Ini Dampak Ekonomi Bila Rusia Benar-benar Serang Ukraina


Jakarta, CNBC Indonesia – Kondisi geopolitik dunia memanas. Konflik terjadi antara Rusia dan Ukraina.

Moskow diyakini akan menyerang Kyiv dalam waktu dekat. Intelijen Barat mengklaim sekitar 100.000 pasukan sudah berada di wilayah sekitar perbatasan kedua negara.

Konflik antara Rusia dan Ukraina diyakini bisa memicu Perang Dunia ke-3 (World War III). Apalagi konflik ini juga melibatkan Amerika Serikat (AS) dan NATO.

Jika benar negeri Presiden Vladimir Putin akan menyerang Ukraina, invasi penuh diyakini akan mengguncang pasar energi dan komoditas. Ini pun akan memicu aksi sual saham tajam.

Setidaknya tiga skenario serangan Rusia. Mulai dari invasi penuh invasi terbatas, dan agresi non militer.

Berikut penjabarannya menurut Rick Newman, kolumnis Yahoo Finance:

Invasi Penuh

Meski langkah ini disanksikan banyak orang, tapi jikalau itu terjadi, Eropa dan AS pasti akan menjatuhkan sanksi. Pembatasan atau pemblokiran ekspor komoditas utama Rusia bisa saja diambil, seperti aluminium, nikel, paladium, platinum, dan biji-bijian tertentu.

Ini adalah produk rantai pasokan penting bagi produsen AS dan Eropa. Dan, kehilangan sumber pasokan dunia yang penting akan mendorong harga naik.

Namun hal itu bisa jadi buah simalakama. Tak hanya buruk bagi Rusia tapi juga Eropa dan AS.

“Ini akan memperburuk inflasi yang sudah mencapai level tertinggi 40 tahun di Amerika Serikat (AS) dan banyak negara barat,” tulis Newman.

Pasar minyak dan gas alam juga diyakini akan terguncang. Karena Rusia adalah produsen utama terutama gas, nomor satu di Eropa.

Tetapi penutupan ekspor energi Rusia tidak mungkin. Eropa terlalu bergantung pada energi Rusia untuk memboikotnya lalu memasukkannya ke dalam daftar sanksi.

Rusia pun membutuhkan pendapatan dari penjualan energi untuk mempertahankan ekonomi yang stagnan. Terutama jika menghadapi sanksi baru sambil membiayai operasi militer besar.

Mengutip Ekonom Bernard Baumohl dari Economic Outlook Group, jika terjadi serangan ke Ukraina, sepertinya penurunan signifikan dalam ekspor minyak dan gas dari Rusia ke Eropa tidak akan terjadi. Rusia akan terus mengirimkan minyak dan gas ke Eropa bahkan jika perang dilakukan.

Harga minyak dan gas pun kemungkinan akan melonjak. Karena kurangnya pasokan.

Perusahaan pun diyakini akan menunda investasi untuk mengukur konflik. Uang justru akan mengalir ke aset yang lebih aman, seperti surat berharga AS, mendorong suku bunga, dan memperkuat dolar.

Invasi penuh akan mengarahkan ekonomi Eropa ke dalam resesi. Ini juga diyakini akan memangkas pertumbuhan PDB AS.

Invasi Terbatas

Putin juga bisa mengambil langkah invasi terbatas. Ini, tulis Newman bisa mengirimkan pasukan ke timur Ukraina yang memang tak bisa sepenuhnya dikendalikan Kyiv.

Hal itu pasti akan memicu sanksi kuat dari AS. Eropa juga bisa makin terpecah belah karena tergantung ke gas Rusia.

Invasi terbatas diyakini akan membuat harga minyak dan gas melonjak. Tapi, ia meyakini harga akan cepat kembali ke tingkat normal lebih cepat, daripada jika Rusia melakukan invasi penuh. 

“Eropa akan melemah tetapi tidak memasuki resesi. Inflasi AS mungkin memburuk untuk sementara, tetapi jika pasukan Rusia tetap berada di Eropa timur. Pasar mungkin akan menghentikan pergerakannya dengan cukup cepat,” tulisnya.

Agresi Non-militer

Rusia bisa melakukan serangan lain untuk “menganggu” Ukraina. Bukan dengan cara tradisional melainkan dengan serangan siber, perang informasi, dan kemungkinan terorisme.

“Meskipun tidak menyenangkan bagi Ukraina, ini akan memiliki implikasi minimal untuk pasar keuangan jika tidak melewati ambang batas yang memicu sanksi atau memasukkan ancaman apa pun terhadap kontrak energi,” jelasnya.

[Gambas:Video CNBC]

(tfa)


Leave a Reply

Your email address will not be published.