Menguak Fakta Sejarah Kolonial di Balik Underpass Sriwijaya


Cimahi – Beberapa hari lalu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meresmikan sebuah underpass di Kota Cimahi. Underpass itu disebut menjadi yang pertama dimiliki kota yang dikenal sebagai kota militer itu.

Namun, ternyata Cimahi bukan kali ini saja memiliki underpass. Seakan dejavu, rupanya sebuah underpass pernah dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan, lokasinya tidak jauh dari underpass yang kini berdiri.

Meski tidak sebesar dan seluas sekarang, underpass ini nyatanya eksis pada periode akhir abad 19-an.

Alkisah diperkirakan pada akhir abad 19 menuju awal abad 20-an, rumah sakit militer atau militare hospital berdiri pada 1887. Rumah sakit ini, yang kemudian hari menjadi RS Dustira, menjadi tempat dirawatnya sejumlah tentara Hindia Belanda yang terluka akibat perang.

Ketika itu, akses menuju militare hospital harus melewati perlintasan kereta api. Namun, sering kali kendaraan ambulans yang membawa pasien selalu terjebak macet ketika akan melintas.

Penampakan Underpass Sriwijaya, Kota CimahiPenampakan Underpass Sriwijaya, Kota Cimahi Foto: Muhammad Iqbal/detikcom

Akhirnya, pemerintahan ketika itu memutuskan untuk membuat sebuah jalan yang melintasi bawah rel kereta api atau yang dikenal underpass. Jalan tersebut mengarah langsung ke militare hospital.

“Jadi setelah melihat atau pengalaman ketika mengangkut pasien dan terpaksa harus keliling. Mungkin idenya bermula dari itu, sehingga underpass dibuat,” tutur pengiat sejarah dari Tjimahi Heritage Machmud Mubarok.

Underpass tersebut terbukti memudahkan ambulans untuk menghindari kemacetan ketika palang pintu rel kereta ditutup.

Machmud mengatakan, lokasi underpass tersebut berada tidak jauh dari lokasi underpass yang baru saja dibangun. Underpass tersebut bersisian pula dengan sungai.

“Mereka sudah terpikir untuk membuat jalan alternatif di samping kereta api yang bersisian dengan sungai dan nembus ke militer hospitel atau RS dustira sekarang,” tuturnya.

Namun, kini underpass itu sudah tidak difungsikan kembali. Bahkan, kata Machmud, jalan tersebut telah ditutup dan tidak dapat dipakai kembali. Selain itu pula, yang melintasi bawah rel kereta itu kini sudah layaknya terowongan air.

“Persoalannya tidak diperhitungkan dan malah ditutup underpass lama itu. Dan kita tidak bisa melihat secara jelas seperti apa karena seperti terowongan air saja,” ungkapnya.

Rupanya, ide itu pun diadopsi kembali oleh Pemerintah Kota Cimahi saat ini. Namun, sedikit berbeda, kini keperluannya untuk kendaraan umum yang melintas dari Jalan Dustira menuju Jalan Sriwijaya.

Pasalnya, jumlah kendaraan yang melintas di jalan tersebut sering terjebak macet panjang jika palang pintu rel kereta api ditutup.

“Dan ternyata, infrastruktur Belanda ini diikuti oleh pemerintah Cimahi sekarang namun dengan model yang lebih besar,” ungkapnya.

Kini, underpass dengan panjang lebih dari 600 meter itu mulai dapat digunakan. Proyek tersebut ditaksir menelan anggaran sekitar Rp 84 miliar yang berasal dari bantuan Provinsi Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sebelumnya menyampaikan bahwa Underpass Sriwijaya dapat memperlancar arus kendaraan. Selain itu, proyek tersebut dinilai genting di tengah akan dioperasikannya Kereta Cepat Jakarta – Bandung di tahun depan.

“Underpass ini akan membuat kelancaran bagi arus penumpang barang dan ekonomi masyarakat Cimahi. Tidak ada lagi di sini bersilangan dengan kereta api,” ucapnya, beberapa pekan lalu (22/2).

Selain itu, dirinya pun berharap agar warga Kota Cimahi dapat merawat dengan baik Underpass Sriwijaya tersebut.

Simak Video “Geliat Produksi Senapan Angin di Cileunyi, Bertahan di Kala Pandemi
[Gambas:Video 20detik]
(yum/bbn)

Leave a Reply

Your email address will not be published.