Oleh Aakar Abyasa Fidzuno

CEO & Founder Janus Financial

Beberapa waktu lalu, saya sempat liburan ke Melbourne. Saya cukup terkejut dengan sistem pembayaran yang banyak terjadi di sana. Boleh dikatakan hampir 90% transaksi dijalankan dengan cashless. Iya, bahkan ada lokasi-lokasi yang tegas menolak transaksi uang tunai.

Contoh sederhana misalnya, pembayaran parkir yang menggunakan kartu kredit. Beberapa gedung parkir bahkan mengharuskan booking online sebelum bisa memasuki area parkir. Tentu saja pembayarannya langsung didebet dari kartu kredit kita.

Ada yang membuat saya lebih terkejut, yaitu penjual es keliling yang hanya menerima pembayaran menggunakan kartu. Tidak menerima pembayaran tunai. Alasannya, itu adalah kebijakan dari perusahaan penjual es krim tersebut.

Terbayang tidak kalau di Indonesia, penjual es keliling membawa mesin EDC (card swipe machine) ke mana-mana? Di Indonesia sendiri, fenomena cashless ini sedang gencar-gencarnya. Hal ini ditandai dengan munculnya beberapa hal berikut:

a. Meningkatnya transaksi internet banking, mobile banking, dan sejenisnya. Bahkan beberapa data menunjukkan kenaikan angka ratusan persen jauh melampaui transaksi via kasir. Hal ini otomatis mengakibatkan bank harus mengurangi jumlah karyawannya dan mengurangi jumlah cabangnya.

b. Mulai bermunculan branchless banking. Beberapa tahun terakhir, banyak bank yang mulai membuka gerai lounge di mal atau pusat keramaian. Gerai ini beroperasi seperti layaknya jam buka toko. Bahkan mereka mulai menerima pelayanan walaupun di hari libur. Tujuannya jelas, supaya lebih dekat dengan nasabahnya.

Selain itu, baru-baru ini di Jakarta dihebohkan dengan satu bank yang hampir seluruh layananannya berbasis aplikasi. Bahkan untuk buka rekening, cukup melakukan selfie dan pindai sidik jari melalui aplikasi.

c. Inovasi payment gateway meningkat. Payment gateway adalah pihak penengah antara konsumen.

Baca halaman selanjutnya:¬†Fenomena branchless banking¬†mulai marak di kota-kota besar…