Salah satu rangkaian acara dari Mobiliari Film Festival adalah film talkshow dan open audition. Edwin Nazir, Ray Arif Nayoan dan Jujur Prananto bagikan kiat-kiat membuat film yang berkualitas kepada mahasiswa peserta talkshow di Auditorium Binus University (Kampus Anggrek), Jakarta (26/5).

Acara talkshow Mobiliari Film Festival merupakan bagian acara dari Hitsss Festival 2018. Dalam acara talkshow bertema “Making Short Films: The Complete Guide From Script To Screen” ini, pemateri membagikan ilmu tentang dasar-dasar pembuatan film pendek sebagai pembekalan untuk mengikuti film audition. Nantinya mereka yang menang kompetisi ini akan berkesempatan mendapatkan hadiah total Rp 100 juta dan diberangkatkan ke TWNC (Tambling Wildlife Nature Conservation).

talks2

Havid Han, perwakilan dari Mobiliari Institute menjelaskan tentang Mobiliari Film Festival yang mengangkat tema besar “The Balanced Life”. “Tema ‘The Balanced Life’ yang artinya keseimbangan hidup bisa dikreasikan dengan berbagai perspektif. Ide cerita film yang diikutsertakan bisa berbagai genre. Kamu bisa angkat keseimbangan hidup dalam hal apa pun. Bisa tentang keseimbangan antara kehidupan karir dan keluarga, atau juga tentang menyeimbangkan hidup kita dengan alam,” ujar Havid Han.

Untuk mengikutinya kamu hanya perlu mendaftarkan naskah terbaikmu dan showreel atau portofolio ke mobiliari-filmfestival.com. Di website tersebut kamu juga bisa melihat syarat dan ketentuan untuk mengikuti open audition ini.

“Untuk timnya berisi 10 orang. Tapi untuk kamu yang belum punya tim juga bisa mendaftarkan secara individu, dan nanti akan dikumpulkan dengan anggota tim lainnya.” Setelah terpilih, 5 tim ini akan mengikuti workshop sebelum diberangkatkan ke TWNC. “Untuk timnya sendiri bisa melibatkan masyarakat umum, hanya saja dengan syarat dalam 10 orang tersebut, minimal ada 4 mahasiswa aktif. Karena tujuan ajang ini memang untuk mentransfer pengetahuan dari praktisi dunia film ke anak-anak muda,” lanjut Havid.

TWNC, Lokasi Konservasi yang Menarik untuk Shooting Film

via inilahallam.com
Pemandangan alam di TWNC via inilahallam.com

Dalam acara talkshow ini juga hadir dari perwakilan TWNC yang menjelaskan tentang TWNC dan kondisi lokasi yang nantinya akan digunakan peserta yang menang open audition untuk melakukan proses produksi film.

TWNC merupakan kawasan konservasi yang dioperasikan dan dikelola oleh Artha Graha Peduli atau AGP Foundation sejak tahun 1996. TWNC mencakup 48. 153 hektar hutan yang merupakan bagian dari 365.000 hektar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan sekitar 14.089 cagar laut. Terletak di ujung selatan Pulau Sumatera, daerah terpencil ini ideal untuk perlindungan kehidupan liar.

TWNC juga melakukan upaya penyelamatan dan konservasi satwa yang terancam punah seperti rehabilitasi Harimau Sumatera. “Rehabilitasi harimau ditujukan untuk meningkatkan populasinya. Karena banyak harimau yang diincar untuk diburu. Di sana kami membuat hutan alami yang menjadi habitat alami yang memungkinkan satwa liat berkembang biak,” ujar Ginny Galih, Staf Konservasi TWNC.

TWNC merehabilitasi Harimau Sumatera dan membebaskan mereka kembali ke alam liar. Sebelum melepas liarkan, kami melakukan pemeriksaan, merawat luka, memantau perilaku dan kesehatan mereka. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan populasi dan tingkat kelangsungan hidup harimau di alam liar, agar tidak punah.

“Pasokan oksigen di sana masih 100%. Kaum urban kalau ke sana bisa refresh energi dan otak, serta bisa melihat hewan liar secara asli,” ujar Alifah Meltriana, Staf Konservasi TWNC.

Harimau Sumatera via inilahallam.com
Harimau Sumatera via inilahallam.com

Harimau Sumatera menjadi salah satu yang diutamakan upaya konservasinya karena Harimau Jawa dan Harimau Bali sudah punah, dan yang tersisa hanya Harimau Sumatera. “Harimau sumatera ini termasuk satwa liar yang dilindungi di dunia. DI TWNC terdapat pusat rehabilitasi untuk melindungi harimau ini. Untuk yang nantinya akan shooting di sana, tidak perlu cemas atau khawatir. Harimau nggak akan ganggu kalau kita sebagai manusia nggak mengganggu duluan,” lanjut Ginny.

TWNC juga punya penanganan yang disebut ranger. Ranger ini yang nantinya akan bantu ketika proses pembuatan film tanpa khawatir keadaan bahaya. Menurut Ginny dan Alifah sebagai staf konservasi TWNC, harimau cenderung menghindar dari manusia. Kecuali habitatnya diganggu, atau anak-anaknya diserang.

Next: Kiat Membuat Film Berkualitas dari Sutradara, Penulis Skenario dan Produser Bertalenta