Pernahkah kamu berlibur ke sebuah tempat wisata, menikmati indahnya panorama, namun penglihatanmu terganggu lokasi wisata yang kotor, masyarakat yang hidup serba kekurangan, atau anak-anak kecil yang berseliweran yang tidak sekolah? Coba buka lebar-lebar mata kamu, sebab hal tersebut kerap kita temui di berbagai daerah wisata di Indonesia. Hanya saja tidak semua orang sadar dan peduli lingkungan sekitarnya.

Dini Hajarrahmah (Dok. Hitsss)
Dini Hajarrahmah (Dok. Hitsss)

Dini Hajarrahmah (25) yang kini dikenal sebagai salah pendiri bisnis travel sosial dan komunitas Wanderlust Indonesia, mengubah konsep jalan-jalannya dengan melakukan kegiatan sukarelawan berbagai kegiatan di berbagai daerah wisata di Indonesia. Di balik kisah terbentuknya Wanderlust Indonesia, Dini memiliki pandangan lain terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitar daerah destinasi wisata dalam negeri.

Dini mengawali hobi jalan-jalannya dengan berkeliling ke negara-negara di berbagai belahan dunia. Hingga tahun 2014, Dini sudah menginjakkan kakinya di 14 negara, seperti Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Belanda, Singapura, Thailand, dan masih banyak lagi.

Wanderlust Indonesia dibangun Dini dan kedua temannya dengan tujuan mulia. Menurut Dini, banyak perubahan yang dapat dilakukan para traveler ketika bepergian ke berbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu, dalam bisnis ini Dini membuat program perjalanan liburan yang diikat erat dengan sukarelawan. Sebuah konsep yang unik dan tak banyak ditemukan di berbagai agen travel di Indonesia.

Dalam presentasi singkatnya di acara Pecha Kucha Night Vol. 22, beberapa waktu lalu, Dini menyampaikan bahwa untuk menghargai alam dan warga lokal tempat berwisata, haruslah kita menjadi responsible traveler. Secara eksklusif kepada Hitsss, Dini memaparkan secara jelas bisnis travel sosialnya tersebut.

Hitsss (H): Bagaimana awalnya menyukai dunia traveling?

Dini (D): Pada tahun 2010, ketika saya masih kuliah semester 2, saya ikut sebuah konferensi di Amerika Serikat, biayanya gratis. Saya langsung ketagihan traveling. Tapi saya mau mencoba gaya backpacker. Pada tahun 2011, saya melakukan backpacker-travel ke Singapura, Malaysia, dan Thailand. Saya mencoba Couchsurfing, yaitu menginap di rumah warga lokal di tiga negara tersebut. Ternyata dengan 10 hari perjalanan, saya hanya menghabiskan sekitar 1,5 juta. Karena saya tidak mengeluarkan biaya penginapan dan akomodasi di dalam negeri ketika di sana. Bahkan host, si pemilik rumah, memasak untuk saya sehingga saya tidak mengeluarkan biaya untuk makan. Travel dengan gaya seperti ini membuat saya mendapat banyak pengalaman baru. Saya juga mendapat banyak kenalan di berbagai negara, yang mendukung saya untuk travel dengan biaya yang tidak besar. Travel itu adiktif untuk saya. Saya berpikir, ketika saya mempunyai uang Rp 3-4 juta yang saya kumpulkan ketika dagang kecil-kecilan semasa kuliah, daripada habis untuk nongkrong atau beli pakaian, sebaiknya saya simpan untuk jalan-jalan.

H: Bagaimana kisahnya hobi traveling kamu beralih menjadi sebuah bisnis travel?
D: Hal itu terinspirasi dari salah satu perjalanan saya. Pada tahun 2008, saya dan teman-teman jalan-jalan ke Bromo. Saya menemukan kejanggalan. Banyak sekali turis lokal dan asing yang jalan-jalan ke Bromo, tapi mereka tidak mengenal kondisi dan warga lokal di sana. Mereka hanya sekadar jalan-jalan, bersenang-senang, foto-foto, tanpa memperhatikan bahwa mereka membuang sampah sembarangan. Mereka juga tidak perhatian terhadap kondisi sosial dan ekonomi warga lokal di sana. Hal tersebut sangat membekas di hati saya. Tetapi saya belum terpikir sama sekali untuk membuat bisnis dan komunitas ini.

Setelah itu, saya dan teman-teman saya melakukan perjalanan ke Labuan Bajo yang terletak di Pulau Komodo. Jarang sekali ada turis yang berkunjung juga ke Kampung Komodo-nya. Padahal di situ destinasi pariwisatanya sangat bagus. Tetapi sangat disayangkan bahwa di sana hanya terdapat 3 toilet umum yang harus dipakai bersama-sama. Selain itu tingkat kematian ibu hamil juga tinggi karena minimnya perhatian kesehatan. Penghasilan yang didapat dari kunjungan para turis hanya menguntungkan aspek pariwisatanya, tidak dengan aspek sosial dan ekonomi warga lokalnya.

Di situlah turning point-nya. Saya mulai berpikir bagaimana caranya turis-turis baik lokal dan asing, dapat berjalan-jalan menikmati keindahan pariwisata di Indonesia, sekaligus memberikan sumbangsih penting kepada warga lokal di destinasi pariwisata mereka.

H: Siapa saja yang kamu libatkan dalam pembentukan Wanderlust Indonesia?

D: Ketika itu saya bersama 2 teman kuliah saya, yang menjadi co-founder Wanderlust Indonesia juga. Kami sama-sama suka jalan-jalan juga. Dia melihat dan merasakan hal yang sama dengan saya seperti yang ceritakan tadi. Akhirnya saya menceritakan ide saya untuk membentuk sebuah komunitas berbisnis berbasis komunitas travel, yaitu Wanderlust Indonesia. Ada teman saya yang sudah biasa melakukan community development juga. Saya menawarkan kepada mereka mengenai sebuah komunitas jalan-jalan yang melibatkan isu sosial terhadap warga di daerah-daerah yang menjadi destinasi jalan-jalan kami. Ternyata mereka setuju, akhirnya kami membentuk Wanderlust Indonesia.

H: Bagaimana awal mula kalian menggerakkan Wanderlust Indonesia?

D: Setelah kami sepakat untuk membuat Wanderlust Indonesia. Kami iseng pengen membuka perjalanan ke Krakatau. Kami ingin mencari tahu apa ada yang ingin ikut dengan tur kami ini. Akhirnya kami membuat akun Twitter dan Facebook. Ternyata responnya sangat bagus. Pada tahun baru 2014 lalu, kami berangkat melakukan perjalanan pertama kami bersama Wanderlust Indonesia dengan 18 wanderer, istilah yang kami berikan kepada peserta tur kami. Saya cukup terkejut, karena mereka yang ikut memiliki profesi yang berbeda-beda dari berbagai kalangan. Tim kami semakin lengkap dengan adanya freelance ranger dari Jakarta dan warga lokal berbagai daerah. Ranger adalah sebutan bagi mereka yang bersedia menjadi tim kami dengan sukarela. Bahkan saat ini ada freelance ranger yang berada di Denmark untuk menarik para traveler internasional.

Krakatau Trip (Dok. Wanderlust Indonesia)
Krakatau Trip (Dok. Wanderlust Indonesia)

H: Persiapan apa saja yang dilakukan sebelum Wanderlust Indonesia menjalankan sebuah trip?

D: Tahap awal adalah survei dan riset. Kami membentuk tim pioneer trip untuk melakukan survei ke tujuan trip kami. Kami para founder juga mengajak teman-teman yang ingin ikut menjadi pioneer trip. Biasanya kami tinggal di daerah tempat kami melakukan trip selama sekitar 1 minggu. Kami mencari warga lokal yang dapat menjadi local champion, yaitu warga lokal yang dapat diajak bekerjasama. Bersama local champion tersebut, kami merencanakan program apa saja yang akan kami lakukan. Kami juga menentukan rumah siapa yang akan dijadikan penginapan atau biasa disebut dengan host. Siapa saja yang akan menjadi guide para peserta. Siapa yang akan memasak. Biasanya survei dan riset ini dilakukan 2 bulan sebelumnya.

H: Apa yang dilakukan tim Wanderlust Indonesia agar para peserta dapat menjadi responsible travelers?

D: Kami biasanya membekali mereka dengan e-booklet yang berisi “the dos and don’ts” dalam sebuah trip. Cuma terkadang saking mereka senangnya dengan perjalanan ini, mereka suka ada yang lupa dengan peraturan yang telah kami tentukan. Menjadi tugas kami untuk terus memberi penjelasan dan peringatan terhadap hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan berlangsung. Contohnya, ketika bepergian kami selalu mewajibkan peserta membawa tumblr atau gelas minuman, jadi kami hanya tinggal isi ulang airnya saja. “Tidak tidak boleh meninggalkan dan mengambil sesuatu dari sini, selain foto-foto dan pengalaman,” itu yang selalu saya sampaikan ke mereka. Ada banyak gaya hidup sederhana namun sangat baik dilakukan demi menjaga alam kita.

Gunung Padang Trip (Dok. Wanderlust Indonesia)
Gunung Padang Trip (Dok. Wanderlust Indonesia)

H: Kalian kerap ‘meninggalkan’ sesuatu ketika melakukan perjalanan. Misalnya menanam terumbu karang atau menjadi pengajar di sekolah. Bagaimana caranya kalian melakukan pengawasan berkelanjutan terhadap apa yang telah dilakukan di berbagai tujuan destinasi Wanderlust Indonesia?

D: Kami selalu menggandeng masyarakat lokal yang menjadi local champion. Mereka semua kami pantau. Meski tidak ada trip, sebulan sekali kami datang ke lokasi untuk memantau perkembangannya. Misalnya, kami berkunjung lagi ke sekolah tempat kami mengajar. Kami mengobrol lagi dengan kepala sekolahnya, bagaimana kondisi di sana. Atau ketika kami menanam tumbuhan. Meski warga lokal di sana mempunyai pekerjaan sendiri, kini mereka memiliki pekerjaan tambahan lagi yaitu dengan merawat tumbuhan yang kami tanam. Pastinya hal tersebut sangat menguntungkan bagi daerahnya sendiri.

H: Bagaimana cara menggugah traveler lain yang selama ini memiliki gaya travel mewah atau bahkan irresponsible, untuk dapat mengikuti trip seperti ini?

D: Kami mempunyai acara yang dinamakan Wander Talk. Sebuah acara 2 bulanan di mana kami mengajak pembicara lain, bukan hanya kami, untuk berbagi pengalaman yang menginspirasi para peserta yang hadir. Bulan Mei 2014 lalu di @america, kami mengundang seorang geologist yang sering melakukan geotourism traveler. Dia melakukan traveling bukan hanya sekadar untuk jalan-jalan tetapi juga untuk lebih mengenal alamnya. Banyak dari mereka yang datang ke acara tersebut adalah mereka yang benar-benar baru mengetahui konsep Wanderlust ini. Kami juga banyak melakukan sosialisasi mengenai konsep travel kami di media sosial.

Ujung Kulon Trip (Dok. Wanderlust Indonesia)
Ujung Kulon Trip (Dok. Wanderlust Indonesia)

H: Selain menggunakan dana pribadi dan biaya trip, darimana saja sumber dana untuk operasional dan segala keperluan Wanderlust Indonesia?

D: Kami sedang mencari banyak investor yang mau menanamkan modalnya di Wanderlust. Kami juga sedang mengikuti kompetisi dan menunggu pengumumannya. Ada 2 kompetisi, yaitu kompetisi yang diadadakan British Council khusus bidang social enterprise dan yang diadakan oleh Unlimited Indonesia. Kalau kami lolos, kami akan memperoleh funding dan mentoring untuk program yang ada dalam Wanderlust. Kami lihat dengan mengikuti sebuah kompetisi semacam ini, kami bisa mendapatkan dana yang kami butuhkan dengan proses yang cepat. Nantinya dana tersebut akan kami gunakan untuk membeli kebutuhan yang juga akan dijadikan investasi, misalnya membeli peralatan snorkeling. Peralatan snorkeling tersebut nantinya akan kami ‘titipkan’ kepada local champion di beberapa destinasi trip kami untuk dikelola oleh mereka.

H: Bagaimana mengundang partisipasi warga lokal pada aktivitas Wanderlust?

D: Kalau ranger kami, mereka kebanyakan karena panggilan jiwa. Tapi kalau warga lokal kebanyakan karena faktor ekonomi. Dengan pekerjaan tambahan yang kami berikan, mereka akan mendapatkan penghasilan tambahan juga. Misalnya ada seorang ibu yang bekerja namun masih belum mencukupi segala kebutuhan keluarganya. Kami menawarkan kegiatan yang membuat mereka mendapatkan penghasilan tambahan. Jadi tidak dengan memberikan uang secara cuma-cuma pada mereka. Caranya adalah dengan membuat rumah si ibu menjadi penginapan bagi peserta trip Wanderlust Indonesia. Awalnya para host, merasa kurang percaya diri karena rumah mereka yang sederhana, malah ada pula yang tidak punya listrik. Namun saat ini banyak warga lokal yang antre ingin menjadi host untuk trip Wanderlust Indonesia. Kami harus melakukan seleksi terhadap para host dengan melakukan training, seperti keramahtamahan dan pelayanan sederhana.

H: Ceritakan salah satu trip yang paling berkesan bersama Wanderlust Indonesia!

D: Ujung Kulon, tepatnya Taman Jaya. Taman Jaya merupakan desa paling ujung di kawasan Ujung Kulon. Kebanyakan traveler lain hanya bepergian sampai ke Sumur saja. Di Taman Jaya tersebut, banyak  anak-anak yang belum terjamah teknologi, banyak dari mereka yang belum pernah menyentuh komputer atau laptop. Mereka bahkan tidak memiliki perpustakaan. Karena itu para peserta yang mengikuti trip saat itu, kami wajibkan membawa buku bekas yang masih layak untuk dibaca, untuk diberikan kepada anak-anak di sana. Kami juga bertemu dengan Bapak Ramli, kepalah sekolah SD disana. Beliau memiliki mimpi yang bagus, bahwa semua anak didiknya harus berpendidikan hingga kuliah. Lalu kembali pulang ke Taman Jaya untuk membantu mengembangkan pendidikan di daerah tersebut. Selain itu, destinasi wisata di sana juga sangat bagus. Pantainya cantik sekali bila kalian melakukan snorkeling. Bisa juga tracking di bukit-bukit atau kaki gunung. Semua trip yang kami lakukan bisa dilakukan berulang, jadi siapa saja bisa melakukan trip ini.

H: Siapa saja target peserta dari trip-trip yang ada di Wanderlust?

D: Kebanyakan dari mereka yang berusia 19-35 tahun. Perkerjaan mereka beragam, mulai dari anak kuliah sampai pekerja yang sudah 2-6 tahun bekerja. Akhir-akhir ini banyak juga anak-anak mengikuti trip ini. Mereka diajak oleh orangtuanya. Anak-anak tersebut bahkan berulang ikut lagi. Ternyata buat anak-anak kecil, pengalaman seperti membajak sawah, snorkeling, dan bertemu banyak warga di pedesaan itu langka dan asyik untuk dilakukan. Bahkan ada salah satu peserta anak kecil kelas 2 SD ikut mengajar anak-anak TK, lucu sekali! Mereka pastinya belum pernah melakukan hal ini dan malah mereka dapatkan ketika liburan. Ternyata kami lihat dengan seperti ini, pasar kami berkembang luas.

H: Selain jalan-jalan ke berbagai daerah, adakah kegiataan serupa yang kalian lakukan di Jakarta?

D: Kami punya satu kegiatan yang dinamakan Weekend Series. Dalam 1 hari di akhir minggu, bisa Sabtu atau Minggi, kami menjadi sukarelawan untuk kegiatan tertentu, misalnya mendaurulang sampah kertas.

H: Adakah turis asing yang pernah mengikuti trip  Wanderlust Indonesia?
D: Sempat beberapa kali ada turis asing yang ikut juga. Mereka tertarik karena konsep yang ditawarkan, bahwa mereka harus menjadi responsible traveler sekaligus menjadi volunteer untuk program yang kami rancang selama trip tersebut. Mereka tidak dapat menemukan trip seperti di agen travel lainnya. Berlibur di Jakarta menurut mereka tidak jauh dari pergi ke mal atau ke tempat-tempat makan eksklusif.

H: Rencana pengembangan program lain dari Wanderlust Indonesia?

D: Kami sedang merencanakan program baru yang kami namakan If I Were A Local. Kami ingin mengajak turis-turis baik lokal maupun asing untuk mencoba kehidupan sebagai warga lokal di daerah destinasi tujuan. Kami ingin mereka mencoba menjalani kehidupan dan berkegiatan layaknya warga lokal setempat. Lamanya trip ini bisa dipilih dari mulai seminggu sampaise bulan, disesuaikan dengan biayanya juga. Kami masih survei dan riset. Kalau tidak ada halangan bulan Juli kami akan buka trip tersebut.

H:  Ada pesan khusus terhadap turis yang melakukan trip, tapi belum menjadi responsible travelers?

D: Harapannya adalah semoga para traveler semakin aware, perhatian, dan waspada terhadap lingkungan sekitarnya saat mereka melakukan trip. Agar mereka bisa lebih berinteraksi dengan masyarakat lokal. Terlebih lagi bila mereka bisa ‘giving back’ kepada warga lokal. Kalau tidak tau cara memulainya, coba ikutan trip kami! Hehehe. (KA)