Media sosial telah membuat kita terhubung dengan banyak orang, tapi mengapa kita justru bisa lebih merasa kesepian di era digital?

Kehadiran internet telah memungkinkan kita untuk bicara dengan siapa pun di dunia, bahkan yang jaraknya sangat jauh dengan kita. Kita bisa terhubung dengan orang-orang ynag kita inginkan, mulai dari teman masa kecil, teman kuliah, rekan kerja dan orang-orang lain yang mungkin tidak pernah kita kenal tapi memiliki kesamaan minat.

Namun, ketika akses komunikasi semakin mudah dan sederhana, kita juga bisa merasa kesepian hingga terisolasi secara sosial. Mengapa bisa seperti itu?

1. Dunia digital membuat hubungan menjadi lebih “dangkal”

Kamu tidak dapat membentuk hubungan yang berarti dengan seseorang kecuali kamu berbicara tentang masalah yang kamu hadapi dengannya secara nyata. Hubungan yang erat dan dalam adalah ketika kamu dan temanmu saling berbagi masalah yang kalian temui. Ini tidak bisa kamu dapatkan di media sosial. 

Karena di media sosial kamu hanya bisa menampilkan hidupmu yang terlihat lebih baik. Sehingga kamu hanya membagikan pencapaian terbarumu, liburan yang seru, atau makanan yang kekinian.

Kebutuhan untuk dipandang sempurna ini yang membuat hubungan yang kamu bina menjadi lebih dangkal. Tanpa hubungan yang dalam dan berarti, memungkinkan kamu untuk merasa kesepian bahkan ketika kamu punya follower yang banyak sekalipun di media sosial.

2. Menghabiskan banyak waktu di dunia maya membuat kita kurang bisa memahami emosi orang lain

Terlalu adiktif dengan media sosial dan internet memengaruhi kecerdasan sosial yang kita punya. Ini dikarenakan berkomunikasi dengan emoji tentunya akan terasa sangat berbeda dengan berkomunikasi tatap muka.

Kamu dapat mengetahui tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang jika kamu “membaca” ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya. Tapi, bagaimana kamu bisa tahu emosi apa yang dirasakan lawan bicaramu jika yang ada di hadapanmu adalah layar ponsel? Jika kamu menghabiskan begitu banyak waktu menggunakan perangkat digital, kamu telah menumpulkan kemampuanmu untuk membaca emosi dan perasaan orang lain.

Next: Penekanan hubungan di media sosial berdasarkan kuantitas hubungan, bukan kualitas