Sejak terpilih menjadi Cover Boy di salah satu majalah remaja pada tahun 2000, kemudian bermain sinetron, Chicco Jerikho sudah terpikir dirinya kelak akan bermain dalam sebuah film. Meski ia tahu untuk bisa menjadi aktor layar lebar, perlu proses yang panjang dan tidak instan.

“Para pembuat film sulit memercayakan sebuah peran kepada seseorang yang belum pernah berpengalaman bermain film. Rata-rata mereka memilih yang sudah pengalaman. Saya hobi nonton film, dan selalu terpikir, ‘Kapan bisa main di sebuah film’. Meski jatuh bangun, dengan mengikuti casting, karier saya di dunia seni peran semakin meluas, terutama ketika terpilih bermain dalam film Cahaya dari Timur: Beta Maluku,” ujar Chicco, ketika ditemui oleh Hitsss di restoran kawasan Senayan, dalam sebuah sesi wawancara khusus.

Chicco bersyukur perannya dalam film tersebut sebagai Sani Tawainella, mengantarkan dirinya meraih piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2014. “Itu seperti turning point dalam hidup saya,” lanjut pria berusia 30 tahun itu.

Chicco kembali menjadi pembicaraan ketika kembali berperan dalam film arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko, yakni Filosofi Kopi. Dalam film yang diadaptasi dari cerita pendek karya Dewi ‘Dee’ Lestari itu, Chicco berperan sebagai seorang barista bernama Ben. Ben dalam film ini digambarkan sebagai orang yang ambisius dan mengejar kesempurnaan. Demi menciptakan kopi paling enak se-Indonesia, Ben meracik kopi yang dinamakan Ben’s Perfecto.

Ketika setiap jenis kopi memiliki filosofinya tersendiri, filosofi dari Ben’s Perfecto ialah ‘Sukses adalah wujud kesempurnaan dalam hidup’. Lalu bagaimana dengan ramuan Chicco’s Perfecto sendiri? Menurut Chicco, “Segala sesuatu yang kita lakukan dengan keyakinan, lakukan saja, nggak perlu terlalu banyak mikir, untuk hasilnya biar Tuhan yang menentukan,” tegasnya.

Chicco Jericho-Dok. Hitsss

Dirinya mengaku berbeda dari peran Ben yang ambisius dan mengejar kesempurnaan. “Capek, kalau hidup kseperti itu. Ketika segala sesuatunya kita kerjakan dengan penuh rasa dan cinta, hasilnya akan jauh lebih baik, dibanding dengan yang kita kerjakan dengan ambisius. Hasilnya beda. Pesan dalam film Filosofi Kopi itu saya implementasikan juga dalam hidup saya. Yang penting kerjakan sesuatu dengan baik dan benar, bukan mengerjakannya untuk mendapat penilaian sebagus mungkin,” ujar Chicco.

Dalam hidup, Chicco juga punya filosofi tersendiri. Bagi dia, hidup berarti selalu menantang diri, meningkatkan kemampuan diri, dan berani keluar dari zona aman dan nyaman. “Saya selalu tanamkan dalam diri saya, ‘Keep challenging yourself!’. Karena kalau dalam dunia seni peran, kita nggak upgrade kemampuan, kita akan tergilas sama pendatang-pendatang baru. Saya rasa itu berlaku di dalam bidang apapun.”

Selalu ada pesan bermakna yang dipetik untuk menjalani hidupnya setelah bermain dalam sebuah film. Pelajaran-pelajaran hidup yang ia dapatkan membuatnya semakin mensyukuri hidup. “Kenyamanan sebagai aktor yang saya dapatkan adalah saya jadi punya pengalaman batin tersendiri dalam hidup saya. Lewat film, kita bisa bercermin dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Karena film itu potret kehidupan,” katanya.

Chicco Jericho-Dok. Hitsss

Meski tidak seperfeksionis dan seambisius tokoh Ben yang ia perankan, Chicco tetap punya target-target dalam hidupnya. Tahun ini, ia ingin sekali mencoba akting dalam film laga, membuka kembali restorannya, dan membuka kedai Filosofi Kopi di lokasi yang menjadi tempat syuting film tersebut. Akhir April ini, ia juga akan mulai syuting untuk film Negeri Van Oranje bersama Abimana Aryasatya, Tatjana Saphira, Arifin C. Putra dan Ge Pamungkas. “Sukses bagi saya ialah ketika dapat menyelesaikan segala sesuatunya dengan penuh cinta dan mencapai target yang ditentukan. Target itu ada untuk memotivasi apa yang kita kejar,” tutup Chicco. (AR)