Saat ini, storytelling menjadi salah satu metode pemasaran efektif. Hal ini mengingat zaman telah berubah, di mana pemasaran yang melulu membombardir konsumen dengan informasi satu arah, atau pesan-pesan korporat yang cenderung ‘basi’, bisa dibilang sudah tidak musimnya lagi. Masyarakat masa kini yang kental dengan kultur komunitas dan percakapan, lebih mudah didekati dengan storytelling.

Saat ini, persaingan antar merek begitu kompetitif, dan pusat konsentrasi para penggiat pemasaran adalah bagaimana cara ampuh menyita perhatian para (calon) pembeli. Melalui cerita atau secuil pesan yang disisipkan dan disampaikan dalam sebuah produk kepada calon pembeli, lalu mengomunikasikan mereknya melalui berbagai macam cara, inilah yang disebut dengan brand storytelling.

Berbagai perusahaan besar dunia kini mulai getol mengembangkan metode storytelling dalam aktivitas pemasarannya. Pada intinya, storytelling dapat dimaknai sebagai paduan teknik bercerita dengan teknologi terkini, dalam kemasan kreatif. Paduan antara merek dan dunia hiburan ini, terbukti dapat menjadi medium pemasaran mumpuni, lebih mengena, dan memiliki efek emosional pada konsumen.

Dalam penelitian berjudul “The Power of Storytelling from Facebook IQ”, mengungkapkan bahwa storytelling di media dapat memiliki dampak langsung dalam pembelian. Sebagai percobaan, Refinery29 Analytics mengetes iklan Facebook yang diurutkan seperti cerita. Secara keseluruhan, percobaan itu menghasilkan konversi 56 persen, dan kenaikan 87 persen dalam view-through. Refinery29 juga melihat peningkatan 7 persen dalam pembelian melalui toko dan peningkatan 10 persen dalam pembelian online.

Merek suatu produk yang sukses pastilah memiliki ‘cerita’ yang menghubungkan mereka dengan ‘penggemar’ atau ‘pelanggan’ produk mereka. Namun, jika merek produk kamu termasuk baru dalam dunia pemasaran, alias belum mempunyai penggemar atau pelanggan, tentu kamu butuh strategi khusus untuk menduniakan produk kamu. Berikut Hitsss berikan cara untuk menghubungkan merek produk kamu dengan orang lain, sehingga terjalin storytelling yang kuat.

Perkuat latar belakang dalam menyisipkan ‘pesan’

Dengan memperkuat latar belakang suatu produk, kamu juga akan menghubungkan produk kamu dengan calon pembeli, sehingga menunjukkan bahwa produk yang kamu punya mempunyai perbedaan daripada produk lain. Dengan pendekatan ini, kamu dapat mengundang pelanggan saat itu juga, untuk bergabung dengan produk kamu.

Proses membuat storytelling membutuhkan strategi, desain dan kemasan yang baik. Sangatlah penting melibatkan calon pembeli untuk mendorong hubungan emosional dengan merek yang sedang dikampanyekan. Misalnya, dengan mengajak calon pembeli untuk menebak akhir cerita dari storytelling tersebut.

Adakan sebuah evolusi

Hal ini mengingatkan pelanggan bahwa produk kamu selalu mengalami perkembangan dan berubah dari waktu ke waktu. Dengan begitu, pelanggan dapat melihat perkembangannya bertahun-tahun ke depan.

Adanya evolusi sangat cocok untuk produk yang berada di sektor yang cepat berubah-ubah seperti teknologi. Sebab teknologi biasanya akan membuat suatu pergeseran dan perubahan dalam mempengaruhi kehidupan di luar. Dengan pendekatan ini, produk kamu akan mengundang pelanggan untuk menemukan perspektif sudut lain dari produk itu sendiri.

Hubungan timbal balik

Koneksi seperti ini perlu diadakan, mengingat kadang terjalin hubungan saling menguntungkan antara para pendiri suatu merek dan pelanggan. Perbedaannya adalah tentang cara mendefinisikan suatu merek tertentu, dan itu akan memicu sebuah perubahan dalam pola pikir kolektif yang membuat revitalisasi merek tersebut menjadi kuat. Karena akan selalu ada pelanggan yang ingin lebih dari apa yang mereka ketahui, dan mereka akan mencari hal berikutnya untuk mendapatkan ‘imbalan’. (TN)