Ketika Fashion Bertemu Sepak Bola: Strategi Marketing atau Pertukaran Passion?


Teks: Inaya Pananto
Foto: Kochè x Paris Saint German SS ‘18 via Soccerbible

Hubungan antara fashion dan sepak bola lebih dari sekadar model athletes with a fashion sense namun menjadi pertemuan kolaboratif antara dua industri yang saling bersinergi. Fashion mampu mengetuk pintu market penggemar sepak bola melalui kolaborasi sportswear dan soccer kits, dan tim sepak bola mendapatkan eksposur dari dunia fashion memenangkan kesempatan untuk berkiprah di luar lapangan hijau. 

Melampaui David Beckham atau Cristiano Ronaldo dengan desainer-made custom suits, kini atlet sepak bola Hector Bellerin berjalan menyusuri catwalk Louis Vuitton bersama dengan para model-model pilihan. Kerja sama mendatang antara Gucci dan bintang sepak bola serta soon-to-be brand ambassador Jack Grealish membuka era baru dalam berkembangnya hubungan fashion dan sepak bola. Beberapa pemain bola sebelum Jack Grealish juga telah mendapatkan collaboration deal dengan brand-brand besar seperti Megan Rapinoe dengan Loewe, Marcus Rashford dengan Burberry, dan Kylian Mbappé dengan Dior. Walaupun pertemuan ini masih dianggap asing bagi sejumlah kalangan, manuver marketing ini menunjukkan perkembangan dan betapa fleksibelnya fashion dalam menjamah pasar-pasar baru.

Selain pesepak bola yang mulai diangkat menjadi wajah-wajah baru dalam fashion, atribut sepak bola pun telah banyak menginfiltrasi tren high fashion. Seperti brand OFF WHITE yang acap kali memasukkan unsur kental seragam sepak bola dalam desain-desainnya, kolaborasi antara PSG dengan designer label Koché dan masih banyak figur-figur fashion yang mewujudkan kesukaan mereka terhadap olahraga sepak bola melalui fashion seperti Guillermo Andrade, Martine Rose, dan Liam Hodges.

Atlet sepak bola Megan Rapinoe sebagai wajah baru untuk Loewe 2020. (Foto: Loewe)

Menilik sepak bola dari segi estetika desain, seragam-seragam tiap tim memang memiliki daya tarik fashionnya masing-masing. Seringkali menggaet fashion brand dalam mendesain seragam mereka, seperti Juventus dengan Adidas atau Real Madrid dengan Yohji Yamamoto, menunjukkan betapa seriusnya tim-tim sepak bola dalam mempertimbangkan brand image mempertimbangkan mereka. 

Industri sepak bola Indonesia pun tidak tertinggal, tiap tim sepak bola dengan maskot warnanya masing-masing turut mengembangkan desain seragamnya secara berkala. Seringkali bekerja sama dengan perusahaan apparel lokal, jersey bola berikut pernak-perniknya memang memiliki pasarnya tersendiri. Seperti Tira Persikabo asal Bogor bersama Adhoc Apparel, yang memasukkan unsur Kota Bogor sebagai Kota Hujan ke dalam seragam tandang berjulukan “Laskar Padjajaran”. Kemudian Arema Malang FC yang tampil dengan jersey produksinya sendiri, telah merambah ke dunia apparel dengan nama SEA atau Singo Edan Apparel. Mereka memasukkan unsur unik relief Candi Badut dalam seragamnya sebagai simbol semangat kejayaan kultural masa lalu.

Seragam jersey Tira Persikabo, Bogor. (Foto: Adhoc Apparel)

Yang tentunya tidak dapat tertinggal adalah desain seragam sepak bola Timnas Indonesia. Desain seragam tandang keluaran tahun 2020 yang digarap oleh Mills Sport tampak segar didominasi warna putih dan garis hijau yang mengusung makna kesuburan, kesegaran, kedamaian, dan keseimbangan dengan corak watermark yang melambangkan pulau-pulau hijau Indonesia. 

Semakin berkembangnya kerjasama antara fashion dan sepak bola di kancah internasional membuka kemungkinan ke depan bagi desainer-desainer lokal untuk memperkuat engagement mereka dengan tim sepak bola. Mengingat tingginya minat suporter sepak bola Indonesia, dengan creative framework yang tepat kolaborasi antara fashion brand lokal dengan tim sepak bola dapat menjadi jembatan unik antara mass apparel dengan curated fashion items.whiteboardjournal, logo

Leave a Reply

Your email address will not be published.