Damai Ajalah! Menang atau Kalah Kan Cuma Game


AH elah, lu sih dibilang jangan maju-maju. Malah mati kan”, sebuah keluhan sering ditemukan pemain DOTA 2 ketika sedang bermain bersama. Game strategi dan kerja sama tim pada permainan tersebut memang membutuhkan kesabaran, apalagi harus menahan ego agar bisa memenangkan permainan.

Bermain game online sama teman-teman memang asyik, apalagi bisa main berlima di dalam satu tim. Ada banyak game dengan kategori Multiplayer Online Battle Arena (MOBA), seperti Mobile Legends, Arena of Valor, Vainglory, Wild Rift, hingga DOTA 2.

MOBA merupakan permainan strategi dalam satu tim terdapat lima orang. Tugas dari tim tersebut melakukan pertahanan terhadap wilayah mereka agar tidak bisa ditembus tim lawan. Agar hero digunakan semakin kuat, dibutuhkan item-item pendukung sesuai dengan karakteristik hero, seperti carry, support, tanker, atau mid lane.

Laiknya dunia nyata, karakteristik dari setiap pemain itu berbeda-beda. Ada pemain selalu ingin didengarkan, ada pula cuek karena terpenting main sama-teman-teman, juga ada keras kepala, bertahan dengan egonya, sampai si penyemangat tim.

Mesk bermain game itu menyenangkan, terkadang juga bisa jadi faktor renggangnya pertemanan di dunia nyata. Tentu saja kejadian tersebut bermula saat bermain berlima dalam satu tim. Seorang teman inisal K memilih hero carry ketika di dalam permainan akan ‘dimanjakan’ karena memiliki damage besar. Dalam DOTA 2 ada istilah farming atau mencari uang dengan membunuh creep atau hero musuh. Semakin banyak uang didapatkan, maka semakin banyak item bisa dibuat.

Baca juga:

Warteg Hadir Mendamaikan Rasa Kangen Kampung Halaman

Menang atau Kalah, Itu Cuma Game
Game DOTA 2. (Foto: Rock Paper Shotgun)

Dari awal bermain, teman-teman di satu tim sudah curiga dengan tingkah laku dan cara berkomunikasinya di platform Discord. Awalnya teman lain tetap fokus bermain fokus dengan hero masing-masing. Hingga suatu ketika K memarahi teman di satu tim karena farming-nya diambil secara tidak sengaja. Kesannya sepele, tapi gara-gara itu di sepanjang game, K diam lalu bermain dengan seolah tak punya tim. Peribahasa hanya karena nila setitik, rusak susuk sebelanga, tampaknya cocok dalam kondisi saat itu.

Selama sekitar 40 menit permainan, K tidak berbicara sama sekali di Discord. Satu tim semula menganggap itu masalah sepele. Tim pun kalah karena kurangnya komunikasi dan kerja sama dan membuatnya semakin kesal.

Merasa belum puas, tim tersebut lanjut di game kedua. K beralih menggunakan hero Support. Baru lima menit jalannya permainan, K mematikan mikrofonnya di Discord. Kami menduga K masih kesal dengan game pertama tadi, dan satu tim merasa kesulitan dalam berkomunikasi. K juga terlihat bermain menyendiri tanpa mengikuti arahan dari tim. Permainan tidak berlangsung lama dan kami kalah.

Baca juga:

Cara Mendamaikan Gaji Versus Cicilan, Solusi Cerdas Hilangkan Pusing Awal Bulan

Menang atau Kalah, Itu Cuma Game
Kendalikan egomu saat bermain game. (Foto: Unsplash/Fausto Sandoval)

Keesokan harinya, ketika rekan setim ingin mengajak K bermain, ternyata tiga teman dihapus dari friend list. Bahkan juga dihapus dari Close Friend di Instagram Story, meski untungnya tidak diblock. Tak hanya itu, komunikasi di media sosial juga tidak pernah terjalin. Tampaknya, K memang begitu kesal dengan rekan setimnya.

Tidak ada komunikasi dan tidak pernah main bersama lagi. Namun, di antara teman tersebut percaya, waktu akan menyembuhkan hubungan mereka. Benar saja, sekitar kurang lebih dua bulan, K tiba-tiba saja memulai percakapan di media sosial. Sejak saat itu, hubungan pertemanan kembali pulih dan bahkan sudah bertemu secara tatap muka.

Kejadian ini tentu mengajarkan pentingnya kerja sama, menerima masukan, tidak egois, dan mencoba berdamai dengan diri sendiri. Setiap orang tentu butuh waktu dan cara berbeda-beda agar bisa kembali memulai hubungan. Jangan sampai hanya karena game, hubungan pertemanan tadinya harmonis malah jadi renggang. Menang atau kalah, itu cuma game. Tidak ada hal lebih tinggi dari sebuah persahabatan. Damai ajalah! (and)

Baca juga:

Berdamai Dengan Diri Sendiri, Kenapa Tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published.