Satu lagi inovasi anak bangsa muncul melalui LexiPal, sebuah aplikasi kreasi NextIn Indonesia, yang siap membantu anak-anak disleksia untuk belajar membaca secara menyenangkan.

Dalam dunia edukasi anak usia dini, mungkin sepintas mudah untuk mengajarkan mereka huruf dan angka. Sayangnya, sejumlah orangtua terkadang tidak menyadari ketika ada anak yang mengalami kesulitan atau kejanggalan dalam belajar, itu bukanlah karena anak tersebut bodoh, ber-IQ rendah, atau malas. Namun bisa jadi karena sang anak mengidap disleksia yang tak disadari. Di Indonesia, kesadaran masyarakat terhadap disleksia masih terbilang rendah. Ada banyak anak-anak yang sebenarnya menyandang disleksia namun tidak terdeteksi, dan tepat di sinilah fungsi LexiPal, sebuah solusi IT untuk pendidikan, yang dikembangkan oleh NextIn Indonesia.

Foto: Dok. Lexipal
Foto: Dok. Lexipal

NextIn Indonesia adalah start-up konsultan IT, yang dirintis empat anak muda asal Yogyakarta, Muhammad Risqi Utama, Taufiq Almansyur, Vina Sectiana Armadewi, dan Mega Aisyah Nirmala. Mereka meluncurkan LexiPal sebagai produk awal start-up mereka sejak Desember 2014 lalu. Kini, LexiPal dikenal sebagai aplikasi belajar khusus untuk anak-anak yang menyandang disleksia, dan mulai banyak digunakan oleh beberapa institusi kesehatan, pendidikan, orangtua yang anaknya menyandang disleksia, menjadi pemenang sejumlah kompetisi aplikasi, dan sudah dipresentasikan di depan presiden Joko Widodo dan Menbuddikdasmen Anies Baswedan.

Secara ekslusif kepada Hitsss, Risqi, Taufiq, Vina, dan Mega menceritakan seluk-beluk dan kesuksesan mereka dalam membangun dan menjalankan start-up berbasis sosial-edukasi ini. Simak perbincangannya berikut ini.

Foto: Dok. Lexipal
Foto: Dok. Lexipal

Hitsss (H): Ceritakan latar belakang ide penciptaan dan bergabungnya kalian untuk menciptakan LexiPal?

Risqi (R): Tim yang mengembangkan LexiPal bermula dari keikutsertaan Risqi, Vina, Kuntoro, dan Vremita dalam kompetisi Imagine Cup Indonesia 2012. Dalam kompetisi tersebut, kami ingin membuat solusi teknologi untuk membantu anak-anak yang kesulitan belajar, karena dunia pendidikan merupakan passion kami. Kami mendalami masalah ini dengan bertanya pada mahasiswa dan dosen psikologi, serta dokter anak. Kami fokus pada salah satu masalah yang sebenarnya banyak terjadi, namun banyak orang tidak tahu, yaitu disleksia.

Atas dasar itulah, kami mengembangkan prototipe aplikasi LexiPal sebagai media belajar untuk anak disleksia. Prototipe aplikasi LexiPal ternyata berhasil menjuarai berbagai kompetisi IT yang lain selain Imagine Cup, baik nasional maupun internasional. Dari situlah, kami membangun start-up IT yang mewadahi pengembangan LexiPal hingga ke produk IT, yang siap digunakan secara massal. Kuntoro dan Vremita tidak ikut serta sebagai co-founder pembentukan start-up itu, lalu Taufiq dan Mega bergabung untuk mengembangkan NextIn Indonesia dengan produk andalan pertamanya, yaitu LexiPal. Jadi sejak itulah, Risqi, Vina, Taufiq, dan Mega, sebagai co-founder NextIn Indonesia, mencoba untuk mengembangkan LexiPal.

H: Bagaimana prosesnya sehingga kalian dapat menciptakan LexiPal secara fisik?

Taufiq (T): Pembuatan LexiPal memakan waktu kurang lebih 12 bulan (1 tahun). Pembuatan aplikasi LexiPal dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap riset, tahap pengembangan, dan tahap rilis. Tahap riset dilaksanakan hingga 3 bulan di Bandung. Riset ini dilakukan terhadap metode belajar yang digunakan para terapis secara manual.

Selanjutnya tahap pengembangan aplikasi, yang memakan waktu 7 bulan. Tahap ini dibagi menjadi 4 bagian proses, di antaranya: proses perancangan, proses pembuatan, proses pengujian, dan proses perbaikan. Setiap bulan, Tim NextIn selalu membuat laporan perkembangan dan presentasi kepada tim ahli (dalam hal ini dr. Kristiantini Dewi, Sp.A dan dr. Purboyo Solek, Sp.A(K)), untuk perbaikan konten atau penambahan hal-hal yang diperlukan. Tahap terakhir yaitu tahap rilis, kurang lebih 2 bulan mencakup packaging dan releasing.

H: Siapa saja pihak yang membantu dan terlibatk dalam proses awal pembuatan LexiPal?

Vina (V): Awalnya kami mengajak beberapa praktisi yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus di Yogyakarta, yaitu dari Sanggar Inklusif Jogja dan Universitas Negeri Yogyakarta. Kami juga bekerjasama dengan Asosiasi Disleksia Indonesia di Bandung untuk merancang media-media belajar yang ada pada aplikasi LexiPal.

H: Berapa dana awal produksi dan bagaimana kalian memperoleh dana tersebut?

V: Dana yang kita dapatkan pada awal produksi berasal dari Bank Mandiri. Dana itu kami dapatkan karena mengikuti salah satu kompetisi tahunan dari Bank Mandiri yaitu Mandiri Young Technopreneur yang memberikan dana hibah untuk implementasi produk kepada pemenangnya.

H: Bagaimana strategi pemasaran sejak diluncurkan hingga saat ini dikaitkan dengan kemajuan teknologi?

Mega (M): Rendahnya kesadaran masyarakat umum terhadap disleksia, membuat tim NextIn Indonesia sadar bahwa yang pertama harus dilakukan adalah edukasi tentang disleksia. Sejauh ini yang menjadi target market LexiPal adalah pihak-pihak yang memang tidak asing terhadap disleksia seperti pediatrik, terapis, guru,  psikolog, dan orangtua yang sudah paham anak-anaknya menyandang disleksia. Sembari memasarkan aplikasi LexiPal, tim NextIn Indonesia tidak berhenti mengedukasi masyarakat melalui berbagai macam kegiatan seperti seminar, aksi sosial di titik-titik pusat kota, media sosial, media cetak, dan lain-lain.

Pemasaran LexiPal dilakukan baik secara online maupun offline. Peluncuran LexiPal dilangsungkan bersamaan dengan seminar mengenai kesulitan belajar anak, yang dilaksanakan di Auditorium FK UGM Yogyakarta. Tim pemasaran LexiPal juga aktif dalam mengikuti forum-forum orangtua, yang memiliki anak-anak dengan kesulitan belajar spesifik di Facebook, maupun grup-grup instant messaging seperti whatsapp. Selain itu, pemasaran LexiPal juga fokus pada digital, seperti media sosial, melalui Facebook (www.facebook.com/lexipalindonesia, Twitter (lexipal_id), Instagram (lexipal_id), Youtube (lexipal indonesia), dan official line.

Foto: Dok. Lexipal
Foto: Dok. Lexipal

H: Bagaimana respon pengguna LexiPal ketika kali pertama menggunakan aplikasi tersebut?

M: LexiPal sudah digunakan di beberapa institusi kesehatan, pendidikan, dan orangtua yang anaknya menyandang disleksia. Beberapa testimoni penggunaan LexiPal di antaranya datang dari, misalnya Purboyo Solek, Sp.A(K), seorang konsultan syaraf anak, yang menyebutkan bahwa Lexipal adalah aplikasi bagus karena diawali dengan kemampuan dasar hingga kemampuan mahir. Ada juga Ilma Zaini, terapis Indigrow Child Development Center, yang mengatakan bahwa sebagai guru bagi anak berkebutuhan khusus, ia merasa terbantu menerapkan metode multi-sensory saat mengajar, dan proses belajar membaca di kelas menjadi  menyenangkan.

H: Berapa harga jual LexiPal di pasaran berdasarkan tipe produknya?

M: Sejak pertama kali dirilis pada 20 Desember 2014 lalu, LexiPal memiliki 4 tipe produk, yakni: LexiPal professional version (Rp 2.499.000) tidak termasuk sensor gerak, LexiPal home version (Rp 1.799.000), LexiPal web version (berlangganan Rp 175.000/3 bulan), dan LexiPal mobile version (kategori bentuk dan pola). LexiPal pro ditujukan untuk para ahli, seperti pediatrik, guru, terapis, dan psikolog. LexiPal home version, web version, dan mobile version ditujukan untuk para orangtua yang mendampingin anaknya belajar.

H: Selain dari penjualan LexiPal, bagaimana kalian menjalankan bisnis di NextIn?

V: Selain mengembangkan dan menjual LexiPal, kami juga menerima pengerjakan proyek pengembangan aplikasi untuk tujuan sosial dan edukasi.

H: Apa kesulitan yang dihadapi dalam mengembangkan bisnis kalian, dan bagaimana  menyelesaikannya?

R: Ada 2 masalah utama yang kami hadapi dalam mengembangkan bisnis ini, yaitu: dasar keilmuan kami sebagai pengembang aplikasi untuk disleksia adalah kebanyakan dari IT dan bisnis/manajemen, sehingga kami  kekurangan pengetahuan tentang masalah disleksia dan bagaimana menanganinya. Akhirnya kami bekerjasama dengan pihak Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI). Melalui kerjasama dengan ADI, LexiPal dapat diselesaikan dengan konten dan metode yang tepat sesuai arahan dari ADI.

Masalah utama lain adalah masih banyak orang tidak tahu tentang disleksia, atau mengetahui adanya gangguan belajar pada anakya. Sehingga yang terjadi adalah banyak anak yang dianggap bodoh dan pemalas karena kesulitan membaca, padahal bisa jadi mereka adalah disleksia. Untuk mengatasi masalah ini, kami bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menggelar seminar, workshop, dan berbagai bentuk aksi sosial yang lain.

Foto: Dok. Lexipal
Foto: Dok. Lexipal

H: Apa pencapaian tertinggi yang pernah diraih dari kalian dalam menjalankan bisnis ini?

R: Sebagai solusi IT, LexiPal pernah menjuarai Indonesia ICT Award (INAICTA) dan Mandiri Young Technopreneur, serta mendapatkan Winner di Asia Pacific ICT Award (APICTA) dan Bronze medal di ASEAN ICT Award (AICTA). Selain itu, LexiPal pernah dipresentasikan di hadapan Presiden Indonesia Joko Widodo dalam Wirausaha Muda Mandiri Expo serta dicoba langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan, Ph.D di RS Melinda 2 Bandung. Walaupun demikian, yang paling membahagiakan bagi kami adalah ketika LexiPal bisa digunakan dengan gembira oleh anak disleksia dan dapat membantu mereka mengatasi kesulitan belajar.

H: Apa pesan kalian bagi anak-anak muda yang ingin merintis start-up berbasis sosial-edukasi seperti kalian?

T: Pintar-pintar mencari peluang.

R: Membangun start-up berbasis sosial edukasi tidak mudah, karena yang terpenting adalah bagaimana teknologi yang kita buat dapat memberi dampak positif bagi pengguna. Kadang yang baru memulai start-up berbasis sosial edukasi terjebak untuk mendapatkan revenue sebanyak mungkin, namun lupa mengembangkan produk yang benar-benar berguna. Jadi, sebaiknya pikirkan manfaat teknologinya dulu, uang pasti mengikuti.

M: Saya memiliki 2 mantra, yaitu patience dan persistence! (KA)

Comments