Kini, dengan semakin meningkatnya kebiasaan orang berbelanja online, semakin meningkat juga tren belanja e-grocery.

Untuk membeli kebutuhan rumah tangga sehari-hari biasanya kita pergi ke supermarket atau swalayan. Namun, semakin berkembangnya teknologi, konsumen sekarang ini punya pilihan gaya belanja yang berbeda. Istilah e-grocery pun muncul, yang artinya belanja online untuk kebutuhan sehari-hari.

“Tren e-grocery disambut baik oleh para e-commerce termasuk Bukalapak. Di Jakarta sendiri, e-grocery berkompetisi langsung dengan minimarket dan supermarket. Tren ini bisa meningkat karena konsumen semakin butuh akan pengalaman belanja yang mudah dan cepat,” tukas Rahmat Danu Andika, Associate Vice President of Special Projects Bukalapak.

Pesatnya pertumbuhan belanja melalui e-commerce juga mempengaruhi tren belanja lainnya, termasuk belanja kebutuhan rumah tangga yang semakin mudah diakses melalui smartphone.

Tetra Pak, salah satu produsen wadah minuman membuat sebuah index untuk mengukur seberapa banyak konsumen berbelanja melalui internet. “Berdasarkan riset Tetra Pak Index di Indonesia, sebanyak 1,2 persen konsumen berbelanja pangan secara online pada tahun 2016 dan angka ini akan bertumbuh secara cepat di angka 5,4 persen pada tahun 2030,” tukas Gabriella Angriani, Communications Manager Tetra Pak Indonesia.

Perubahan tren belanja e-grocery juga mempengaruhi kualitas produk yang akan dibeli melalui e-commerce. Tetra Pak melihat tren ini sebagai panduan untuk meningkatkan kualitas produk pengemasan mereka.

Memang, pertumbuhan belanja e-grocery belum sepesat e-commerce di Indonesia. Mengingat tren belanja seperti ini butuh waktu untuk dikenal oleh semua kalangan. Karena belum semua generasi menerima model belanja seperti ini. (AP/AR)

Dok. Adiyasa Prahenda/ hitsss.com
Dok. Adiyasa Prahenda/ Hitsss.com