Joshua Simandjuntak, Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), memaparkan pencapaian dan target Bekraf terkait pemasaran produk dan jasa ekonomi kreatif di pasar dalam negeri dan luar negeri.

Dibentuk tahun 2015, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memiliki tanggung jawab terhadap pengembangan dan pengelolaan ekonomi kreatif Indonesia. Kreativitas telah menjadi salah satu kunci masa depan ekonomi dunia. Banyak negara maju yang sudah fokus pada industri kreatifnya karena kreativitas telah melampaui komoditas. Di sinilah peran Bekraf, meningkatkan kualitas produk dan jasa ekonomi kreatif hingga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di dalamnya.

Terdapat 16 subsektor ekonomi kreatif yang dikelola oleh Bekraf. Subsektor itu adalah aplikasi dan pengembang permainan, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

Hitsss berkesempatan melakukan wawancara ekslusif dengan Joshua Puji Mulia Simandjuntak, Deputi Pemasaran Bekraf tentang bagaimana membawa produk ekonomi kreatif Indonesia mendunia, bersinar di pasar global dan sekaligus menjadi primadona di negeri sendiri. Kepada Hitsss, ia menjelaskan tentang potensi besar yang dimiliki Indonesia serta tantangan yang harus ditaklukkan.

Hitsss (H): Deputi Pemasaran Bekraf membawahi dua direktorat, yakni pengembangan pasar dalam negeri dan pasar luar negeri. Apa yang menjadi tantangan di dua bidang tersebut?

Joshua Simandjuntak (JS): Masing-masing punya tantangannya sendiri. Tantangan pasar dalam negeri adalah bagaimana meningkatkan penyerapan produk dan jasa kreatif dalam negeri. Kami ingin semakin banyak konsumen Indonesia yang menggunakan produk dan jasa kreatif dalam negeri. Karena persaingannya dengan produk luar belum imbang.

Tapi, ada yang menarik dari Stellar Fest kemarin (pameran dan festival musik yang berlangsung di Istora Senayan Jakarta, 9 – 13 Mei 2018). Ada satu brand yang namanya Thanksinsomnia. Sebelum booth-nya dibuka, sudah banyak anak muda yang rela panas-panasan mengantre panjang untuk bisa beli produknya. Bayangkan untuk Thanksinsomnia aja mereka bisa jual hingga Rp 300 – Rp 400 juta sehari. Anak-anak muda ini loyal sekali dengan brand tersebut. Kenapa? Karena brand lokal seperti ini dianggap mewakili mereka dan harganya juga terjangkau.

Walau begitu, masih banyak yang belum sampai seperti itu. Karena meningkatkan penyerapan produk itu tidak semata memperbaiki kualitas produk. Produk luar negeri bisa saja tidak lebih bagus. Hanya saja mereka punya strategi branding yang bagus. Karena itu penyerapan produk dalam negeri ini perlu ditingkatkan, salah satunya dengan mendidik konsumen itu sendiri. Tugas kamilah di Bekraf untuk meningkatkan awareness tersebut.

H: Itu tantangan tentang mengembangkan pasar di dalam negeri, bagaimana dengan tantangan mengembangkan pasar luar negeri?

JS: Produk kita sudah mampu bersaing di pasar global. Tapi untuk bisa masuk dan diperhitungkan perlu ada keberanian dari pengusaha lokal kita sendiri. Produknya harus punya kekuatan atau keunikan lebih untuk bisa dipilih orang dibanding produk-produk global lainnya. Harus ada karakter unik Indonesia yang tidak bisa ditiru negara lain.

Seperti kopi misalnya. Komoditas kopi kita sudah mendunia. Kita negara terbesar keempat pengekspor biji kopi ke dunia. Kopi Indonesia itu sudah ada di mana-mana. Tapi coba kalau kita ke luar negeri, ada tidak kafe atau kedai kopi Indonesia? Ini absurd. Starbucks itu mendunia, padahal Amerika bukan negara penghasil kopi. Kopi-kopi Indonesia itu dikemas menjadi brand luar. Jadi nilai tambahnya ada di mereka, bukan di kita.

Ironi, meski kita negara penghasil kopi yang besar, tapi tidak ada perusahaan kedai kopi yang bisa sebesar Starbucks.

H: Bekraf memberangkatkan 5 brand lokal Indonesia ke Agenda Show di Amerika pada akhir Juni ini. Apakah memang potensi streetwear ini juga sangat besar?

JS: Streetwear ini semacam movement sejak tahun 1990-an. Berkaitan dengan berjayanya pop culture dari mulai musik, skate, dan lain sebagainya. Sempat lesu tapi bergairah kembali ketika kreativitas menjadi “motor” yang menggerakan movement ini.

Kami telah membuka pendaftaran dan melakukan kurasi, kemudian terpilih lima brand. Elhaus, Paradise Youth Club, OldblueCo, Monstore dan Potmeetspop. Mereka itu telah dikurasi dari 121 brand yang mendaftar ke kami. Tujuan mereka ke Agenda Show untuk membuka potensi pasar baru. Bertemu dengan distributor dan mitra bisnis potensial. Kami ingin lihat bahwa brand Indonesia hadir dan diperhitungkan di pasar dunia.

via bekraf.go.id
Bekraf dukung 5 brand lokal di pameran streetwear terbesar Agenda Show, Amerika Serikat (Foto: bekraf.go.id)

Tahun 2016, kami pernah buat pop up store di London dengan menggandeng 5 desainer Indonesia, yakni Peggy Hartanto, Major Minor, Sean and Sheila, Toton dan ByVelvet. Mereka tampil di Fenwick Department Store London. Tepatnya di daerah New Bonds Street yang dikenal dengan daerah pertokoan barang bermerek di Inggris. Dan ternyata antusiasme orang di sana luar biasa.

Saat itu target tiap brand dalam empat minggu bisa mendapat 20 ribu Pound sterling dan ternyata hanya dalam satu setengah minggu sudah mencapai 18 ribu Pound sterling. Sampai mereka harus restock barang lagi. Itu membuktikan bahwa potensi kita luar biasa. Yang kami dorong adalah bagaimana membangun ekosistemnya, tidak hanya sekadar pameran kemudian selesai begitu saja dan tidak ada kelanjutannya.

5 brand desainer fashion Indonesia di Fenwick, London, tahun 2016. (Foto: design.britishcouncil.org)
5 brand desainer fashion Indonesia di Fenwick, London, tahun 2016. (Foto: design.britishcouncil.org)

Nanti kami coba lagi di Singapura dengan brand yang berbeda juga. Di acara selebrasi kerja sama 50 tahun Indonesia dan Singapura. Rencananya akan ada pop up store lagi di bulan Agustus – September 2018. Sekarang proses kurasinya sedang berjalan.

Next: Subsektor prioritas dan unggulan Bekraf