Bahaya Keseringan Selfie pada Anak, Sebabkan Kecanduan yang Berujung Gangguan Mental


INDOZONE.ID – Di era modern seperti sekarang, selfie atau swafoto sudah menjadi kegiatan yang umum di masyarakat.

Apalagi dengan adanya perkembangan teknologi, orang semakin mudah melakukan selfie dan mempostingnya di media sosial.

Sayangnya selfi tak melulu membawa kegembiraan. Pasalnya kegiatan memotret diri sendiri ini bisa menimbulkan dampak negatif, khususnya pada usia anak dan remaja. 

Baca juga: Alasan Mengapa Tidak Boleh Terlalu Baik Kepada Orang Lain, Pengaruhi Kondisi Mental
 
Mengutip dari Healthline, sebuah studi dalam The Journal of Early Adolescence mengungkap, anak atau remaja yang mengunggah selfie ke media sosial cenderung memiliki peningkatan kesadaran akan penampilan mereka sendiri. 
 
Kesadaran tersebut terkait dengan risiko peningkatan image tubuh yang negatif.

“Anak-anak ini sedang mencari pengakuan dalam hal tampilan fisik mereka. Sehingga mereka sebenarnya sudah condong ke masalah image tubuh negatif mereka sebelum mereka membagikan foto-foto tersebut secara online,” kata Nancy Molitor, asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Northwestern University Illinois. 

Selain itu, selfie akan membuat anak mengukur eksistensi dirinya. Mereka akan berlomba-lomba untuk memposting selfie ataupun memperbaharui konten Instagram demi mendapat jutaan like dan tambahan follower.

Menurut mereka indikator tingkat kepopuleran seseorang dapat diukur dari berapa banyak pengikutnya di media sosial. Akibatnya mereka jadi sering selfie hingga kecanduan.
 
Bahayanya bila selfi sudah menjadi pecandu, maka gangguan mental pun bisa muncul. Hal ini sebagaimana yang diungkap Psikolog, Dr David Veal yang menyebut bahwa selfie memang bisa menjadi kecanduan terutama pada orang-orang yang sudah memiliki penyakit psikologis tertentu.
 
Dia menjelaskan, perilaku narsis tersebut bisa menjadi masalah serius dan menimbulkan risiko kesehatan yang fatal. 

“Ini bukan masalah kesombongan. Ini adalah salah satu kesehatan mental yang memiliki tingkat bunuh diri yang sangat tinggi,” kata Veal seperti dilansir dari Mirror.

Kekhawatiran Veal sendiri sudah terbukti dengan adanya laporan korban kecanduan selfie di antaranya pada 2014 lalu, di mana ada remaja dari Inggris, Danny Bowman (19) yang sejak usia 15 tahun telah terobsesi dengan selfie.

Remaja yang didiagnosis dengan gangguan dismorfik tubuh dan gangguan obsesif kompulsif itu menghabiskan 10 jam sehari hanya untuk mengambil foto dirinya hingga 200 kali.

 “Ini tidak akan terjadi jika tidak di era media digital. Selfie, jelas-jelas tren yang membahayakn,” kata Bowman dalam video Daybreak.

Gangguan dismorfik sendiri adalah jenis penyakit mental kronis dimana penderita tidak bisa berhenti memikirkan penampilannya dari cacat sedikitpun, meskipun cacat tersebut hanya minor atau hanya bayangannya saja.
 
Selain sebagai dampak negatif diatas selfie juga bisa menimbulkan beberapa perubahan di dalam diri anak dan remaja. Di antaranya sebagai berikut:

1. Sulit memfilter hal pribadi

selfie (Pixabay/Deagreez)
Ilustrasi remaja yang asyik selfie (Pixabay/Deagreez)

Anak atau remaja yang sudah keadaan selfi akan memfilterisasi mana hal yang layak dipublikasikan dan mana yang hanya untuk diketahui dirinya sendiri. 
 
Padahal terlalu banyak posting di media sosial juga bisa berbahaya bagi privasi anak. Unggah selfie mereka bisa disalahgunakan bahan dijadikan bahan aksi kriminal oleh orang yang tidak bertanggung jawab. 
 
2. Membangun citra negatif

anak selfie (Pixabay/Deagreez)
Ilustrasi remaja yang asyik selfie (Pixabay/Deagreez)

Orang yang sudah terbiasa sering membagikan momen ke media sosial secara otomatis akan merasa ada yang kurang jika tidak melakukan kebiasaan tersebut. Begitu juga yang bisa dialami anak jika dia sudah kecanduan selfie.
 
Mereka akan selalu mengunggah selfie. Sayangnya tidak semua yang diposting akan selalu disukai orang lain. Tentu saja ada saatnya konten yang dibagikan tidak membuat yang melihatnya senang.

Ini berbahaya karena bisa saja anak dinilai negatif atau menyebalkan di mata teman-temannya.
 
3. Susah fokus

remaja yang asyik selfie (Pixabay/Deagreez)
Ilustrasi remaja yang asyik selfie (Pixabay/Deagreez)

Ini adalah level yang lebih parah dari yang sudah disebutkan di atas. Orang yang kebiasaan selfie, kadang susah mengendalikan diri. 
 
Setiap kali ada kesempatan untuk membuka smartphone, dia akan menyalakan kamera dan mengambil foto selfie.

Bayangkan jika anak melakukan ini di tengah jam pelajaran, saat gurunya menerangkan di depan kelas. Sudah pasti akan fatal akibatnya. 

Cara mengatasi kecanduan selfie

remaja yang selfie (Pixabay/Deagreez)
Ilustrasi remaja yang asyik selfie (Pixabay/Deagreez)

Mengutip dari laman Hellosehat, kecanduan selfie pada anak dapat diatasi dengan cara yang sama seperti mengatasi gangguan kecanduan gadget. Beberapa acaranya sebagai berikut:

  • Batasi pengguna  gadget pada anak, matikan gadget selama mereka sekolah, makan, atau melakukan kegiatan bersama keluarga. Beri mereka pemahaman tidak semua momen yang diabadikan harus diunggah di media sosial. 
  • Beri jadwal bermain medsos. Luangkan waktu dan pasang timer untuk menentukan seberapa lama anak boleh bermain gadget. Selain itu, batasi juga hal apa saja yang boleh mereka akses di piranti pintar tersebut.
  • Ajak anak melakukan aktivitas yang tidak terkait dengan penggunaan ponsel, contohnya olahraga, ke perpustakaan, mengikuti kelas memasak, atau bermain ke luar bersama teman dan keluarga.

Jika cara-cara sebelumnya tidak juga ampuh mengatasi kecanduan Anda, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter atau psikolog.
 

Artikel Menarik Lainnya:

Leave a Reply

Your email address will not be published.