Awal tahun 2016 dijadikan Visinema Pictures, rumah produksi yang digawangi sutradara film Angga Dwimas Sasongko, untuk meluncurkan film terbarunya berjudul Surat Dari Praha. Film yang akan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 28 Januari 2016 ini, menampilkan udua pemeran utama, yakni Tio Pakusadewo (Jaya) dan Julie Estelle (Laras).

Pengambilan adegan yang dilakukan di dua tempat, Jakarta dan Praha (ibukota Cekoslowakia), ini memanjakan mata penonton. Pojok-pojok kota Praha, dengan bangunan tua dan bar-bar di dalam gang sempit, menyajikan keindahan.

Laras, yang sedang melangsungkan proses perceraian, memutuskan untuk meminjam sertifikat rumah kepada sang ibu, Sulastri yang diperankan oleh Widyawati, dengan maksud ingin menjualnya. Namun Sulastri tak langsung mengijinkannya, sebab Laras selama ini menghilang dan memutuskan hubungan dengan ibunya. Tak lama, Sulastri meninggal dunia dan ia menitipkan surat wasiat untuk putri semata wayangnya tersebut.

Memang, dalam surat itu, Sulastri mewarisi rumah tinggalnya untuk Laras. Namun Laras harus mengikuti satu persyaratan yang diminta sang ibu. Sulastri meminta Laras untuk mengantarkan sebuah kotak kepada seseorang yang ditulis dalam surat wasiatnya. Selain itu, orang tersebut harus menandatangani berkas surat terima kotak tersebut dari Laras. Pergilah Laras ke Praha dan bertemu Jaya.

Laras, yang tak tahu cerita di balik pengantaran kotak itu, ternyata mendapat penolakan mentah-mentah dari Jaya. Laras pun tak patah arang dan memutuskan untuk menggali lebih dalam tentang siapa seorang Jaya, dan mengapa kotak tersebut ditolaknya. Kotak tersebut adalah sejarah bagi Jaya dan Sulastri. Sejarah dari masa kelam di tahun 1965, serta sejarah dari sebuah cinta dari dua orang insan yang tak hilang ditelan waktu.

Romansa di dalam kejadian nyata

Ilmu berubah, waktu berubah, musim berubah, namun cinta akan berlangsung sepanjang masa. Hal tersebut yang dialami Jaya semasa kepergiannya ke Praha di tahun 1965 silam. Konflik politik yang terjadi di Indonesia semasa orde baru, membuat banyak sekali Mahasiswa Ikatan Dinas (Mahdi) yang berhamburan ke luar negeri, termasuk Jaya. Praha merupakan salah satu kota yang menjadi tujuan para Mahdi.

Konferensi pers peluncuran film terbaru dari Visinema Pictures, Surat Dari Praha. (Dok. Visinema Pictures)
Konferensi pers peluncuran film terbaru dari Visinema Pictures, Surat Dari Praha. (Dok. Visinema Pictures)

Begitulah Angga Dwimas Sasongko, beserta Glenn Fredly sebagai produser dan music director, mengemas sajian penuh kisah sejarah Indonesia ke dalam sebuah film. “Kecintaan saya dan Glenn terhadap sejarah yang ada di Indonesia, membuat kami bersama-sama ingin menciptakan film ini. Kami berikan unsur romantisme sebagai aspek yang dapat menghubungkan sejarah di tahun 1965 kepada generasi muda masa kini,” jelas Angga, sutradara beberapa film di antaranya Cahaya Dari Timur dan Filosofi Kopi, saat konferensi pers film Surat Dari Praha, Senin (25/1), di XXI Epicentrum, Kuningan.

Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata para Mahdi yang secara langsung ditemui Angga dan Irfan Ramli (penulis skenario), saat melakukan riset di Praha awal tahun 2015 lalu. Sudah tiga tahun lamanya Irfan berkutat dengan segala informasi tentang Praha di tahun 1965. Hingga pada saat berkunjung ke Praha untuk melakukan riset dan dipertemukan dengan empat dari 12 Mahdi yang masih hidup dengan sehat, Irfan mampu menulis skenario dengan dialog yang sangat mendalam.

“Beberapa dialog yang dilontarkan Jaya pun kami dapatkan dari kisah yang diceritakan para Mahdi yang kami temui. Seperti saat Jaya berkata, ‘Saya mendengar kabar orang tua saya meninggal saja hanya dengan dua kata, bapak meninggal dan ibu meninggal (dalam Bahasa Jawa)’. Kisah tersebut terjadi pada Bapak Yoni,” ulas Irfan kepada segenap awak media. Kisah cinta yang terjadi antara Jaya dan Laras pun terjadi sesungguhnya, seperti yang dialami oleh Bapak Bismo, Mahdi lainnya.

Angga mengutarakan kepada Hitsss, bahwa tiga dari 12 Mahdi yang berada di Praha, turut menyumbangkan aktingnya dalam film ini. “Saat kami diberikan skrip dialog dan diminta untuk akting, kami bingung harus bagaimana. Namun Angga meyakinkan kepada kami, untuk berdialog secara natural dan mengatakan cerita yang kami alami sendiri,” ulas Bapak Roni, salah satu Mahdi, yang berpartisipasi dalam film ini, saat hadir di konferensi pers tersebut.

Film ini, selain memberikan kesempatan kepada Julie Estelle untuk berakting, bernyanyi, dan bermain piano, juga menjadikan 20 tahun berkarya Glenn Fredly semakin komplet. Angga mengungkapkan, ia terinspirasi dari lagu-lagu karya Glenn, serta sosok Glenn yang menyukai sejarah, serta peduli terhadap politik dalam negeri. Sehingga peranan Glenn sebagai produser, sekaligus menciptakan empat lagu original soundtrack, sangat berpengaruh pada film ini.

Diperankan juga oleh Rio Dewanto sebagai Dewa, Surat Dari Praha memberikan alur cerita yang tidak bertele-tele alias tidak berlama-lama dalam tiga babak, antara lain pengenalan karakter, konflik, dan penyelesaian masalah, yang sering ditemui di film-film drama lainnya. Sepanjang film ini, Laras dan Jaya berakting sangat tajam, sehingga cerita dibuat penuh makna di sepanjang berlangsungnya film. Suguhan musik yang kental di setiap sesi yang menguras emosi, menekankan bahwa scene tersebut merupakan bagian-bagian yang krusial dalam penokohan Laras dan Jaya. (KA)

This slideshow requires JavaScript.

Comments