Tetapi, jangan sampai hal itu membuat kita melupakan diri sendiri. Kita pun berhak bahagia,” ungkap Danny. Kamu hanya bisa membahagiakan orang lain ketika diri kamu sudah lebih dulu bahagia. Karena kunci seseorang bisa melakukan pekerjaan terbaiknya adalah ketika ia merasa bahagia.

Next: Menyadari kelemahan diri sendiri