Kenapa anak muda mencintai video online, lebih daripada medium lainnya? SkinnyIndonesian24, Last Day Production, dan Indovidgram menjawabnya.

Generasi muda Indonesia memang semakin memiliki pemikiran yang terbuka terhadap inovasi dan perubahan zaman yang terjadi di dunia. Seperti yang kini dilakukan oleh SkinnyIndonesian24, Last Day Production, dan komunitas Indovidgram. Dalam sesi talk show IDEAFest Conference, Sabtu (8/8) lalu, mereka hadir sebagai pembicara dengan tema “Why Online Videos Will be the Next Big Force?”, yang dipandu oleh Ernest Prakasa.

Acara bincang-bincang dibuka dengan pemutaran video kompilasi karya ketiga pembicara. Gelak tawa pun memecah seisi Cerdrawasih Room, JCC Senayan. Ketiga pembicara ini memang terkenal dengan video-video mereka yang unik, kreatif, dan penuh nuansa humor. Ketiganya mampu mengombinasikan isu terkini dengan karakter masing-masing dalam menciptakan karyanya.

SkinnyIndonesian24 merupakan duet kakak-beradik Ando dan Jo. Mengawali karir mereka sebagai Youtubers dengan karya video yang bernuansa humor, keduanya punya keberanian dalam memasarkan channel Youtube mereka. “Kami sempat menyebarkan brosur di car-free day, tapi berakhir dengan diinjak-injak saja. Saat ospek kuliah, saya juga minta kepada senior untuk subscribe dan nonton video-video Youtube kami,” ungkap Ando, seraya tertawa.

Terus berkarya adalah kunci utama untuk menjadi Youtubers yang karyanya menjadi viral. Jangan pedulikan kesalahan yang diperbuat, karena itulah proses belajar yang akan menjadikan video kamu semakin menarik. Dua hal tersebut menurut Ando dan Jo, menjadi kunci utama bagi kamu yang ingin menjadi Youtubers. Semakin menarik video yang kamu ciptakan, akan semakin banyak penontonnya. “Hitungan reveue yang didapatkan dari video-video Youtube adalah 1 dollar AS, setara dengan 1000 views yang diperoleh video kamu. Bayangkan jika mendapatkan 500 ribu views atau 5 juta views,” jelas Jo.

Benakribo dan Vendryana, dari komunitas Indovidgram, berpendapat bahwa merek-merek lokal kini melihat bahwa video online dan dunia internet sangat dekat dengan anak muda. Oleh karena itu, mereka membuat strategi pemasaran dengan pemasangan iklan melalui video online, guna menjangkau market yang dominan, yakni anak muda. Seperti misalnya kolaborasi antara SkinnyIndonesian24 dengan perusahaan telekomunikasi Telkomsel.

Ketiganya sepakat bahwa mereka sangat menghindari hard sell. Hal ini dapat memotong kreativitas dan karakter dari kreator yang bersangkutan. “Harapannya, dengan soft sell, kreator dapat berkreasi semaksimal mungkin dan bebas menciptakan karya, tentu saja agar tujuan akhir dari merek yang berkolaborasi dengan kami dapat tercapai. Jadi dapat tercipta win-win solution,” tambah Benakribo.

Ando menjelaskan, perbandingan views antara video hard sell dengan soft sell sangat berbanding terbalik. Audiens jelas lebih menyukai video kreatif, meski dengan konten hasil kolaborasi dengan merek tertentu. Menjadi tugas kreator untuk menciptakan video yang soft sell, namun tetap unik dan berkarakter.

Perlu diketahui bahwa meski video di Youtube dapat lebih panjang durasinya daripada video di Instagram yang hanya terbatas 15 detik saja, pembuatan video di kedua tempat tersebut sama-sama membutuhkan konsentrasi yang maksimal dan memakan waktu yang tak berbeda jauh.

Menurut Benakribo, penting bagi kreator untuk menyatukan visi dengan merek yang akan berkolaborasi dengan mereka. Serta saling bertukar pikiran mengenai konten apa yang harus disertakan dalam video tersebut. Biaya yang akan didapatkan kreator bergantung pada beberapa hal, antara lain seberapa kompleks konten yang akan dibuat, durasi dari video yang diinginkan, serta proses syuting videonya.

“Kami berharap dengan adanya kolaborasi, antara kami (kreator) dan klien dapat saling bertukar audiens dan komunitas,” harap Vendry. Tarif pembuatan video dengan konten promosi memiliki perbedaan yang besar antara Indonesia dengan negara tetangga, Singapura.

Jo menjelaskan, Singapura memiliki tarif rata-rata antara 5000 sampai 25 ribu dollar Singapura. Sedangkan tarif di Indonesia hanya sepertiga dari tarif di Singapura. Padahal penduduk di Indonesia lebih banyak daripada Singapura. Hanya saja di Indonesia, kepercayaan masyarakat dengan produknya sendiri masih sangat rendah, sehingga iklan-iklan merek lokal tidak dihargai semahal di Singapura.

Era televisi tergantikan video online

Apakah benar pernyataan di atas? Nampaknya zamannya akan segara menuju ke sana. Setidaknya demikian pendapat Leon dan Listia, dari Last Day Production, yang berpendapat bahwa program di televisi kebanyakan ditempatkan pada waktu yang tidak tepat dengan peminat programnya sendiri. Belum lagi belakangan ini bermunculan program televisi yang tidak diinginkan masyarakat Indonesia, dan sebaliknya malah menghilangkan program televisi favorit atau memindahkan jam tayangnya.

Hal-hal di atas diselesaikan dengan beralih ke video online yang diunggah ke Youtube. Melalui kolom pencarian Youtube, penonton dapat mencari video atau tayangan apapun yang mereka inginkan. Bahkan kini program-program televisi ikut pula mengunggah video rekaman program ke channel Youtube mereka sendiri, dengan harapan dapat menjangkau penonton yang tidak dapat menyaksikan program tersebut secara langsung.

Kedekatan generasi muda dengan mobile phone juga sangat berpengaruh terhadap peralihan penggunaan televisi ke video online. Bayangkan saja, hampir setiap saat orang-orang kini memegang ponsel di tangannya. Dengan koneksi internet, yang hampir tak mungkin tidak dimiliki pemegang ponsel, siapapun dapat berselancar video-video yang mereka inginkan di Youtube. Ditambah lagi fitur like dan comment yang dapat membuat penonton dan pengunggah video saling berinteraksi secara langsung.

“Selain konten, teknik penyuntingan video, dan pemilihan tema, hal apa lagi yang dapat meningkatkan jumlah views atau likes yang banyak?,” tanya Ernest kepada para pembicara. Bena menjawab, dengan meletakkan thumbnail yang tepat, maka penonton akan semakin tertarik menonton videonya. “Menurut saya, sebaiknya kreator konsisten terhadap karakternya. Agar penonton dapat mengenali video milik siapa, serta dapat mencari channel mana yang memiliki video menarik baginya,” tambah Listia.

Ando menyampaikan, kepada para kreator baru, jangan pernah ragu dalam menciptakan karya. Percayalah bahwa setiap video yang kamu ciptakan, akan membuat kamu semakin pandai dalam menghasilkan karya-karya menarik selanjutnya. “Kalau kamu punya video dengan konten yang menurut kamu bagus dan menarik, maka jangan malu untuk memberitahukan kepada banyak orang agar mereka menyaksikan video kamu!,” saran Ando kepada seluruh kreator di Indonesia.

Hingga kini SkinnyIndonesian24 telah memiliki sebanyak lebih dari 300 ribu subscribers dan memiliki sejumlah lebih dari 800 ribu views pada video Kau di Bekasi – Parodi RAN Dekat di Hati. Sedangkan Last Day Production memiliki sebanyak lebih dari 270 ribu subscribers dan pada video Anak Sok Kaya meraup sebanyak lebih dari dua juta views.

Berbeda dengan yang lainnya, Indovidgram yang notabene adalah komunitas, memiliki beragam video menarik dengan tema berbeda setiap harinya, yang diunggah dari regram video Instagram yang menggunakan tagar #Indovidgram. Sejak berdiri pada April 2015, Indovidgram kini sudah memiliki sebanyak hampir dua juta followers dan memiliki rata-rata 30 hingga 60 ribu likes di setiap videonya. Kompilasi video-video di akun Instagram @Indovidgram dapat dilihat pula di akun Youtube mereka yang kini telah memiliki lebih dari 15 ribu subscribers. (KA)