Oleh Hendy Setiono

Founder & Group CEO Baba Rafi Enterprise

Menjadi seorang wirausahawan merupakan pilihan yang berani, setidaknya itu menurut saya. Ketika akan memulai suatu usaha, biasanya akan muncul seribu satu pertimbangan dan keraguan dalam benak seseorang.

Mulai dari bingung usaha apa, kemudian berpikir tidak ada modal, sampai timbul keraguan walaupun usaha itu belum dibuka, ‘Bagaimana kalau nanti gagal?’, ‘Bagaimana kalau nanti tidak bisa bersaing?’, dan seterusnya.

Pada dasarnya, semua keraguan tersebut jika dilihat dari sudut pandang tertentu, dapat dikatakan cukup beralasan. Karena bagaimanapun, dalam berwirausaha kita harus siap dengan hasil dan tenggat waktu yang tidak bisa ditebak.

Tanpa passion, kerja keras, serta tekad yang kuat, usaha apapun yang kita tekuni memiliki kemungkinan yang kecil untuk bisa berhasil, terutama di saat-saat seperti ini, ketika ASEAN Economic Community (AEC) sudah berada di depan mata.

AEC atau yang lebih dikenal dengan nama Masyarakat Ekonomi Asia Tenggara, merupakan suatu era pasar bebas yang dengan diberlakukannya MEA pada akhir 2015 tersebut, negara anggota ASEAN akan mengalami aliran bebas barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja dari dan ke masing-masing negara.

Indonesia sendiri sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar, tentunya merupakan pasar yang sangat potensial bagi investor dari negara lain untuk memasarkan produk-produknya, dan tentunya persaingan pun akan menjadi semakin ketat.

Ya, ini menjadi semakin ‘menakutkan’, dan tentunya di era yang hypercompetitive ini, kita tidak bisa hanya ‘wait & see’. Untuk bisa tetap bertahan di tengah persaingan, dibutuhkan kreativitas yang tinggi, agar bisa tercipta sebuah inovasi baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Pada awal ketika berniat untuk membawa kebab ke Indonesia, saya memutuskan untuk belajar cara memasak kebab di gerai yang paling ramai di Qatar. Kenapa saya pilih yang paling ramai? Tentu saja saya berasumsi bahwa gerai yang paling ramai itulah, yang resep kebabnya paling enak dan paling digemari.

Saya pun membawa resep yang saya pelajari itu ke bisnis saya. Resep yang saya dapat tersebut, tentunya tidak serta merta saya pakai untuk membuat kebab yang akan saya jual di Indonesia. Sebab jika meniru resep kebab dari Timur Tengah begitu saja, padahal resep kebab dari Qatar rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat, sehingga tidak begitu disukai konsumen di Indonesia. Belum lagi ukurannya pun terlalu besar.

Oleh karena itu, untuk dapat menyesuaikan produk dan layanan dengan standar pasar, tentunya ada beberapa riset dan analisis yang dilakukan terkait produk dan karakter konsumen, kemudian melakukan modifikasi terkait rasa dan ukuran yang pas, supaya lebih familiar dan sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Baba Rafi juga melakukan pengembangan terhadap variasi menu yang awalnya hanya menawarkan menu kebab saja. Kemudian bertambah dengan menu lainnya seperti burger, syawarma, dan lainnya.

Bahkan sekarang kebab pun sudah memiliki banyak varian, yang terbaru sekarang adalah Frozen Kebab. Hal ini dilakukan untuk menilai potensi pasar dan mendapatkan acuan dalam membuat standarisasi produk dan layanan, agar produk kami dapat diterima.

Setelah semua proses tersebut berjalan lancar, maka langkah berikutnya adalah membuat standarisasi yang dituangkan dalam SOP, agar kualitas produk kami tetap terjaga. Selain inovasi produk, terdapat berbagai inovasi pada bidang lain yang diterapkan oleh Baba Rafi, misalnya penggunaan Point of Sales (POS) system, penerapan standar layanan, inovasi program pemasaran, dan berbagai program-program lainnya.

Kreativitas dan inovasi merupakan faktor kunci dalam mengembangkan bisnis. Proses dalam inovasi tidak harus mahal. Inovasi dalam usaha sebenarnya bisa dimulai dari hal yang sederhana, mulai dari produk, layanan, hingga sistem manajemen dan organisasi.

Perbanyak kebiasaan untuk menciptakan ide-ide baru, teruslah memacu kreativitas bisnis kita, agar selalu menampilkan ‘sesuatu’ yang baru dan inovatif. Sehingga pada akhirnya usaha kita akan selalu tetap menjadi yang terdepan.

Baca halaman selanjutnya: Beberapa tip agar bisnis kamu selalu kreatif dan inovatif di tengah ‘hypercompetitive era’…