Ray Nayoan dan Benny Kadar memberikan pembekalan materi terkait produksi film kepada peserta film workshop di acara “Mobiliari Film Festival 2018”.

“Mobiliari Film Festival”, yang merupakan bagian dari Hitsss Festival 2018, telah sukses mengadakan film talkshow pada bulan Mei lalu. Setelah mengikuti talk show, banyak peserta yang antusias untuk berpartisipasi dalam kompetisi film bertema “The Balanced Life”. Dari sekian banyaknya peserta yang mendaftar, akhirnya terpilihlah 5 peserta dengan ide cerita terbaik yang lolos open audition dan berhak mengikuti film workshop untuk mendapat pembekalan terkait proses produksi film.

Film workshop “Mobiliari Film Festival” diadakan di Binus University, Alam Sutera, pada Sabtu (28/7), dengan menghadirkan pembicara seperti Ray Nayoan, sutradara film Jelita Sejuba dan Benny Kadar, CEO DSLR Cinematography Indonesia.

Belajar membangun cerita dari Ray Nayoan

ray2

Ray membedah naskah lima peserta terpilih. Ia mengoreksi hal-hal apa yang perlu dikembangkan lagi dalam skenario dan apa yang perlu mereka pertimbangkan. Ray menjelaskan bahwa proses pembuatan film melibatkan tiga tahap penting, yaitu penulisan skenario, shooting dan post production.

Ray menekankan, untuk bisa membuat film yang baik, tahap pertama yang perlu sangat diperhatikan adalah skenario. “Kalian harus punya alasan mengapa kasih lihat sebuah adegan ke penonton. Harus ada korelasi naskah yang terbangun. Semakin penonton mengerti, semakin bagus,” ujar Ray.

Film kamu bercerita tentang apa?

Poin utama dalam sebuah skenario adalah apa yang ingin kamu ceritakan dalam film kamu? Pentingnya untuk membayangkan apa yang akan terjadi di frame ketika menulis skenario. Walaupun ketika proses shooting yang terjadi dan dihadapi di lapangan bisa saja berbeda dengan apa yang sudah tertulis. Karena itu, harus tahu esensi apa yang harus ada dalam naskah yang harus direalisasikan di lapangan.

“Jadi, kalau skenario kalian saja tidak matang, bagaimana mau lanjut ke tahap-tahap selanjutnya?,” ujar Ray.

Orang menonton film ingin melihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup tokoh utamanya. Tokoh utama ini harus punya tujuan dan alasan-alasan ketika dia memutuskan untuk melakukan sesuatu. “Untuk melihat perubahan dalam diri tokoh, kamu perlu membuat mereka berjuang,” lanjut Ray.

Jaga fokus dan koneksi cerita

Ketika menyusun skenario, usahakan cerita kamu mengarah menuju satu titik sampai akhir cerita. Jangan berikan hal-hal yang melenceng terlalu jauh dari cerita. Terutama untuk film pendek. “Jangan sampai penonton berpikir ada cerita baru dalam cerita yang kamu buat,” jelas Ray.

Cerita yang baik adalah yang membuat orang penasaran, tapi juga ada korelasi yang jelas, terutama dari pembukaan dengan isi film. Karena pembukaan menjadi bagian penting yang membuat orang merasa tertarik atau tidak untuk menonton sebuah film hingga akhir.

Apa pun yang kamu tampilkan di layar adalah petunjuk cerita

Perhatikan juga hal-hal yang mendukung isi cerita filmmu. Seperti misalnya dari segi wardrobe atau kostum. Untuk membangun karakterisasi tokoh, kamu perlu memperhatikan penampilan mereka.

“Mengapa tokohmu harus berpakaian seperti itu, semua harus ada maksudnya. Jangan sampai meletakkan hal-hal yang tidak penting dan tidak berkaitan dengan ceritamu,” pesan Ray.

Penting untuk memperhatikan setiap detail dalam cerita, karena wardrobe pun bisa bercerita. Apa pun yang ada di layar itu adalah petunjuk.

Next: Belajar teknik penggunan kamera dan pengambilan gambar dari Benny Kadar