Duit Triliunan Mengalir ke Indonesia, Rupiah Menguat 2 Pekan


Jakarta, CNBC Indonesia – Kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan The Fed akan agresif menaikkan suku bunga di tahun ini semakin menguat. Dalam kondisi tersebut dolar AS seharusnya jadi perkasa, tetapi nyatanya rupiah malah mampu mencatat penguatan dua pekan beruntun.

Melansir data Refinitiv, rupiah di pekan mampu mencatat penguatan 0,19% ke Rp 14.350/US$. Dalam lima hari perdagangan, rupiah mampu mencatat penguatan 3 hari.

Aliran modal yang deras masuk ke dalam negeri menjadi salah satu penopang penguatan rupiah.


Sepanjang bulan Januari lalu, terjadi capital outflow yang cukup besar di pasar obligasi Indonesia. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menunjukkan kepemilikan asing di SBN pada 31 Januari sebesar Rp 887,28 triliun, turun dibandingkan 31 Desember 2021 sebesar Rp 891,34 triliun. Artinya, terjadi capital outflow sekitar Rp 4 triliun.

Tetapi situasi tersebut berubah, pada 10 Februari lalu kepemilikan asing tercatat sebesar Rp 893,91 triliun, artinya terjadi inflow sebesar Rp 6,6 triliun hanya dalam 10 hari saja di bulan ini.

Dengan demikian, secara year-to-date (ytd) hingga 2 Februari lalu, tercatat capital inflow di pasar obligasi sebesar Rp 2,27 triliun.

Di pasar saham juga terjadi hal yang sama. Sepanjang pekan ini, investor asing tercatat melakukan beli bersih (net buy) tercatat lebih dari Rp 7,6 triliun di pasar reguler, tunai dan nego.

Sementara itu Inflasi yang terus menanjak di AS membuat The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin di bulan Maret.

Departemen Tenaga Kerja AS Kamis lalu melaporkan inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) tumbuh 7,5% year-on-year (yoy) di bulan Januari, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 7% (yoy) juga ekspektasi Reuters sebesar 7,3% (yoy).

Inflasi tersebut menjadi yang tertinggi sejak Februari 1982, dan kembali menguatkan ekspektasi bank sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga dengan agresif di tahun ini dan kemungkinan sebesar 50 basis poin di bulan Maret nanti.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pasar kini melihat probabilitas sebesar 93,8% The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin bulan depan. Dan probabilitas kenaikan 25 basis poin hanya 6% saja.




cmeFoto: CME Group

Artinya, pasar melihat The Fed pasti menaikkan suku bunga bulan depan, dan kemungkinan sebesar 50 basis poin menjadi 0,5% – 0,75%.

Meski demikian, dolar AS tidak serta merta menguat tajam, sebab agresivitas The Fed sudah diperkirakan jauh-jauh hari.

Pasca pengumuman kebijakan moneter akhir The Fed Januari lalu, pasar sudah menakar suku bunga akan dinaikkan hingga 125 basis poin di tahun ini. Spekulasi berhembus The Fed akan menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali di tahun ini, 50 basis poin pada bulan Maret, dan tiga kali lagi sisanya masing-masing sebesar 25 basis poin.

Hal tersebut terlihat dari survei yang dilakukan Reuters pada periode 31 Januari – 2 Februari terhadap analis mata uang.

Survei tersebut juga menunjukkan dolar AS masih akan mendominasi hingga 6 bulan ke depan, tetapi tidak akan menguat jauh dari level saat ini. Selain itu, median dari 24 analis menunjukkan agar dolar AS menguat tajam perlu ada tambahan kenaikan sebesar 62,5 basis poin.

Artinya total The Fed perlu menaikkan suku bunga sebesar 187,5 basis poin agar dolar AS bisa menguat tajam.

Tidak hanya pelaku pasar, Bank Indonesia (BI) juga sudah memprediksi The Fed akan agresif menaikkan suku bunga di tahun ini.

“Kami masih mempertahankan prediksi The Fed Tahun ini akan menaikkan 4 kali masing-masing 25 basis poin, mulai Maret kemungkinan 25 basis poin atau 50 basis poin,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam jumpa pers usai Rapat Dewan Gubernur, Kamis (10/02/2022).

HALAMAN SELANJUTNYA >>> BI Lebih Dovish, Tapi Rupiah Masih Stabil

Leave a Reply

Your email address will not be published.