Banyak cara mengapresiasi kekayaan budaya negeri. Sejumlah desainer, sebut saja Auguste Soesastro, Denny Wirawan, dan Ivan Gunawan, membuktikannya melalui penciptaan koleksi pakaian yang mengangkat dan mengembangkan kain tenun. Mereka menyulap cantiknya kain tenun, menjadi mahakarya yang memukau. Meski materialnya sama, namun rancangan mereka tetap memiliki karakteristiknya masing-masing. Simak ulasannya berikut ini.

Auguste Soesatro

Dok. IFW

Filosofi Auguste Soesastro tertanam dalam busana rancangannya, bahwa perempuan harus bisa tampil cantik di mana saja, baik dalam keseharian ataupun dalam glamornya pesta. Garis desain Auguste bergaya sederhana, intelek, elegan, meski simpel, namun terlihat potongan kerumitan dan presisi yang tinggi. Belum lama ini, dalam salah satu koleksinya, Auguste mengangkat kain tenun dari Ayutopas Timor Barat. Kain tenun ini terbuat dari serat organik dengan pewarna alam yang digunakan utuh sebagai syal. Ini bukan material yang mudah dijahit, karena ketegangan kain yang tidak sama serta motif yang nampak simetris, namun Auguste sanggup menghadapi tantangan tersebut dan melahirkan koleksi yang memikat.

Denny Wirawan

Dok. Kabar24

Dalam koleksinya yang terakhir, perangcang yang satu ini mengambil inspirasi dari suasana warna rumput dan ilalang kering di Afrika pada songket Palembang, yang diolahnya menjadi koleksi bertema Puisi dari Savanna (Poetique de Savanne). Gaya yang keluar adalah aura simpel, elegan, dan seksi. Songket menjadi komponen utama koleksi busana siap pakai rancangan Denny, dengan suguhan konsep beragam, mulai dari jaket, blazer, hingga bolero.

Ivan Gunawan

Dok. Wolipop

Sedangkan perancang Ivan Gunawan memilih untuk menggunakan bahan kain tenun Mandar asal Sulawesi Barat. Motif tenun Mandar ini didominasi motif kotak-kotak, yang dalam kesehariannya lebih banyak dipakai sebagai sarung. Ivan mengolah kain ini menjadi deretan gaun-gaun yang anggun untuk acara semiformal, pesta, ataupun gala. (VK)