Media sosial dan jejaring YouTube belakangan ini diramaikan dengan beredarnya video motion graphic yang berisi konten edukasi. Tak hanya mengandung unsur humor, video itu juga menggunakan bahasa yang simpel dan mudah dimengerti khalayak umum. Adalah tiga mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia, Ketut Yoga Yudistira, Alvin Dwisaputra, dan Gerald Sebastian, yang menciptakan Kok Bisa?, sebuah channel YouTube yang menyajikan video-video motion graphic dengan konten edukasi.

Video yang paling banyak mengundang viewers adalah Kenapa Rupiah Melemah?. Hingga kini, video tersebut memiliki sejumlah lebih dari 400 ribu viewers sejak diunggah satu bulan lalu. “Awalnya subscribers kami hanya 15 orang saja, itu pun teman dekat dan keluarga kami, hehehe. Kini, karena konten-konten edukasi yang kami unggah, kami telah memiliki lebih dari 40 ribu subscribers,” ungkap Gerald.

Ketiga perintis Kok Bisa? memiliki peranannya masing-masing dalam memroduksi sebuah video. Peran tersebut menjadikan alur pembuatan video menjadi skematis dan dapat diunggah tepat waktu, setiap hari Rabu satu minggu sekali. Gerald menjelaskan, pemilihan topik yang akan diangkat setiap minggunya diputuskan oleh ketiganya.

“Kami berdiskusi dan melihat isu terkini. Pertanyaan yang banyak dilontarkan penonton di YouTube kami, serta komentar-komentar orang di media sosial adalah sumber utama pemilihan topik,” jelas Gerald kepada Hitsss ketika ditemui seusai menjadi salah satu pembicara di Pop Talk, diskusi kreator industri kreatif (19/9).

Topik yang terpilih, diolah dan diriset oleh Alvin. Acuan riset pun diambil dari konten-konten resmi, seperti jurnal internasional dan buku-buku terkait. Gunanya agar penjelasan dari setiap topik, tetap memiliki nilai fakta dari sumber-sumber terpecaya. Alvin mengolahnya dalam sebuah naskah, yang kemudian dituangkan ke dalam ilustrasi oleh Gerald. Ilustrasi tersebut dijadikan animasi gambar bergerak oleh Yoga, yang juga menjadi pengisi suara di setiap video yang mereka produksi.

“Kami membentuk Kok Bisa? karena memiliki keprihatinan tersendiri terhadap pendidikan di Indonesia. Kami ingin memberikan jawaban dari segala pertanyaan yang menjadi isu terkini, atau perihal kehidupan sehari-hari, dengan sangat simpel dan mudah dimengerti banyak orang,” jelas Gerald, yang kini sedang menyelesaikan skripsi S1-nya.

“Ada sebuah cerita menarik, kala seorang bapak bertengkar dengan anaknya. Karena pertengkaran tersebut, keduanya jadi tidak berkomunikasi lagi. Lalu sang bapak mengirimkan tautan video Kenapa Kita Suka Banting-Banting Barang Ketika Marah? kepada anaknya. Berkat video tersebut, akhirnya merea berkomunikasi lagi dan saling meminta maaf,” cerita Gerald, mengenai efek lain video karya Kok Bisa?.

Harapan terbesar Kok Bisa? adalah untuk menjadi channel YouTube edukasi terbesar di Indonesia, layaknya Minute Physics dan Crash Course. “Untuk terus dapat menjadi hal tersebut, kami akan terus mengembangkan dan mengasah kapasitas kami masing-masing, sebagai penulis naskah, ilustrator, dan animator,” harap Gerald. Impian terbesar mereka adalah untuk membuat sebuah studio animasi terbesar di Indonesia.

Kini Kok Bisa? sudah memperoleh beberapa proyek dari berbagai pihak, yang belum dapat disebutkan detailnya. “Tak ada niat bagi kami awalnya untuk berbisnis melalui Kok Bisa? Ternyata kami mendapatkan banyak tawaran kolaborasi dalam proyek-proyek video motion graphic. Sebelumnya kami hanya mendapatkan revenue dari monetisasi video YouTube saja,” ungkap Gerald lagi.

Ke depannya, Kok Bisa? ingin terus konsisten memberikan jawaban-jawaban sederhana, melalui video-video dengan 80 % konten edukasi dan 20 % konten humor, dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di keseharian masyarakat Indonesia. Selain itu, Kok Bisa? siap membantu segala pihak, baik pemerintah maupun korporat, yang ingin membuat konten edukasi sebagai media sosialisasi efektif dan efisien.

“Bila nantinya kami memiliki banyak proyek commission work, ada kemungkinan kami akan merekrut pekerja lepas,” tambah Gerald. Mengenai hak cipta, Kok Bisa? bekerjasama dengan Multi-Channel Network (MCN), Layaria, yang telah resmi berafiliasi dengan YouTube dalam melindungin karya serta mengembangkan channel YouTube yang berada di bawah naungan Layaria. (KA)