Janganmati di Gunungkidul, Seperti Apa Sejarah Pedukuhan Ini?


Gunungkidul – Salah satu pedukuhan (dusun) di Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, memiliki nama yang unik, yaitu Janganmati. Seperti apa sejarahnya?

Berlokasi 73 kilometer dari jantung Kota Jogja, akses menuju Pedukuhan Janganmati terbilang sulit. Mengingat, hanya ada jalan cor blok dan itu menjadi satu-satunya akses menuju Janganmati.

Sesampainya di Janganmati, detikJateng langsung disambut suasana sepi dan sunyi. Selain itu, tampak beberapa orang berjalan kaki menyusuri jalan cor blok. Tampak pula beberapa warga lalu-lalang menggunakan motor.

Tak hanya itu, ada pemandangan menarik di Janganmati, yakni banyaknya tiang dari kayu maupun bambu yang ujungnya tertutup bekas wadah kue kering dari bahan plastik. Ternyata isi wadah tersebut adalah penangkap sinyal internet. Tampak pula tiang antena TV yang terpasang di atas pohon-pohon.

Dukuh Janganmati, Irna Widayanti, menjelaskan sejarah nama pedukuhannya. Menurutnya, nama tersebut sudah digunakan sejak lama.

“Jadi untuk sejarah itu (nama Janganmati) kalau saya pribadi meski saya Dukuh di sini tidak begitu menguasai,” kata Irna saat ditemui di rumahnya, Pedukuhan Janganmati, Minggu (16/1/2022).

Kendati demikian, Bu Dukuh mengungkapkan bahwa para sesepuh pernah menyebut penamaan Janganmati berhubungan dengan penemuan hewan mati. Sehingga nama pedukuhan tersebut bukan berhubungan dengan banyaknya warga yang meninggal dunia.

“Kalau dari sesepuh Pedukuhan, kenapa dinamakan Pedukuhan Janganmati karena zaman dahulu, puluhan atau mungkin ratusan tahun lalu, di ladang sebelah timur Pedukuhan ini ada menjangan (rusa) yang mati,” ucapnya.

“Kemudian para orang tua menamakan Pedukuhan ini Pedukuhan Janganmati. Jadi Jangan-nya itu Menjangan,” ujarnya Irna.

Pedukuhan (Dusun) di Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul ini bernama Janganmati.Pedukuhan (Dusun) di Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul ini bernama Janganmati. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng

Soal keunikan Janganmati, menurutnya tidak ada yang menonjol. Pedukuhan Janganmati dihuni 33 Kepala Keluarga (KK) dan hanya terdiri dari 2 rukun tetangga (RT).

“Untuk saat ini di Pedukuhan Janganmati ada 33 KK dengan jumlah mencapai 142 jiwa. Sedangkan untuk RT di sini hanya ada 2 RT saja, yakni RT 1 dan RT 2,” ucapnya.

Irna juga bercerita sebagian besar masyarakat di Janganmati bekerja sebagai petani. Sementara yang bekerja sebagai pegawai atau karyawan swasta terbilang sangat sedikit.

Terlepas dari nama Pedukuhan Janganmati, Irna mengungkapkan banyaknya kendala di Janganmati. Seperti halnya masalah sinyal internet, telepon seluler hingga air bersih.

“Kalau untuk di sini kendalanya banyak, pertama kalau sinyal (internet dan seluler) jelas. Kalau kita mau mencari informasi apapun melalui HP itu kita harus ke tempat yang tinggi dulu,” ujarnya.

“Selanjutnya kaitannya dengan air juga. Jadi mungkin karena di pedalaman banyak faktor yang membuat kita itu ketinggalan dari pedukuhan yang lain,” imbuh Irna.

Tak hanya itu, Irna bercerita soal sulitnya menikmati tayangan dari stasiun TV tertentu.

“Untuk TV saja sulit, hanya beberapa channel saja yang bisa dijangkau. Bahkan saat nonton bola itu pernah TV-nya ditaruh luar dan antenanya harus dipasang di tempat yang tinggi sekali, 20 meteran lah kalau tidak salah,” ujarnya.

“Kenapa? Agar sinyal stasiun TV yang menayangkan bisa ditangkap antena. Kalau sudah dapat nanti kita bisa menonton bersama-sama dengan tetangga,” lanjut Irna.

Sedangkan untuk listrik, Irna mengaku baru dijangkau PLN pada 2011. Sebelumnya, warga swadaya memanfaatkan kabel panjang untuk menjangkau aliran listrik dari Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul.

“Listrik tahun 2011 baru masuk ke sini. Sebelumnya nggantol (swadaya mendapatkan listrik) di kampung sebelah dengan menggunakan 16 roll kabel listrik itu,” imbuhya.

Simak Video “Wabah Antraks Merebak di Gunungkidul, Puluhan Warga Diduga Tertular
[Gambas:Video 20detik]
(rih/dil)

Leave a Reply

Your email address will not be published.