Kala berbicara karakter imajinatif yang menjadi ikon dari Indonesia, kita mungkin masih belum bisa move on dari Unyil atau Si Komo. Tapi betulkah hanya itu kreasi kita?

Padahal bukan berarti kreator Indonesia tidak kreatif atau minim ide, hanya saja bentuk apresiasi masyarakat bisa dibilang belum tinggi pada kreator dalam negeri. Belum ada komik Indonesia yang digilai seperti One Peace, contohnya, atau game Indonesia yang sukses seperti Angry Bird.

Lebih jauh lagi jika kita bicara animasi, di mana kebanyakan penonton masih lebih senang menonton animasi buatan Disney atau Pixar. Apresiasi dari penikmat tentunya menjadi pemantik bagi produktivitas kreator. Namun minimnya apresiasi tak dimungkiri, masih menjadi masalah di Indonesia.

Masih dari acara IDEAFest 2015 di sesi IDEATalks “Let’s Disrupt Indonesian Animation” di Jakarta Covention Centre, Wahyu Aditya, pendiri HelloMotion Academy mengatakan bahwa Indonesia mengalami defisit karakter imajinatif.

“Untuk menjadi kreator, Sebaiknya kita mengawali diri dari menjadi prosumer. Prosumer berada di antara produsen dan konsumen. Orang yang dinamis dan penuh eksperimen. Jadi tidak takut untuk mencoba membuat sesuatu yang baru,” ujar Adit sapaan akrab Wahyu Aditya. Adit sendiri sudah membuat karakter Cican, kelinci lucu berponi mangkok sebagai karakter yang melengkapi sarana belajar anak-anak, melalui cerita yang memuat nilai-nilai positif yang dapat didongengkan kepada anak-anak.

Salah satu komik strip Cican yang dibuat berdasarkan cuitan lucu yang di-mention ke @funcican (Foto: Dok. Fun Cican)
Salah satu komik strip Cican yang dibuat berdasarkan cuitan lucu yang di-mention ke @funcican (Foto: Dok. Fun Cican)

Patrick Effendy, pendiri dan CEO Visual Expert Production, juga berupaya membangun karakter imajinatif yang disukai anak-anak melalui Plentis Kentus. Karakter ini lahir dari inspirasi Patrick yang membentuk grup musik CJR (dulu Cowboy Junior).

Melihat animo anak-anak yang begitu besar terhadap sosok CJR dan terus bergesernya usia personilnya, maka Patrick memutuskan untuk membuat animasi yang memanfaatkan kekuatan pemasaran di anak-anak. Plentis Kentus merupakan dua sahabat yang sekolah di SD Fajar Pagi Membentang di desa Cahaya Nur.

Keduanya saling melengkapi dan mereka ingin menjadi penyanyi terkenal. Mereka pun meng-cover lagu CJR, dan dalam ceritanya Patrick Effendy menyukai mereka setelah melihat video mereka dan menyiapkan mereka menjadi idola baru di bawah naungan Sony Music. Kurang lebih tidak terlalu jauh berbeda dengan para personil CJR yang berawal dari anak-anak biasa yang memiliki bakat menyanyi.

Plentis Kentus bernyanyi berkolaborasi dengan CJR (Foto: Dok. Patrick Effendy)
Plentis Kentus bernyanyi berkolaborasi dengan CJR (Foto: Dok. Patrick Effendy)

“Mereka sudah mengeluarkan single pertama berjudul Selfie. September 2015 ini, mereka akan meluncurkan album perdana dan melakukan tur konser dan akan tersedia aneka merchandise-nya. Kemarin di acara Suroboyo Night Carnival, mereka tampil di panggung bernyanyi bersama para personil CJR, dan penonton pun menyaksikannya dengan antusias,” ujar Patrick.

Dalam menciptakan karakter imajinatif bagi anak-anak, penting untuk melibatkan partisipasi publik. Lebih dari itu, selain menjadi sahabat imajinatif, karakter ini harus juga edukatif. Yang jelas kontennya harus aman bagi anak-anak. Dua karakter Plentis dan Kentus yang dibuat Patrick ini, disiapkan tidak hanya untuk berjaya di Indonesia tapi juga merambah pasar Asia.

Wahyu Aditya ketika menciptakan karakter Cican juga mempertimbangkan banyak hal. Tak heran pada awalnya sebelum menjadi Cican yang seperti sekarang, telah melewati beberapa transformasi terlebih dahulu. “Karena saya inginnya Cican ini mudah ditiru gambarnya oleh anak-anak, dan mudah diaplikasikan dalam aneka format media, seperti kertas, tiga dimensi seperti lego, maupun animasi,” kata Adit. (AR)