Dior Sisipkan Elemen Proteksi di Paris Fashion Week


ADA yang berbeda dari Dior di gelaran Paris Fashion Week pada Selasa (1/3). Perancang busana Maria Grazia Chiuri mengatakan pertunjukan koleksi busana Dior kali ini menampilkan gabungan elemen keindahan sekaligus proteksi diri.

Mengutip laman ANTARA, Rabu (2/3), para model Dior yang melenggang di atas catwalk mengenakan berbagai perlengkapan proteksi, mulai dari bantalan bahu, korset airbag, hingga atasan yang tampak seperti rompi antipeluru. Koleksi itu dibuat jauh sebelum militer Rusia mulai menginvasi Ukraina pekan lalu. Namun Chiuri berpendapat, bahkan dunia sudah ‘berperang’ sebelum konflik Rusia-Ukraina.

“COVID-19 adalah bentukk lain dari perang. Kita semua pernah mengalami bulan-bulan yang sangat sulit. Ada banyak refleksi di masa-masa sulit ini, tentang bagaimana menggabugnkan keindahan, estetika, dan proteksi,” kata Direktur Artistik Dior untuk pakaian perempuan itu.

Baca juga:

Air Jordan 1 X Dior Resmi Dijual dengan Dua Tipe


Perancang Italia berusia 58 tahun itu mengatakan kreasi terbarunya ditujukan untuk menemukan solusi teknis yang bisa lebih fungsional untuk tubuh perempuan. Pakaian yang ia tampilkan termasuk jaket bar khas Christian Dior yang dirancang ulang dengan adaptasi teknologi tinggi.

Bekerja sama dengan D-Air Lab, jaket tersebut memilimki sistem pemanas internal sendiri. Jaket itu dikombinasikan bantalan di bagian pinggul sehingga menampilkan desain yang futuristik.

Mengutip laman WWD, D-Air Lab merupakan perusahaan rintisan yang memproduksi barang-barang proteksi diri seperti Antartika Suit, yang memungkinkan para ilmuwan untuk bekerja dalam suhu terendah -128 derajat Fahrenheit.

Baca juga:

Vespa 946 Christian Dior dengan Jumlah Terbatas Hadir di Indonesia


“Pakaian itu sendiri merupakan bentuk perlindungan. Mereka meyakinkan kita. Aspek itu hadir dalam apa yang saya lakukan,” kata Chiuri.

Sebagai seorang feminis, perancang itu juga memandang bahwa krisis yang terjadi saat ini merupakan bukti lebih lanjut dari kegagalan masyarakat yang didominasi laki-laki.

“Masalahnya adalah budaya dan patriarki. Harus ada lebih banyak perempuan dalam posisi pengambilan keputusan. Akan ada lebih sedikit perang,” tuturnya.

Pertunjukan musim gugur-musim dingin ini menandai kembalinya Paris Fashion Week yang digelar mendekati normal sepenuhnya. Hampir semua gelaran juga kembali mengadakan acara secara langsung seiring dengan kelonggaran pembatasan pandemi COVID-19 di Eropa. (and)

Baca juga:

Peragaan Busana Dior untuk Koleksi Musim Panas 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.