Roman Abramovich, Chelsea, dan Dampaknya di Liga Inggris


London

Roman Abramovich terimbas perang Rusia vs Ukraina, dan memilih pergi dari Chelsea. Miliarder Negeri Beruang Merah itu dinilai sudah membuat perubahan besar.

Perang Rusia vs Ukraina sejak pekan lalu membuat nama Abramovich terseret. Taipan berusia 55 tahun itu disebut masuk lingkaran Presiden Rusia Vladimir Putin, sosok yang dikecam atas perang yang sedang terjadi.

Abramovich langsung masuk daftar merah Pemerintah Inggris. Asetnya terancam dibekukan hingga dilarang tinggal di Inggris.

Situasi itu membuat Abramovich terdesak, sebab punya aset berupa klub yakni Chelsea. Awalnya, ia memilih mundur dari kepengurusan, sampai akhirnya memilih jalan terakhir, yakni menjual klubnya.

Rencana menjual klub diumumkan Abramovich pada Kamis (3/3/2022) dini hari WIB. Ia memilih melepasnya, agar Chelsea tak terseret pusaran perang Rusia vs Ukraina karena namanya.

Roman Abramovich sendiri memiliki Chelsea sejak 2003, usai membelinya dari Ken Bates seharga 140 juta paun. Abramovich langsung memperlihatkan gaya kepemilikan klub yang royal.

Fulusnya membuat Chelsea bisa membeli banyak bintang dan manajer top, kemudian bersaing dengan tim papan atas kala itu yakni Manchester United, Liverpool, serta Chelsea. Rentetan trofi juga bisa diraih, mulai dari lima gelar Premier League, 5 gelar Piala FA, 3 gelar Piala Liga Inggris, 2 Community Shield, 2 gelar Liga Champions, 2 Piala FA, dan sekali Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub.

Gaya kepemilikan Abramovich semasa di Chelsea rupanya menjadi trendsetter. Kekuatan uang Abramovich pada akhirnya membuat Liga Inggris makin kompetitif, sebab bintang-bintang top Eropa berdatangan, yang membuat klub Inggris bisa bersaing di level internasional.

Sebagai catatan, hampir dua dekade era Abramovich di Chelsea, klub-klub Inggris bisa mengumpulkan 5 trofi Liga Champions, yakni dua kali dari Liverpool, dua kali di Chelsea, dan sekali dari Manchester United.

Pada 2008, investor besar kembali masuk ke Inggris, saat Mansour bin Zayed Al Nahyan membeli Manchester City. Dengan cara yang sama seperti Abramovich, pengusaha Uni Emirat Arab itu juga membuat City jadi kekuatan baru di Inggris dan Eropa lewat guyuran uang, hal yang kemudian hampir menjadi syarat bagi pemilik klub jika ingin berprestasi.

Kini, Abramovich bakal meninggalkan Chelsea, dan tentunya Liga Inggris. Terlepas penyebab kepergiannya memang sesuatu yang tak bisa ditolerir, Abramovich dinilai sudah membuat warisan penting bagi Liga Inggris.

“Dia [Roman Abramovich] telah menjadi pemilik Chelsea selama 20 tahun, dan dari sudut pandang saya, saya sudah bicara secara terbuka tentang bagaimana saya menyambut tantangan ke elite bersejarah, yaitu Manchester United, Liverpool dan Arsenal,” kata Neville kepada Financial Times Football Business Summit.

“Uang baru ke Chelsea, Blackburn bertahun-tahun yang lalu ketika Jack Walker memasukkan uang, Leicester City memenangkan liga, Manchester City dan kekayaan Abu Dhabi, saya yakin kami adalah liga yang lebih kuat untuk itu, lebih kompetitif dan dikagumi di seluruh dunia,” katanya beberapa waktu lalu.

(yna/aff)

Leave a Reply

Your email address will not be published.