Ray Arief Nayoan, sutradara film Jelita Sejuba (2018) ungkap hal-hal penting yang ia perlukan dalam membuat film, mulai dari mengetahui kapasitas dan limitasi diri, hingga bagaimana kreativitas bisa lahir dari keterbatasan.

Karya terbaru dari Ray Nayoan adalah film Jelita Sejuba yang dibintangi oleh Putri Marino. Film ini berkisah tentang perjuangan seorang istri tentara yang mencintai kesatria negara.

Dalam menyajikan filmnya, Ray Nayoan selalu mencoba mengemas konsep berat menjadi konsep yang lebih ringan agar penonton bisa menikmati bagaimana film tersebut bercerita. Ia juga ingin setiap film yang ia produksi tidak hanya sekadar bersifat menghibur tapi juga berisi pesan-pesan yang bisa masuk ke benak penonton.

Nature is Your Best Set

“Film yang bagus adalah sebuah film yang mampu menyampaikan pesan ke penontonnya,” ujar Ray ketika ditemui Hitsss di acara talkshow Mobiliari Film Festival. Alam sebagai lokasi shooting bisa menjadi setting terbaik dalam membuat film. “Kuncinya adalah observe, feel, create. Dengan mengobservasi alam dan merasakannya dengan kepekaan yang kita miliki, kita bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa,” ujarnya.

Alam bisa membantu pembuat film untuk mengelaborasi cerita. “Tinggal meletakkan manusia sebagai tokohnya di sana, dan karakter pun juga bisa terbentuk dari lingkungan,” tambahnya.

Kesehatan adalah Aset Utama

Dalam memproduksi film, kesehatan adalah hal paling penting. “Semua tim pembuat film harus menjaga kesehatannya dengan baik. Karena ketika ada satu kru ada yang sakit, maka proses produksi bisa terhambat. Kita jadi sibuk mencari kru pengganti yang tentunya akan memakan banyak waktu.”

Misalnya, untuk setting di hutan, kita harus tahu kondisi fisik seperti apa yang harus kita siapkan. Harus diobservasi keadaan alamnya akan seperti apa, dan hal-hal apa yang bisa diprediksi agar shooting bisa tetap berjalan lancar.

Kreativitas Muncul dalam Keterbatasan

Bagi Ray, ketika dihadapkan pada keterbatasan, ia bisa menjadi lebih kreatif. Karena baginya kreativitas itu bisa hadir ketika kondisi kita serba terbatas. “Keterbatasan itu membuat kita menjadi terpaksa harus berpikir. Keterbatasan itu adalah tantangan, dan kita jadi mencari alternatif-alternatif solusi untuk mengatasi keterbatasan yang kita alami,” ungkapnya.

Penting untuk mengetahui kapasitas dan limitasi diri. “Ketika kita tahu apa limitasi kita, kita bisa fokus untk menemukan hal-hal yang mungkin nggak akan kita dapati ketika kita memiliki kebebasan.” Misalnya ketika berada di lokasi yang biasa kita bisa saja membawa peralatan yang umum, tapi ketika lokasi tidak biasa, kita harus bisa menyesuaikan peralatan apa yang sekiranya bisa kita bawa.

Ini juga bisa berlaku soal pendanaan. Ketika dana terbatas, kita jadi berpikir bagaimana agar tetap menghasilkan film yang berkualitas walaupun dengan budget yang sedikit. Keterbatasan itu adalah tantangan, dan tantangan itu ada untuk diatasi dengan mengasah kreativitas kita. (JU/AR)