Cerita Misteri di Tanjakan Kunang-kunang – radarbanten.co.id


SERANG – Bagi para penggowes di seputaran Kota Serang, tentu sudah pernah mendengar Tanjakan Kunang-kunang. Tanjakan ini berada di lintasan Jln 45, Kampung Cikentang, Kelurahan Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.

Banyak penggowes yang bilang, kalau Tanjakan Kunang-kunang jauh lebih berat dari Tanjakan Gunung Pinang Kramatwatu, Kabupaten Serang (2,1 Km). Boleh jadi. Sebab, Tanjakan Kunang-kunang ini, panjangnya tak lebih dari 700 meter. Tapi, rata-rata penggowes ngos-ngosan bila melintas di trek ini. Begitu sampai di puncak bukit, banyak penggowes yang matanya langsung berkunang-kunang, wajahnya pucat pasi, ada yang muntah-muntah. Ada yang langsung rebahan, karena tepar.

Beberapa penggowes mensinyalir, Tanjakan Kunang kunang ini mengandung magnet atau ada kandungan besi. Bahkan sebagian yang lain mensinyalir, tanjakan ini seperti ada misterinya, tanpa memerinci misteri yang dimaksud. Sebab, tanjakan tidak seberapa panjang dan kemiringannya tidak terlalu tajam, tapi terasa begitu berat. Saking beratnya bikin nafas sampai ngos-ngosan.

Tim gowes Radar Banten Cycling Club (RBCC) yang melintas di trek ini tahun 2010 an, barangkali yang pertama merasakan beratnya Tanjakan Kunang-kunang. Waktu itu, Jln 45 belum populer seperti saat ini. Masih sepi. Kondisi jalannya juga rusak. Aspalnya nyaris mengelupas semua. Sebanyak 11 anggota tim RBCC (Mashudi, Widodo, Rahmat Hidayat, Iskandar, Fadhil, Agus Priwandono, Samsul, Nuryadin, alm Abah Sumarna, Pak Ragil, Mbah Kamil, dan lain lain) separo lebih, matanya langsung berkunang-kunang. Ada yang wajahnya pucat, ada yang rebahan di atas jalan yang becek.

Ketika itu, tim RBCC sangat khawatir. Khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi, setelah istirahat sejenak, semuanya baik-baik saja. Waktu itu, ada anggota Tim RBCC yang nyeletuk. “Ini tanjakan kunang-kunang. Gak kira-kira beratnya. Bikin mata berkunang-kunang.”

Para penggowes terlihat bugar saat berpose di atas Tanjakan Kunang-kunang.

Tapi, penulis tidak ingat, siapa yang nyeletuk waktu itu. Dan, sejak saat itu Tanjakan Kunang-kunang mulai dikenal dari mulut ke mulut para penggowes yang melintas di jalur itu. Dan, makin populer hingga saat ini. Banyak dilintasi penggowes dan sering dijadikan salah satu rute favorit untuk event-event gowes di Kota Serang.

Beratnya Tanjakan Kunang-kunang juga dirasakan Tim Gowes Safira Cycling Club (SCC). Tim SCC terdiri dari Widodo, Suharno, Syahri, Didit, Eko, Ilham, Sarono, Imat, Kacrut, Irfandi dan lain-lain. Setiap kali gowes ke trek ini selalu ada anggota tim yang pucat pasi, kendati sudah puluhan kali lewat. “Istirahat sebentar ya. Berkunang-kunang nich,” kata mereka sambil langsung terduduk begitu sampai di puncak.

Tak jauh dari Tanjakan Kunang-kunang ini terdapat Tugu 45. Tepatnya terletak di Kampung Tanjung Ilir, Sayar. Yang konon, pada sekitaran Tahun 1948 dijadikan sebagai markas para gerilyawan dalam menumpas penjajah Belanda. Tugu ini juga menjadi tempat favorit penggowes untuk berfoto.

Nah, begitulah sekelumit cerita seru di balik penamaan Tanjakan Kunang-kunang, Kelurahan Sayar, Kota Serang. Tanjakan ini setidaknya merupakan yang cukup berat, selain tanjakan di Kampung Cibetik, Taktakan. (widodo)

Leave a Reply

Your email address will not be published.