Hidup di era digital, menjadikan kehadiran gajet seolah sama pentingnya seperti nasi sebagai kebutuhan makanan pokok di dalam kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia. Siapapun merasa membutuhkan gajet untuk setiap aktivitas mereka. Di Indonesia, jumlah gajet mencapai 30 juta lebih banyak dari jumlah total populasi.

Tak ayal, dalam fungsinya, gajet kerap menjadi pelepas lelah bagi para orang tua yang pulang bekerja. Gajet juga mereka gunakan dalam kegiatan bekerja itu sendiri. Sayangnya, orang tua tidak dapat mengingkari, bahwa gajet kerap dijadikan sebagai ‘alat’ untuk ‘peredam’ saat anak-anak mereka sedang rewel, atau membiarkan ketika anak menghabiskan waktu mainnya dengan gajet, dengan alasan agar mereka anteng.

Di sisi lain, ada pula para orang tua yang menganggap bahwa gajet berbahaya bagi anak-anak mereka, terutama yang masih di bawah umur. Penggunaan gajet yang terhubung dengan terhubung dengan koneksi internet, tentu saja akan mengarahkan penggunanya untuk berselancar di dunia maya dengan bebas. Khawatirnya, anak-anak akan menemukan situs-situs yang tak layak dibuka oleh mereka.

Selain itu, efek kecanduan menggunakan gajet tentu saja menjadi salah satu ketakutan orang tua terhadap anak-anak mereka. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja terkadang terlena saat menggunakan gajet. Akhirnya, orang tua memilih untuk tidak memberikan gajet sama sekali kepada anak-anak mereka.

Lihatlah sisi lain dari manfaat gajet, bahwa perangkat tersebut dapat meningkatkan pengetahuan anak akan kemajuan teknologi. Gajet yang digunakan dengan semestinya, juga dapat mengasah kemampuan anak, misalnya saat menggunakan gajet untuk belajar membaca atau bernyanyi.

Sikap terpenting saat menghadapi anak-anak yang sudah mulai mengenal, memegang, atau meminta untuk dipinjamkan gajet milik orang tua ialah mendampingi dan menentukan batasan-batasannya. Hal tersebut harus dilakukan oleh orang tua mereka sendiri atau keluarga yang berada di dekat mereka. Sikap tersebut mampu semakin mendekatkan diri antara orang tua dan anak-anak mereka.

Poster & Instagram_Instagram

Kenalkan penggunaan gadget yang sehat dan bijak kepada anak

Kakatu, startup teknologi yang membuat aplikasi mobile parental control untuk gajet, menginisasi sebuah gerakan yang dapat dilakukan oleh setiap orang tua dalam mencegah anak-anak kecanduan gajet, yakni Gerakan Gadget Sehat (GGS).

Terkait hal itu, Kakatu akan menggelar Seminar Digital Parenting dengan tema Kiat-Kiat Memahami dan Melindungi Anak dari Bahaya Di Balik Kecanduan Games. Muhammad Nur Awaludin, Co-Fouder Kakatu akan menjadi pembicara pada seminar yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 Januari 2016 mendatang, di Gedung Auditorium Fakultas Kedokteran, Universitas Padjajaram, Bandung.

Selain itu, akan hadir juga Elly Risman, Psikolog, yang selama 25 tahun malang melingtang di dunia parenting. Sebagai ahli, Bunda Elly akan menjelaskan kronologis kecanduan permainan dalam gajet, dari perspektif ilmu psikolog. Bagaimana cara pengasuhan yang tepat yang dapat dilakukan orang tua.

Sedangkan Mumu, sapaan akrab, sendiri adalah seseorang ‘pejuang’ yang sempat mengalami kecanduan games selama lebih dari 10 tahun. Bahkan, ia pernah bermain selama 30 jam tanpa henti. Mumu akan menjelaskan bagaimana awal mulanya seorang anak bisa mengalami kecanduan games, apa penyebabnya, dan apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasinya.

GGS memiliki sebuah program, yaitu Heart Hour. Orang tua diharuskan melakukan kegiatan yang bersifat mendekatkan dan mengakrabkan kepada anak-anak mereka. Hal ini ditujukan untuk menciptakan rasa nyaman pada anak, saat mereka dibatasi penggunaan gajetnya, baik dari segi waktu maupun konten yang dimainkan anak, sesuai umurnya.

Mengenai usia penggunaan gajet, GGS menrapkan bahwa ada empat batasan waktu menggunakan gajet, sesuai usia anak. (1) Usia 0-2 tahun: tidak boleh sama sekali terpapar layar gajet maupun televisi; (2) usia 2-5 tahun: 15-20 menit per hari; (3) usia 6-10 tahun: 30-60 menit per hari; dan (4) usia >10 tahun: maksimal 2 jam per hari.

Setelah waktu menggunakan gajet abis, orang tua dan anak dianjurkan untuk saling bercengkrama. Siapapun juga dapat terlibat dalam gerakan ini, untuk dapat saling memberi inspirasi, obrolan, dan permainan apa yang bisa dilakukan tanpa gajet.

Dikatakan Mumu, ia berharap, “Setiap orang tua dapat langsung mengaplikasikan beberapa hal tentang aturan penggunaan gajet di dalam keluarga, sehingga manfaat gajet tetap dapat dinikmati. Selain itu, bahaya-bahaya penggunaan gajet juga akan terhindari.” (KA)