denny3

H: Bicara tentang DigitalMarketer.id ini lebih seperti apa?

DS: Sebelumnya training company, ngajarin tentang digital marketing. Ada kelasnya, ada membership slide. Tapi kami lagi mau pivot dengan strategi baru. Sejauh ini pelatihannya dalam bentuk offline dan online . Yang offline kelasku ada 2 hari, dan ada master mind juga 5 hari. Untuk yang online bayar bulanan, sistemnya membership, komunitas. Materinya dalam bentuk video dan bisa diakses kapan saja, yang penting bayarnya bulanan.

H: Nantinya setelah pelatihan, DigitalMarketer.id akan berkembang seperti apa?

DS: Software, digital startup. Dulu, kita bikin training ada software tambahannya, nanti kami balik, kami buat software dan training-nya, gitu. Karena kami mau eksekusi yang marginnya tinggi. Saya nggak mau yang sistemnya kayak agency, terlalu banyak SDM yang dibutuhkan, tapi marginnya rendah. Jadi nanti ada software-nya seputar digital marketing yang bisa digunain siapa pun terutama pebisnis untuk meningkatkan penjualannya. Software berbayar ini sistemnya berlangganan.

H: Jadi, dalam berbisnis harus pintar-pintar sekali ya membaca kebutuhan pasar?

DS: Iya kalau gak dibutuhkan, kita ajarin gimana caranya bikin mereka merasa butuh. Bikin video, iklanin di media sosial. Saya sendiri pun beriklan, ngajak orang follow saya, terus baca highlight stories saya, yang ujung-ujungnya diarahkan untuk ke workshop saya.

H: Memilih beriklan di media sosial karena biayanya lebih terjangkau atau bagaimana?

DS: Bukan karena biaya, tapi karena jangkauannya luas. Saya pernah beriklan di Facebook sampai menghabiskan 2 milyar lebih seminggu.

H: Bagaimana membuatnya efektif?

DS: Iklanin setiap hari, nonstop. Kita ciptakan value, supaya orang mau beli. Begitu siklusnya. Contoh, waktu saya jual buku biografi, sebenarnya profit buku mungkin cuma Rp 10 ribu. Tapi saya bikin campaign, yakni bisa dapatkan buku gratis hanya bayar ongkos kirim saja. Itu nggak diiklankan, hanya di IG Stories saja. Dan itu laku 120 buku dengan profit Rp 19 juta.

Nah, ketika mereka beli buku, ditawarin lagi kelas online dengan diskon 50%. Ada sekitar 8% dari yang beli buku dan akhirnya ikut kelas. Setelah ikut kelas itu, tawarin lagi yang kelas master mind, yang harganya $5 ribu USD.

Karena digital marketing nggak bisa cuma mikir spending untuk advertising. Udah harus menggabungkan bisnis dan marketing. Termasuk di dalamnya product research, product design, semuanya. Orang marketing harus belajar bisnisnya, orang bisnis harus belajar marketing-nya.

Bisnis itu nggak hanya tentang jualan. Tapi keseluruhan cerita dari bisnis itu. Kayak bikin Disneyland. Mereka nggak cuma jualan tiket masuk, tapi di sana ada wahananya, ada merchandise, dan lainnya, lengkap. Orang ke sana nggak cuma bayar tiket, tapi menghabiskan banyak uang di dalamnya. Semua itu harus didesain.

H: Jadi harus membangun the whole stories itu ya?

DS: Iya. Karena kalau kita jual baju, itu komoditas. Komoditas itu barang yang dijual sama oleh banyak orang. Yang bisa dilakukan cuma perang harga. Kecuali kamu importir atau supplier. Tapi ketika supplier-nya banyak ya jadi komoditas juga.

H: Bukankah yang mudah dalam mulai bisnis itu menjual barang?

DS: Kita harus berpikir memberikan new opportunity bagi orang. Contohnya, ketika Apple bikin iPod. Saat itu sudah ada kondisi di mana orang mendengarkan musik secara portabel. Tapi baru dalam bentuk CD player dan semacamnya. iPod itu terobosan baru.

Seperti DigitalMarketer.id. kami nggak bahas teknikal, SEO dan semacamnya, kami bahas market. Kami ajarkan strategi, mindset dan menciptakan new opportunity itu tadi. Gimana orang tertarik dengan produk kita. Kayak misalnya mau bikin rumah sakit, apakah harus belajar semua ilmu kedokteran? Nggak. Tapi pekerjakan dokter-dokter yang memang ahli. Kamu mau bikin bisnis online dan butuh website? Pekerjakan web developer.

H: Bagaimana kalau nggak punya modal untuk mempekerjakan orang? Apa nggak bisa memulai bisnis dengan modal minim?

DS: Kerja dulu sama orang. Belajar gimana caranya bangun bisnis. Pertama harus belajar how to make money, how to sell. Banyak yang mau bisnis karena lihat orang bisnis kayaknya keren. Banyak yang mau bisnis tapi nggak tahu mau jual barang apa. Mau bisnis tapi nggak punya modal. Masalahnya kalau dikasih modal, dikasih barang, bisa nggak ngejualnya? Masalah utamanya bukan itu. Bukan nggak punya uang atau nggak punya ide bisnis, tapi karena memang skill-nya nggak ada.

Banyak orang cuma mau jadi businessman, tapi nggak tahu how to be businessman. Nggak punya motivasi, nggak punya nyali, ya susah.

H: Jadi, apa skill paling penting yang harus dimiliki oleh pebisnis?

DS: Menciptakan new opportunity, menjual, linguistik, copywriting, berpikir strategis dan public speaking.

Next: Berapa budget yang harus disediakan untuk digital marketing agar efektif?