Membuat konsep desain kantor terbuka diharapkan selain menghemat uang juga meningkatkan kerja sama tim. Tapi, apakah benar begitu?

Untuk sebagian orang, berbincang tentang hal serius di tempat umum yang terbuka sangatlah di hindari. Karena itu sebagian besar karyawan tidak menyukai konsep kantor terbuka atau open office karena dianggap mengurangi privasi.

Ethan Bernstein dan Stephen Turban, di Harvard Business School dan Harvard University, melihat bahwa konsep desain kantor terbuka tidaklah efektif untuk membantu meningkatkan kerja sama karyawan. Karena dari hasil penelitian yang mereka lakukan, ditemukan bahwa para peserta menghabiskan waktu untuk interaksi tatap muka berkurang hingga 73%. Sebanyak 67% waktu yang digunakan karyawan lebih banyak melalui komunikasi  di email, dan 75% lebih sering berinteraksi menggunakan chatting.

Hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan rencana awal yang menginginkan karyawan untuk lebih terbuka dengan karyawan lain baik sesama tim, maupun di luar tim. Karena pada kenyataannya, karyawan cenderung akan mengirim pesan teks untuk sebuah pendapat dari timnya, dibanding menghampiri mejanya.

Terkait penelitian ini, Christian Jarrett, dari British Psychological Society mengatakan bahwa sesungguhnya orang-orang menyukai sebuah privasi. Mereka lebih suka berbicara secara langsung antar pribadi dibanding dengan berkomunikasi melalui aplikasi pesan instan atau aplikasi percakapan lainnya.

Karena itu, konsep desain kantor dengan kubikel masih memungkinkan untuk adanya privasi itu ketika interaksi tatap muka dilakukan. Dalam desain kantor terbuka, percakapan antar dua orang bisa didengar oleh seluruh orang yang ada di dalam ruangan. Karena meningkatnya percakapan di dalam ponsel, ketika ada masalah, penyelesaiannya pun kurang efektif.

Permasalahan akan lebih efektif jika dibahas secara langsung. Karena akan ada diskusi yang lebih baik terjalin. Hal ini tentunya lebih efektif dibanding dengan menegur anggota tim melalui aplikasi pesan instan.

Sebuah tim idealnya melakukan interaksi secara langsung dibanding dengan melalui email atau pesan lainnya. Interaksi langsung akan mendorong seorang karyawan untuk berpikiran lebih terbuka dan tentunya hal ini akan bagus untuk kinerja karyawan. (JU/AR)

Sumber: inc-asean