WhatsApp Image 2018-08-18 at 17.16.36

H: AI memang bisa mengurangi workload dan memudahkan pekerjaan. Tapi apakah akan juga menggantikan peran manusia itu sendiri, ketika teknologinya sudah semakin canggih?

IR: Dalam waktu dekat mungkin belum. Karena tetap di banyak pekerjaan masih membutuhkan human touch.

H: Lantas keunggulan apa yang dimiliki manusia yang tidak akan tergantikan atau tergeser dengan adanya chatbot atau artificial intelligence?

IR: Manusia itu bisa berpikir kreatif, berpikir secara strategis. AI butuh data yang sifatnya jutaan untuk dia bisa membuat keputusan deep learning. Manusia jelas bisa lebih cepat berpikir. Memang ada AI yang sudah bisa berpikir seperti manusia, itu namanya artificial general intelligence (AGI). Tapi, untuk Indonesia, masih jauh untuk jalan ke sana. AI yang hadir hanya untuk memecahkan masalah yang sifatnya task base, yang dilatih untuk satu tugas. Belum bisa untuk jalanin perusahaannya.

H: Untuk jenis pekerjaan yang berhubungan dengan pelanggan, seperti customer service, berarti bisa tergantikan?

IR: Nyatanya masih banyak orang yang suka komplain lewat telepon. Mungkin bisa tergantikan tapi, itu masih sangat lama.

H: Kalau AI bisa menggantikan pekerjaan manusia, apa yang harus manusia lakukan untuk survive?

IR: Walaupun AI menggantikan pekerjaan manusia, tapi di satu sisi juga bisa menghadirkan potensi jenis-jenis pekerjaan baru. Coba kalau kita lihat dari perkembangan teknologi yang ada saja. Dulu, tidak ada bidang pekerjaan social media strategist, misalnya. Atau pekerjaan android developer.

Nantinya, kehadiran AI justru bisa menghasilkan pekerjaan-pekerjaan baru yang nggak kalah banyaknya. Contohnya pekerjaan baru seperti Data Trainer. Jadi agar AI ini memiliki experience yang bagus, perlu ada yang melatihnya melalui data percakapan.

Contoh pekerjaan baru lainnya adalah conversation designer atau interaction designer. Mungkin selama ini kita pikir desainer itu yang berkaitan dengan visual, tapi ternyata bisa untuk membuat conversation experience yang nggak semua orang bisa membuatnya. Karena untuk membuat pengalaman berbicara ini harus memahami psikologi manusia. Bagaimana manusia bercakap-cakap, seberapa panjang kalimatnya, kata-kata apa yang dipilih, dan semacamnya.

H: Apakah sudah banyak Conversation Designer di Indonesia sejauh ini?

IR: Belum banyak. Tapi kami punya di sini. Ini akan jadi tren baru ke depannya.

Next: Apakah AI bisa menggantikan peran sebagai pasangan bagi manusia?