Kata.AI adalah conversational AI platform yang berdiri pada tahun 2016. Sebelum menjadi Kata.AI, perusahaan ini bernama YessBoss, yang menyediakan layanan asisten pribadi via SMS dan aplikasi chatting untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari memesan kendaraan, makanan, tiket, dan lain sebagainya.

Hanya saja menurut Irzan Raditya, CEO dan Co-founder Kata.AI, untuk bisa lebih scalable, dibutuhkan adanya artificial intelligence. Karena itu bergantilah Yesboss menjadi Kata.AI. Kepada Hitsss, Irzan menceritakan tentang peluang dan potensi artificial intelligence (AI) di Indonesia untuk masa sekarang, dan masa depan.

Hitsss (H): Sebagai platform yang menciptakan percakapan berbasis AI, Kata.AI ini lebih merancang chatbot untuk perusahaan, ya?

Irzan Raditya (IR): Ya. Karena chatbot ini bisa meningkatkan pekerjaan, sekaligus juga empower people. Banyak yang membutuhkannya di industri. Terutama industri yang melibatkan banyak interaksi antara konsumen dengan pebisnis, seperti perbankan, e-commerce, retail, telekomunikasi dan semacamnya.

Jadi, Kata.AI sebagai conversational AI platform mendesain tools untuk software developer agar mereka bisa membuat chatbot berbahasa Indonesia dengan mudah dalam waktu yang lebih singkat.

Contohnya, tahun lalu kami kerja sama dengan Accenture, perusahaan konsultasi system integrator. Mereka “menjahit” chatbot untuk Telkomsel menggunakan platform kami. Jadi, yang kami sediakan adalah tools-nya, sehingga mereka bisa mengembangkan chatbot 5 kali lebih cepat dari sebelumnya.

Karena kami pernah ngobrol dengan software developer, untuk membuat chatbot berbasis machine learning dan berbahasa Indonesia bisa makan waktu 4 – 6 bulan. Hanya untuk satu fungsi chatbot. Dengan kami bisa selesai hanya dalam waktu dua minggu.

H: AI di Indonesia sendiri, sekarang lebih banyak dikembangkan untuk chatbot atau juga sudah banyak yang merambah ke hal lain?

IR: Banyak yang sudah digunakan untuk hal lainnya juga. Hanya saja kalau kita bandingkan dengan China atau Amerika mungkin kita masih jauh. Tapi, potensinya jelas banyak. Beberapa startup di Indonesia sudah menggunakannya. Contohnya, Nodeflux mereka menggunakan AI untuk video analytics di CCTV jalan, jadi ada objek apa saja yang lewat bisa terbaca dengan jelas.

Atau Hara, mereka juga memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan agrikultur. Ada juga Cekmata.com, mereka menggunakan AI untuk mendeteksi apakah seseorang ada potensi katarak atau tidak. AI di Indonesia punya potensi yang jelas besar ke depannya.

H: Ada berapa klien yang sudah ditangani oleh Kata.AI dan untuk keperluan apa saja?

IR: Ada lebih dari 20 klien. Untuk perusahaan besar ada Telkomsel, Unilever, Alfamart, Bank BRI, dan banyak lagi yang lainnya. Telkomsel dan BRI untuk customer support, karena perusahaan telekomunikasi dan perbankan banyak sekali melakukan interaksi bisnis dengan customer-nya. Setelah berjalan 8 bulan, mereka bisa memangkas beban kerja dari customer agent support sampai 80 persen.

Jadi, bukan memangkas pekerjanya. Justru kita membantu mereka agar mereka bisa fokus hanya pada masalah yang perlu penangangan lebih lanjut. Sementaranya yang sifatnya repetitif, biarkan chatbot saja yang mengerjakan.

Chatbot bukan cuma memangkas biaya, tapi juga bisa untuk meningkatkan penjualan. Contohnya, Telkomsel dengan chatbot bernama Veronica, bisa digunakan untuk membeli pulsa. Karena Telkomsel punya 10 juta lebih pelanggan yang terhubung di media sosial mereka, ini jadi bentuk sumber pemasukan baru secara langsung. Chatbot ini juga bisa paham dari mulai bahasa sehari-hari, hingga ke singkatan-singkatan.

Next: Akankan Artificial Intelligence menggantikan pekerjaan manusia?