Dipakai Dakwah sampai Mempertahankan Kemerdekaan


Jakarta – Video Ustaz Khalid Basalamah bertajuk Wayang Haram menuai berbagai reaksi. Video ini diunggah sekitar setahun lalu oleh Yarif TV. Namun, kini sudah tidak dapat diakses.

Sebagaimana diberitakan oleh detikjateng (https://www.detik.com/jateng/berita/d-5942655/reaksi-akademisi-seniman-soal-video-wayang-haram-khalid-basalamah), kontroversi ini bermula ketika Khalid Basalamah mengatakan agar para dalang bertobat dan wayang dapat dimusnahkan. Sebelum mengatakan ini, seorang audiens menyampaikan bahwa dirinya menyukai kesenian tersebut dan bertanya bagaimana bertobat dari profesi dalang.

“Kalau masalah taubat ya taubat nasuha kepada Allah SWT dengan tiga syarat yang sudah kita tahu, meninggalkan dosa dosa, menyesal dan janji sama Allah tidak mengulanginya dan kalau dia punya (wayang) maka lebih baik dimusnahkan, dalam arti kata ini lebih baik dihilangkan,” ujar Khalid.

Menelusuri kembali perkembangan wayang, akademisi mengatakan kesenian tersebut sebetulnya sudah ada sejak zaman animisme dan dinamisme.

Wayang: dari Animisme, Dakwah, sampai Mempertahankan Kemerdekaan

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Sugeng Nugroho menyampaikan, wayang sudah ada sejak zaman prasejarah.

“Jelas wayang itu sudah digunakan para wali untuk dakwah Islam. Meskipun sebenarnya wayang sudah ada sejak zaman animisme-dinamisme,” ungkap Sugeng (14/02/2022), seperti diberitakan oleh detikjateng.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia, wayang digunakan untuk menyebarkan ajaran tersebut karena mudah diterima. Kesenian tersebut pun dimanfaatkan kembali dalam masa penyebaran agama Islam.

“Kemudian wayang digunakan untuk menyebarkan agama karena mudah beradaptasi. Ketika Hindu masuk, dipakai Hindu. Karena sudah mengakar di hati masyarakat Jawa, maka itu dipakai para wali. Dan itu berhasil,” imbuh Sugeng.

Pada periode Wali Songo, akhirnya banyak tokoh yang disesuaikan dengan Islam. Sebagai contoh, Dewa Siwa, Brahma, dan Wisnu diadaptasi menjadi keturunan Nabi Adam.

Ketua Dewan Kesenian Solo (DKS) Blacius Subono juga menuturkan, Sunan Kalijaga sukses menyebarkan Islam lewat budaya, tak terkecuali pewayangan.

“Jelas dari sisi sejarah kan ada sosok Sunan Kalijaga yang penyebaran agamanya melalui budaya wayang. Sudah jelas sejarahnya,” sebut Subono.

Tertulis dalam buku Mengenal Kesenian Nasional 1: Wayang karya Kustopo, kata wayang diambil dari bahasa Jawa wewayangan yang berarti bayangan.

Senada dengan yang dikatakan Dosen ISI Solo, Sugeng, wayang berakar dari kepercayaan animisme dan dinamisme. Lalu pada zaman kerajaan, permulaan wayang dicatat bermula sejak era Kerajaan Kediri abad ke-10 dan diciptakan oleh Raja Jayabaya.

Hal itu berlanjut ketika masa Kerajaan Jenggala dan Majapahit.

Sewaktu Kerajaan majapahit runtuh, wayang sekaligus gamelannya dipindah ke Demak. Pasalnya, Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menyukai seni karawitan dan pertunjukan wayang.

Pada masa ini untuk menghapus kesan Hindu, maka gambar wayang diubah sedemikian rupa. Wajahnya dibuat miring dan tangannya dibuat lebih panjang hingga mencapai kaki. Tokoh yang menciptakan sosok wayang dengan rupa seperti ini adalah Sunan Kalijaga.

Sewaktu kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, Sunan Giri menciptakan wayang Gedog yang bahan dasarnya dari wayang Purwa.

Kemudian, Sunan Kudus menetapkan wayang Gedog hanya digelar di dalam istana. Sehingga, Sunan Bonang membuat wayang sendiri yang diperuntukkan bagi rakyat. Wayang tersebut adalah Damarwulan.

Berlanjut ke era pemerintahan Sri Hamangkurat IV, raja tersebut menciptakan wayang Madya. Bentuk wayang Madya bagian atas mirip wayang Purwa, sedangkan bawahnya mirip wayang Gedog.

Pemanfaatan wayang dilanjutkan ke zaman revolusi fisik tahun 1945-195. Kesenian pedalangan digunakan sebagai salah satu usaha mendengungkan tekad mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Demi tujuan ini, maka secara khusus diciptakan wayang Suluh. Arti kata suluh adalah obor, yakni salah satu alat yang biasa dipakai menerangi.

Ada pula pendapat yang menyebutkan wayang Suluh berasal dari Madiun dan diciptakan salah seorang pegawai penerangan. Pegawai tersebut juga bertindak sekaligus sebagai dalang.

Pada wayang Suluh, tidak ada bentuk pakemnya karena mengikuti perkembangan zaman. Sebab, cara berbusana masyarakat juga berubah.

Simak Video “Permintaan Maaf Khalid Basalamah, Bantah Mengharamkan Wayang
[Gambas:Video 20detik]
(nah/erd)

Leave a Reply

Your email address will not be published.