Napi Terjangkit DBD, Dinas Tulungagung Fogging Ruangan Lapas


Tulungagung – Tim Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung melalukan upaya pengasapan atau fogging di Lapas Kelas II B. Itu setelah ditemukan satu kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Pengasapan dilakukan di seluruh ruangan lapas.

Tiga petugas dinkes yang dilengkapi peralatan fogging berkeliling di tujuh blok hunian lapas, sambil menyemprotkan asap untuk membunuh nyamuk dewasa. Pengasapan tersebut juga menyasar sejumlah fasilitas pendukung. Seperti masjid, bengkel kerja, hingga ruang pelayanan.

Kasi Kasi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Binadik Giatja) Lapas Kelas IIB Tulungagung, mengatakan kegiatan fogging tersebut sengaja dilakukan setelah salah satu warga binaan yang terkonfirmasi positif DBD dan harus menjalani perawatan di rumah sakit

“Awalnya itu ada satu warga binaan dari kasus miras yang sakit, setelah kami bawa ke RSUD dr Iskak ternyata positif DBD. Kemudian senin kemarin kami koordinasi dengan dinkes untuk meminta dilakukan pengasapan,” kata Imam Fahmi, Selasa (15/2/2022).

Sebelum di-fogging, petugas terlebih dahulu melakukan penyelidikan epidemiologi di sekitar lokasi. Guna memutus mata rantai penularan, akhirnya seluruh ruangan lapas dilakukan pengasapan.

Menurutnya, dengan pengasapan diharapkan dapat membunuh nyamuk dewasa yang menyebabkan DBD, sehingga jumlah warga binaan yang terjangkit demam berdarah tidak bertambah.

Sementara dokter Lapas Kelas II B Tulungagung dr Ahmad Hati Nurwanto, mengatakan guna menanggulangi penyebaran demam berdarah, pihaknya mengklaim terus melakukan upaya pembersihan lingkungan lapas. Mulai dari pengurasan bak mandi hingga pengelolaan sampah.

“Untuk bak mandi itu kami minta dibersihkan setiap hari, kemudian kami juga minta sampah difokuskan pada satu titik dan setiap hari dibuang. Sehingga tidak tidak menampung air hujan yang bisa mengakibatkan tumbuhnya jentik,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit pada Dinkes Tulungagung, Didik Eka membenarkan adanya fogging. Menurutnya temuan kasus DBD menjadi perhatian serius dari dinas kesehatan, sebab lingkungan tersebut dihuni oleh 694 napi dan tahanan.

“Iya, ini menjadi perhatian kami. Kondisi lingkungan yang padat memiliki risiko lebih besar terhadap penularan DBD, karena nyamuk akan mudah pindah tempat dan mencari sasaran lain,” kata Didik.

Diharapkan program fogging tersebut dapat memutus mata rantai penularan DBD. Namun pihaknya mengingatkan agar warga binaan terus melakukan gerakan 3M untuk meminimalisir munculnya DBD.

“PSN (pemberantasan sarang nyamuk) adalah kunci utama pencegahan DBD. Makanya jangan sampai lengah,” imbuhnya.

Simak Video “Kasus DBD di Tasikmalaya Meningkat Signifikan, 4 Orang Meninggal
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)

Leave a Reply

Your email address will not be published.