Tak hanya berhenti sebagai penjelajah, Giri Prasetyo berbagi pengalaman travelling-nya lewat karya-karya video yang apik.

Berawal dari kesenangan mengabadikan momen-momen berharga hidupnya dalam bentuk video, Giri Prasetyo memantapkan dirinya sebagai videografer dan pembuat film dokumenter. Giri dikenal sebagai salah seorang yang memopulerkan tren travel video alias video perjalanan. Mulanya Giri yang senang travelling ke berbagai tempat menarik di Indonesia, tidak puas jalan-jalan semata, kemudian ia pun juga merekam berbagai petualangan dan penjelajahannya tersebut ke dalam medium video.

Kini nama Giri kian lekat di kalangan pencinta karya video atas sepak terjangnya di ranah videografi. Saat ini video perjalanan menjadi tema besar karya-karya pemuda kelahiran 15 November 1988 asal Jawa Timur ini, yang kerap ia unggah dalam akunnya: www.vimeo.com/girivisuals. The Eastern Warriors, Fadaelo: Discover the West Flores, Poem of the Sea, Wonderful Anambas, Wanderer, hingga Baronda Maluku, adalah beberapa karya videonya, yang membuat mereka yang menonton akan tergugah untuk segera berkemas dan memulai perjalanan menjelajahi indahnya alam nusantara.

Giri yang saat ini bekerja di salah satu Production House, berbagi kisahnya saat ditemui Hitsss beberapa waktu lalu. Simak petikan wawancara kami dengan Giri berikut ini:

Hitsss (H): Apa yang melatarbelakangi pilihan menggeluti bidang videografi ini?

Giri Prasetyo (G): Sebenarnya saya terlebih dahulu tertarik pada fotografi. Saya lebih banyak hidup secara nomaden, dengan kata lain, saya tidak pernah hidup di suatu kota selama tiga atau empat tahun. Namun kebanyakan beberapa kota yang selalu saya tempati adalah kota-kota di Jawa Timur.

Hal itu juga yang sebenarnya membuat saya ingin mengingat tempat-tempat tersebut seperti ‘memory box’. Akhirnya saya memulai keinginan saya untuk belajar dengan SLR yang ayah saya miliki. Lalu saya mencoba memulai untuk memotret sekaligus belajar segala hal yang berkaitan dengan teknik fotografi.

H: Lalu apa yang dilakukan setelah mempelajari fotografi?

G: Saya mulai ‘diracuni’ teman saya di Surabaya, yaitu Ayos. Dia menjalankan sebuah blog bernama High Fat – Low Brain. Blog tersebut merupakan salah satu travel-blog pertama di Indonesia yang bagus.

Dari situ kami sama-sama menyadari bahwa sebenarnya kami juga butuh travelling, jadi apa yang saya lakukan ini tidak berdasarkan karena dipengaruhi suatu komunitas tertentu, tapi karena diri saya juga membutuhkan travelling, maksudnya saya butuh bergerak dan mendapatkan sesuatu.

Giri Prasetyo (Foto: Dok. Giri Prasetyo)
Giri Prasetyo (Foto: Dok. Giri Prasetyo)

H: Ceritakan bagaimana pertama kali melakukan kegiatan videografi?

G: Dulu pertama kali mendapatkan pekerjaan dan bayaran videografi pada tahun 2011, dari Kementrian Pariwisata yang mengadakan trip ke Pulau Komodo. Lalu saya dengan dengan lima rekan saya berangkat dengan formasi yang lengkap, yaitu videografer, penulis, fotografer, blogger. Merujuk dari hal tersebut, dari situlah saya mengawali kiprah sebagai videografer dan membuat travel-video.

H: Saat ini ada banyak videografer dengan karakternya masing-masing, lalu apa karakter karya video yang Giri ciptakan?

G: Bicara perihal ciri khas sebenarnya itu datang dari para viewers, tapi tentu saya melakukan apa yang saya sendiri rasakan dan apa yang cenderung kita pilih, namun sebenarnya ada pola tersendiri di setiap video yang saya buat.

Di dalam video-video saya, terdapat muatan lebih intim (get personal), artinya dalam video tersebut saya bermaksud untuk mengeluarkan ekspresi kita ke dalam bentuk video, misalnya kami sedang berada di pinggir pantai. Kami seperti bisa merasakan ada ‘zen moment’. Di video-video tersebut saya juga memberikan treatment pada setiap detail, seperti suara burung dan ombak. Bisa juga dengan teknik slow-motion. Semua tidak harus mengenai soal keindahan alam, jadi ada muatan ‘manusia’-nya.

H: Apa karya yang paling berkesan yang pernah dihasilkan?

G: Kepulauan Komodo, Maluku, dan Western Australia. Khusus Maluku, entah kenapa tempat itu sudah seperti rumah buat saya. Di Maluku saya mendapatkan hal-hal yang lengkap terutama di Banda Neira. Di sana saya bisa menemukan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, keindahan alam, kearifan lokal, dan segala macamnya. Menurut saya bahasa Maluku juga enak didengar. Dan juga ketika saya berada di Western Australia, tepatnya di Margareth River. Saya tidak pernah sebegitu nyamannya menjelajahi taman nasional. Di sana saya difasilitasi dan dipandu untuk lebih mengenal flora dan fauna yang ada. Sistem informasinya pun sangat bagus.

H: Berikan tip bagaimana memikat hati para viewers?

G: Sebenarnya mereka akan tahu dengan begitu saja. Mungkin pula media sosial saat ini sudah sangat dekat, dan membantu siapapun untuk tujuan baik apapun. Saya juga selalu mencoba untuk terus update aktivitas saya di media sosial. Asalkan kamu punya ciri khas serta fokus dalam setiap karya, publik pasti akan tertuju pada karya-karya tersebut. (AH)