Para Peminat Sejarah Lokal Bersatu di Kompas Madya


KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kompas Madya resmi terbentuk 2012 silam. Awalnya, para anggotanya biasa berinteraksi di grup Historia van Madioen di Facebook. Misinya adalah mengenalkan sejarah dan melestarikan cagar budaya lokal Madiun.

Kegiatan blusukan mencari bukti-bukti sejarah untuk kemudian diteliti bersama menjadi agenda rutin komunitas tersebut. Mulai artikel, arsip nasional, peta Belanda, manuskrip alias naskah kuno, hingga prasasti menjadi buruan mereka. ‘’Anggota menggali informasi sedalam mungkin, hasilnya dibahas bersama di base camp,’’ kata Ketua Kompas Madya Septian Dwita Kharisma, Selasa (15/2).

Tak jarang anggota Kompas Madya menghadapi kendala saat menemukan bukti prasasti dengan tulisan aksara Jawa kuno. Sebab, tidak semuanya memiliki kemampuan menafsirkan bukti sejarah tersebut. ‘’Solusinya, kami menggandeng beberapa orang yang concern pada aksara Jawa kuno,’’ ujarnya. ‘’Kami juga mengadakan kursus baca-tulis aksara Jawa kuno,’’ imbuh Septian.

Kepedulian Kompas Madya pada sejarah dan cagar budaya lokal Madiun berbuah sejumlah prestasi. Di antaranya, juara II lomba penulisan sejarah lokal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur 2021. Selain itu, menjadi kontributor buku trilogi terbitan salah satu penerbit ternama. ‘’Saat ini kami sudah menyiapkan karya untuk diikutkan lomba,’’ sebut pria 26 tahun itu.

Kompas Madya saat ini sedang terlibat sejumlah project penelusuran sejarah. Di antaranya, menguak nama jalan pada masa kolonial dan sejarah persepakbolaan Madiun di era Belanda. ‘’Madiun itu kaya sejarah, eman-eman kalau nggak ada yang tahu,’’ tuturnya.

Kompas Madya tidak memberi batasan tertentu bagi peminat sejarah yang berniat gabung. Baik terkait usia maupun jenjang pendidikan. ‘’Yang penting ada minat dan ingin melestarikan sejarah,’’ kata Septian. (ggi/isd/c1/her)

KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Kompas Madya resmi terbentuk 2012 silam. Awalnya, para anggotanya biasa berinteraksi di grup Historia van Madioen di Facebook. Misinya adalah mengenalkan sejarah dan melestarikan cagar budaya lokal Madiun.

Kegiatan blusukan mencari bukti-bukti sejarah untuk kemudian diteliti bersama menjadi agenda rutin komunitas tersebut. Mulai artikel, arsip nasional, peta Belanda, manuskrip alias naskah kuno, hingga prasasti menjadi buruan mereka. ‘’Anggota menggali informasi sedalam mungkin, hasilnya dibahas bersama di base camp,’’ kata Ketua Kompas Madya Septian Dwita Kharisma, Selasa (15/2).

Tak jarang anggota Kompas Madya menghadapi kendala saat menemukan bukti prasasti dengan tulisan aksara Jawa kuno. Sebab, tidak semuanya memiliki kemampuan menafsirkan bukti sejarah tersebut. ‘’Solusinya, kami menggandeng beberapa orang yang concern pada aksara Jawa kuno,’’ ujarnya. ‘’Kami juga mengadakan kursus baca-tulis aksara Jawa kuno,’’ imbuh Septian.

Kepedulian Kompas Madya pada sejarah dan cagar budaya lokal Madiun berbuah sejumlah prestasi. Di antaranya, juara II lomba penulisan sejarah lokal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur 2021. Selain itu, menjadi kontributor buku trilogi terbitan salah satu penerbit ternama. ‘’Saat ini kami sudah menyiapkan karya untuk diikutkan lomba,’’ sebut pria 26 tahun itu.

Kompas Madya saat ini sedang terlibat sejumlah project penelusuran sejarah. Di antaranya, menguak nama jalan pada masa kolonial dan sejarah persepakbolaan Madiun di era Belanda. ‘’Madiun itu kaya sejarah, eman-eman kalau nggak ada yang tahu,’’ tuturnya.

Kompas Madya tidak memberi batasan tertentu bagi peminat sejarah yang berniat gabung. Baik terkait usia maupun jenjang pendidikan. ‘’Yang penting ada minat dan ingin melestarikan sejarah,’’ kata Septian. (ggi/isd/c1/her)

Leave a Reply

Your email address will not be published.