Popcon Asia 2015 berdedikasi untuk terus memberi andil dalam kemajuan industri kreatif di Indonesia. Sebagai acara yang mewadahi kreator kultur pop, Popcon Asia tak hanya menggelar festival tahunan. Hari Sabtu (19/9) lalu, Popcon Asia menggelar diskusi sederhana dan intim bersama kreator dari berbagai sektor, mulai dari komikus, hingga Youtuber, dalam acara bertajuk Pop Talk.

“Para kreator memiliki potensi yang sangat besar dari segi kualitas. Namun, masalah yang sering terjadi adalah apresiasi terhadap kreator lokal, kalah jauh dibandingkan dengan kreator asing. Pop Talk berupaya untuk menjembatani para kreator lokal untuk bertemu secara langsung dengan para stakeholder industri kreatif tanah air,” ungkap Grace Kusnadi, Penggagas Popcon Asia & CEO Revata.

Bertempat di co-working space, Conclave, di daerah Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, Pop Talk edisi pertama ini menghadirkan beberapa pembicara, seperti Nakanari (desainer mainan dan Co-Founder MaiHiro), Sweta Kartika (seniman komik dan Founder Ragasukma), Kok Bisa (education channel Youtube), Happy Kingdom (Indonesia Idol management), Kshatriya Saga (kreator komik), Ananta Rupa (Game Boma yang mendapat pendanaan dari Kickstarter), Alti Morena (Project Starlord dan Kitty Pride dari Marvel), Jotter & Jun Long (Project Pipoya), dan H2O Reborn (komikus).

Diskusi yang diadakan sore itu dirancang santai dan akrab dengan hadirin yang datang. Peserta dapat duduk lesehan di atas alas hitam yang dibentangkan di lantai, agar dapat berkenalan antara satu kreator dengan kreator lainnya. Lontaran canda-tawa pun menyelingi obrolan, sehingga membuat suasana semakin hangat dan intim.

Nakanari, desainer mainan dan Co-Founder MaiHiro (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)
Nakanari, desainer mainan dan Co-Founder MaiHiro (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)

Nakanari, lelaki asal Taiwan yang sukses berkarya serta berbisnis lewat passion-nya dalam mengoleksi mainan, mengungkapkan, “Pemimpi adalah seorang pemenang yang tidak pernah menyerah,” ungkapnya saat menceritakan kala dirinya hijrah ke Amerika Serikat dan mendirikan MaiHiro, sebuah perusahaan yang berfokus dalam pembuatan desain dan ilustrasi karakter mainan, yang khas dengan tokohnya, Spiki. Berawal dari mendesain Spiki dengan berbagai karakter dan penokohan, Spiki kini banyak mengeluarkan merchandise lainnya, seperti kalung, kaos, tote bag, topi, hingga sepatu.

Chung Cheng Shiau, begitulah nama asli Nakanari, juga mengajak para hadiri untuk selalu percaya diri dalam memasuki wilayah di luar zona nyaman. “Saya dulunya hanya bekerja di sebuah garasi. Banyak yang menyepelekan kinerja saya sebagai desainer karakter mainan, namun saya menunjukkan hasilnya, yaitu berupa karya yang berkualitas. Saya tinggal di negara orang untuk menghasilkan karya. Itulah yang membuat saya dappat bertahan hingga saat ini,” ungkanya.

Sweta Kartika bercerita mengenai perjuangannya memasyarakatkan konten pencak silat dalam komik-komik karyanya. (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)
Sweta Kartika bercerita mengenai perjuangannya memasyarakatkan konten pencak silat dalam komik-komik karyanya. (Dok. Kartika Adyani / Hitsss.com)

Lain halnya dengan Nakarani, Sweta Kartika, pendiri Ragasukma, berani mengangkat tradisi pencak silat ke dalam komik. Sweta mengawali kariernya saat menjadi peserta di Kompetisi Komik Indonesia (KKI) pada tahun 2012. Hingga kini ia dan Alex Irzaqi, sang partner, telah menelurkan banyak judul-judul komik yang dipasarkan melalui jalur online, seperti Tri Catra Manunggal, Maharaja Mokhsa, dan Puspadahana, yang kemudian membentuk sebuah kisah gabungan ketiganya, Serat Wiramurti.

Nama Sweta Kartika semakin terkenal saat ia mengeluarkan komik berseri melalui jejaring Facebook, yang memiliki dua tokoh andalan, Grey dan Jingga. Kisah keduanya diambil dari kehidupan percintaan sehari-hari yang banyak ia temukan di media sosial. “Saya tidak ingin membuat cerita percintaan yang hyper-reality alias jauh dari kenyataan sebenarnya. Banyak orang yang akrab dengan Grey & Jingga, karena karakter mereka banyak mewakili cerita di kehidupan nyata,” jelas Sweta, yang juga mengerjakan pernah proyek komik adaptasi film Pendekat Tongkat Emas, produksi Mira Lesmana.

Siapa sangka menyambangi Teater JKT 48 setiap hari dapat membuka peluang bisnis baru bagi Bovie Sandhi, pendiri Happy Kingdom Inc., sebuah manajemen yang mengelola idol JKT 48 yang kini bersolo karier. Dua orang mantan idol JKT 48, yang kini berada di bawah HK Inc adalah Rachel Florencia dan Marthina Meliana.

Debut pertama HK Inc yaitu saat mereka mengadakan Happy Kingdom Festival pada bulan Juni 2015 lalu. Bagi Bovie, idola adalah sosok yang menginspirasi dengan segala hal yang dilakukan dehaari-hari. Berkat mengidolakan JKT 48, kini ia dapat membentuk bisnis, dan ke depannya akan segera membuka School Idol Project, sebuah audisi talenta baru, yang memiliki kemampuan bernyanyi, menari, atau berakting.

Para pembicara yang hadir di Pop Talk memiliki beberapa kesamaan, antara lain mereka berbisnis dengan berkarya melalui jalurnya masing-masing, mengawali bisnis dengan pasar yang kecil, namun diperluas dengan kerja keras berkarya, serta tidak berhenti berinovasi guna bersaing dengan pemain lainnya. Melalui Pop Talk, para kreator diharapkan dapat saling berbagi inspirasi, serta membuka peluang kolaborasi dalam karya-karya mereka. (KA)