Dokter RS UNS Sampaikan Cara Mengenali Penyakit Jantung Bawaan Sejak Dini


UNS — Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka penderita penyakit jantung semakin meningkat di setiap tahunnya. Hal tersebut disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengenali penyakit jantung bawaan yang dialaminya.

Mengenai penyakit jantung, dr. Risalina Myrtha, Sp. JP., Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjelaskan mengenai kelainan penyakit jantung bawaan pada Live Streaming Instagram @rumahsakituns dan YouTube Rumah Sakit UNS pada Jumat (11/2/2022). Kelainan jantung bawaan merupakan salah satu kelainan struktural atau fungsional jantung yang dimiliki sejak lahir.

Kelainan jantung bawaan ini memiliki beberapa macam yang mudah dikenali, misalnya dari tingkat kekrisisannya dikenal dengan signifikan dan non-signifikan. Sebagai contoh keadaan kritis atau signifikan yang harus dikenali sejak dini dan harus dilakukan intervensi, yaitu adanya hambatan keluar dari jantung, terjadi penyempitan yang sifatnya signifikan keluar dari jantung, Hypoplastic Left Heart Syndrome (HLHS). Sedangkan untuk yang non-signifikan itu seperti, Atrial Septal Defect (ASD) dan Ventricular Septal Defect (VSD). Banyak klarifikasi secara anatomis, salah satunya fungsional biru gabungan dari berbagai kelainan dan tidak biru.

Mengenai apakah penyakit atau kelainan jantung bawaan ini dapat dilihat sejak usia dini, narasumber lain dr. Maria Galuh K. S, Sp. A, M. Kes, Dokter Spesialis Anak RS UNS mengatakan kelainan jantung bawaan itu bisa terjadi sejak lahir, bahkan ketika seseorang itu memeriksakan kandungannya bisa terdeteksi saat Ultrasonografi (USG). Gejala yang ditimbulkan jika memang itu sejak lahir bisa dengan nafas terengah-engah saat sedang disusui dan rasa kurang nyaman sehingga sering berhenti. “Namun jangan ketika bayi terengah-engah pasti penyakit jantung. Intinya itu salah satu gejala yang mesti harus kita perhatikan. Berat badan juga, yang tidak kunjung naik atau kenaikan berat badan itu tidak sesuai dengan rekomendasi,” ungkap dr. Galuh

Ditemui juga dalam praktek klinis, gejala lainnya adalah seringnya batuk pilek berulang, radang berulang yang mana setelah disingkirkan alergi dan dilakukan pemeriksaan ternyata adalah penyakit jantung bawaan, memang gejalanya bisa bermacam-macam.

Dari sisi penyebab atau faktor resiko kelainan jantung bawaan sebetulnya seringkali tidak diketahui atau mudah ditemukan. Tapi beberapa yang disebutkan ada faktor genetik, ada kelainan gen atau kromosom. Faktor risiko lain yang banyak disebutkan di buku-buku ialah adanya diabetes atau sakit gula, mengonsumsi alkohol dan rokok, penggunaan obat-obatan terlarang. Yang banyak dibahas itu penggunaan obat yang antipsikotik, lithium dapat mengakibatkan kelainan jantung bawaan pada bayi yang dikandung.

Paparan asap rokok seringkali tidak disadari bahwa rokok juga menyebabkan kelainan jantung bawaan. Banyak jurnal yang menyebutkan nikotin rokok mempengaruhi jika dihisap oleh seseorang yang mengandung. Terutama pada trimester pertama kehamilan, saat pembentukan jantung ini sangat bisa menimbulkan resiko ketidaksempurnaan anatomi dari jantung. Nikotin yang dihirup dapat menyebabkan kurangnya oksigen yang dihisap pada bayi dan penyerapan zat gizi penting dalam tubuhnya kurang baik sehingga sulit meningkatkan berat badan.

Selain infeksi sepsis, penyakit jantung bawaan kritis ini cukup tinggi. Itu bisa dideteksi menggunakan screening oximetry setelah bayi berumur 24 jam. Beberapa kasus memang asimtomatis dan beberapa gejala penyakit jantung bawaan baru terjadi pada usia dewasa. “Biasanya kalau wanita itu sedang hamil, kemudian ada gejala dan melakukan pemeriksaan ekokardiografi ternyata ada ASD yang tekanan parunya sudah tinggi perjalanan klinisnya secara hemodinamik itu lebih seperti tekanan lubang jantung kanan dan kiri, sehingga baru bisa terdeteksi di usia 30 atau usia sudah mengalami kehamilan,” jelas dr. Myrtha.

dr. Galuh menambahkan, gejala penyakit jantung bawaan itu memang ada yang bisa diketahui di awal saat bayi. Misalnya bayi lahir tidak langsung menangis, atau mungkin ada sesak yang berlebihan. Tetapi justru banyak penyakit jantung bawaan itu tidak bisa dideteksi di awal lahir. Jika kelahiran itu prematur langsung dilakukan pemeriksaan dari awal, baik itu rontgen atau ekokardiografi. Karena tidak selalu penyakit jantung bawaan berupa lubang atau kelainan sekat itu terdengar pada saat pemeriksaan seorang Dokter.

Terapi dan pengobatan penyakit jantung bawaan tergantung dengan kelainan yang dialami. Memang ada beberapa kasus lubang yang ukurannya kecil bisa menutup pada usia tertentu, namun jika belum tertutup dengan sendirinya bisa melalui bedah atau non-bedah dipasang seperti payung suntik. Untuk bisa dilihat ini bedah atau non-bedah, tergantung pada pemeriksaan lagi selain ekokardiografi dada, seperti ekokardiografi mulut, CT SCAN, maupun MRI.

Seorang anak yang sudah didiagnosis memiliki kelainan jantung bawaan tentunya harus tetap dipantau mengenai gejalanya bagaimana, setelah berdiskusi tegak diagnosis dekat dan letak lubangnya dimana, pengobatan dan terapinya seperti apa. Ada beberapa kelainan jantung yang diawal hanya memerlukan obat oral untuk meringankan gejala yang dialami, namun harus dengan pemantauan, terutama bagaimana tumbuh kembangnya. Paling mudah adalah pemantauan berat badan dan tinggi badan secara mandiri dan perhatikan pada grafik atau melalui aplikasi PrimaKu dari www.idai.or.id

Imunisasi yang diterima anak dengan kelainan jantung bawaan sama dengan anak-anak lainnya yang tidak memiliki kelainan jantung bawaan. Namun, yang perlu diperhatikan kondisinya saat menerima imunisasi tersebut. Kalau sedang bergejala berat, sebaiknya ditunda dulu menerima imunisasi yang virus hidup seperti BCG, polio, Measles and Rubella (MR), vaksin varicella, dan Japanese Encephalitis (JE). Humas UNS

Reporter: Erliska Yuniar Purbayani
Editor: Dwi Hastuti

Leave a Reply

Your email address will not be published.