Ria Sarwono dan Carline Darjanto, founder dari label pakaian lokal Cotton Ink, memulai bisnisnya sejak tahun 2008. Berawal dari berjualan via Facebook, mereka pun membuat toko online berupa website store. Kurang lebih 7 tahun menjalankan bisnis bersama, dua kawan yang sudah saling mengenal sejak SMP ini, akhirnya membuka toko offline Cotton Ink di kawasan Kemang, akhir April 2015 lalu.

“Kami membuka toko karena permintaan pelanggan kami juga. Dari media sosial, kami menerima banyak saran dan komentar, termasuk juga pertanyaan, ‘Cotton Ink tokonya di mana?’. Dari situ kita terpikir untuk membuka toko offline. Pangsa pasar tetap besar melalui online, toko offline ini ada untuk mengantarkan merk kita ke konsumen,” ujar Ria pada saat peluncuran Cotton Ink Store.

Ria Sarwono-Dok. Hitsss

Menjalankan bisnis online, tentu pemasaran digital berperan sangat penting. Ketika berdiri pada tahun 2008, media sosial belum semarak sekarang, dan pakaian siap pakai (ready to wear) dari desainer belum terlalu banyak. Namun, Ria dan Carline merasa justru memulai di saat yang tepat.

“Dari awal kami didukung komunitas online yang pada saat itu mulai berkembang. Apa yang kita bangun itu sekarang tinggal dikembangkan lagi, karena media sosial semakin mudah dijangkau,” tambah Ria.

Dalam berwirausaha, tentu ada jatuh-bangun yang harus dilewati. Terlebih menjalankan bisnis dengan teman, tentu ada kendala, dan kerikil yang timbul di tengah jalan. Carline pun mengaku tak jarang terjadi perdebatan antara mereka berdua, terutama ketika tercipta perbedaan pandangan satu sama lain. “Kalau sudah berselisih, kami lihat visi kami lagi, karena yang penting tujuan kami sama. Pertentangan itu justru membuat kita jadi semakin saling mengenal satu sama lain, saling menerima dan membangun kepercayaan,” ungkap Carline.

Untuk bisa mempertahankan sebuah merk tentu juga tidak mudah. Oleh karena itu, bagi Ria dan Carline, sangat penting untuk membuat koleksi yang sesuai target pasar, tahu apa yang konsumen inginkan, membuat produk yang tepat sasaran, fokus dan menjaga identitas. Cotton Ink sendiri mempunyai target di rentang usia 20-25 tahun, first jobber, anak-anak kuliah yang ingin berekspresi menjadi diri sendiri. Namun, pelanggan mereka ada juga yang berusia 30 dan juga 40 tahun. “Justru itu yang ingin kami sampaikan, style itu tidak hanya dimiliki oleh sebagian orang, pesan itu kami sampaikan melalui apa yang kami buat,” tambah Carline.

Carline Darjanto-Dok. Hitsss

Ria dan Carline sadar zaman terus berubah, generasi ke depan bisa jadi akan berbeda lagi, tren pun mudah berubah. Untuk bisa tetap relevan dan bertahan, seseorang yang membuka bisnis harus bisa adaptasi dengan perubahan. “Adaptasi dengan perubahan dan terus melihat berbagai kemungkinan itu sangat menarik. Saya yakin 20 tahun lagi Cotton Ink bisa lebih maju dan lebih besar lagi dari sekarang,” ujar Carline. (AR)