Leonika Sari Njoto Boedioetomo, atau lazim disapa Leo, memiliki prestasi membanggakan. Dalam usia 22, ia menjadi CEO dari Reblood, startup yang dapat mendorong orang aktif mendonorkan darahnya. Leo pun masuk jajaran daftar bergengsi “30 Top Asia” 2016, versi Forbes.

Hasil riset Departemen Kesehatan menyatakan, Indonesia saat ini memiliki kekurangan minimal satu kantong darah tiap tahun. Pada 2013 misalnya, kekurangan mencapai hingga 2,4 juta.

Berangkat dari fakta memprihatinkan itu,  Leonika Sari Njoto Boedioetomo atau lazim disapa dengan Leo ini, bersama teman-temannya tergerak membuat Reblood.

Sebuah startup yang menjadi solusi kongkrit permasalahan di atas, sekaligus untuk menyelamatkan hidup banyak orang.

“Kami memiliki mimpi di masa depan tak akan ada lebih banyak orang Indonesia meninggal karena persediaan kantong darah tidak tersedia,” jelas Leo.

Lebih jauh perempuan kelahiran 18 Agustus 1993 ini menjelaskan, tantangan utama untuk meningkatkan lebih banyak jumlah donor darah di Indonesia dengan menyelesaikan pertanyaan, “Mengapa begitu sulit bagi orang untuk menyumbangkan darah mereka secara rutin?”.

Faktanya, lebih dari 50% pendonor berasal dari usia produktif – berusia 17 hingga 40 tahun. Pergi ke unit pendonoran darah pada hari kerja hampir tak mungkin bagi mereka.

Ini sebabnya Reblood aktif  mempromosikan acara donor darah, sehingga orang dapat mudah menyumbangkan di mana saja – universitas, kantor, mall, dan tempat umum lainnya – serta kapan saja – baik hari kerja atau saat akhir pekan.

Selanjutnya, Reblood pun ingin mengurangi jumlah orang yang menolak untuk mendonorkan darah karena kurangnya pengetahuan soal kesehatan. Pasalnya, lebih dari 50% dari mereka yang ingin mendonorkan darahnya ditolak, karena tak dalam kondisi fit disebabkan kurang tidur dan pola makan tak teratur.

Reblood  membangun sistem aplikasi pengingat (reminder) melalui sms bagi calon donor yang sudah memiliki akun, sehingga mereka selalu menyiapkan kesehatan badan saat hari-H, momen pengambilan darah.

Di sisi lain, agar lebih memotivasi masyarakat menyumbangkan darah, Reblood pun mengonsepkan dengan sistem penambahan poin layaknya game bagi donor yang sudah menyumbangkan darahnya.

Jumlah poin nanti bisa ditukarkan dengan hadiah atau reward yang sudah ditentukan. ”Jadi, unsur sosialnya ada, fun-nya juga ada,” jelas Leo.

Tak sampai setahun setelah Reblood didirikan pada Januari 2015, tepatnya akhir Desember 2015, startup yang bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) ini mendapatkan apresiasi sebagai Top 3 Startup Sprint dari institusi Startup Surabaya dan EMTEK.

Tak hanya itu, atas sistem aplikasi Reblood yang dibuatnya, perempuan lulusan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), jurusan sistem informasi ini, terpilih serta masuk dalam daftar bergengsi “30 under 30” Forbes Magazine 2016, kategori Healthcare and Science.

Via Jawa Pos
Via Jawa Pos

Kini, startup yang Leo buat bersama teman-temannya semasa kuliah, telah bergabung dalam kegiatan Startup Surabaya, sebuah program inkubator teknologi untuk membantu meningkatkan tech entrepreneur generasi muda di Surabaya, Jawa Timur.

Bantuan yang didapat berupa ide-ide dari para mentor mengenai strategi pemasaran, validasi pasar, sampai tahap pembangunan dan pengembangan.

Baca halaman selanjutnya: Menembus Massachusetts Institute of Technology (MIT) Global Entrepreneurship Bootcamp, USA…