Seperti yang kita ketahui, perkembangan kewirausahaan di Indonesia belum sepesat negara-negara maju lainnya. Di Jepang misalnya, hampir sebagian penduduk di sana mempunyai impian untuk menjadi entrepreneur atau wirausahawan. Hal itulah yang menjadi faktor majunya perekonomian di sana.

Di Indonesia hanya ada sekitar 570.339 orang atau 0,24 persen dari total 270 juta jiwa jumlah penduduk yang menjadi wirausahawan. Padahal untuk menjadikan perekonomian di sebuah negara bisa maju dan berkembang makmur, setidaknya membutuhkan sekitar minimal 2 persen wirausahawan dari jumlah penduduk. Jadi, di Indonesia harusnya minimal ada 4,75 juta wirausahawan.

Untuk itulah, acara bertajuk “Thank God I’m Entrepreneur (TGIE)” digelar untuk meningkatkan minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berwirausaha, Sabtu (23/1) lalu di co-working space Conclave, Jakarta. TGIE merupakan bincang-bincang mengenai kewirausahaan, yang digelar pertama kalinya oleh Fatih Indonesia, dan rencananya akan rutin dilaksanakan setiap bulan. Kondisi Sabtu pagi yang sedang hujan ketika itu, tak menyurutkan semangat peserta untuk menghadiri acara  ini, dapat terlihat dari penuhnya ruangan tempat berlangsungnya acara.

Pembicara yang hadir, yakni Fahmi Hendrawan, CEO Fatih Indonesia yang juga pendiri TGIE, dan Danu Sofwan, pendiri Radja Cendol, benar-benar mengemas presentasi mereka dengan ringan, namun berhasil menebarkan semangat dan menggugah para peserta untuk mencoba dan berani memulai berbisnis.

Danu Sofwan dan Fahmi Hendrawan (Dok. TGIE)
Danu Sofwan dan Fahmi Hendrawan (Dok. TGIE)

Mengambil tema “How To Start Your Own Business”, sesi pertama TGIE dibuka oleh Fahmi, yang menyatakan bahwa saat ini sebetulnya masyarakat mulai banyak yang berpikir untuk menjadi wirausahawan khususnya di kalangan generasi muda. Hanya saja ketakutan untuk gagal dan kurangnya pengetahuan tentang berbisnis, menjadi penghambat seseorang untuk memulainya.

Maka dari itu, melalui Fatih Indonesia, sebuah startup bidang men moslem & ethnic clothing line yang ia dirikan sejak Juni 2015, Fahmi bermisi untuk tidak hanya memajukan bisnisnya secara profit, tapi juga mengajak masyarakat untuk berani mulai berwirausaha.

Pada sesi kedua, giliran Danu yang menceritakan perjalanannya meniti usaha dari nol, sampai akhirnya menjadi sukses seperti sekarang. Kisah inspirasional Danu dalam perbincangannya dengan Hitsss, bisa kamu baca di sini.

Selain menceritakan pengalamannya memulai bisnis, Danu juga menjabarkan tip-tip memulai bisnis dengan istilah-istilah bahasa yang unik. Contohnya, Danu memberi saran dengan bentuk perumpamaan, agar kita menghindari penyakit-penyakit berikut saat memulai bisnis: Kutuan (Kurang Pengetahuan), Kudisan (Kurang Disiplin, Anget-angetan), dan Kremian (Kurang Mengerti yang Dilakukan).

Selain itu, Danu juga menyarankan peserta untuk memulai bisnis dengan tiga perumpaan jenaka lainnya, yakni Buset (Buka Mindset), Kupret (Kudu Pake Riset), dan Basi (Buru Aksi). Cara Danu menyampaikan tip-tip nya disambut gelak tawa peserta, namun pesannya mengena. Danu juga memberikan bocoran kepada peserta tentang taktik di balik kesuksesan produk usahanya, Radja Cendol, yakni dengan tiga poin berikut: Diferensiasi, Unique Selling Point dan History.

Diferensiasi merupakan taktik yang membedakan produk kita dengan produk lain. Sebisa mungkin, kita memiliki produk usaha yang tidak dimiliki produk lain. Dengan begitu, produk kita akan lebih mudah sukses. Contohnya, Danu mencontohkan bahwa Radja Cendol memiliki perbedaan yakni kandungan susu yang terdapat di dalam produknya, yang tidak dimiliki produk cendol lainnya.

Unique Selling Point merupakan taktik menjual produk dengan keunikan yang mampu menarik perhatian. Danu mencontohkan, selain menjual cendol, Radja Cendol juga menjual makanan ringan seperti kue cubit.

Namun, karena kue cubit sudah pasaran, harus ada keunikan yang membuatnya lebih menjual. Untuk itu, Danu kemudian menciptakan kue cubit super besar. Tidak serupa dengan bentuk kue cubit lainnya, yang kebanyakan berbentuk bulat kecil.

Taktik ketiga ialah History, produk yang kita jual harus memiliki nyawa, cerita serta tujuan, agar produk tersebut lebih bernilai. Danu menceritakan, Radja Cendol dibuat awalnya karena ia tidak bisa menemukan produk minuman khas Indonesia yang dikemas secara modern. Oleh karena keinginannya melestarikan minuman khas Indonesia tersebut, Radja Cendol memiliki nilai yang lebih dibanding produk-produk sejenis.

Namun, selain tip-tip membuat produk di atas, Danu mengatakan bahwa penting juga kreativitas dalam menjual produk itu sendiri. Karena tidak ada artinya produk yang bagus, namun penjualannya tidak dengan pelayanan yang baik.

Di akhir sesi, peserta TGIE terlibat diskusi dan interaksi secara langsung dengan pembicara. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan yaitu pelajar, wirausahawan, serta para karyawan yang tertarik untuk memulai berbisnis.

Hitsss yang juga menjadi mitra media acara ini turut mendukung, semoga dengan acara TGIE dan acara-acara lainnya yang menyuarakan semangat serupa, akan lahir wirausahawan-wirausahawan muda baru yang tentunya akan bermanfaat memajukan perekonomian Indonesia. Terutama dalam menghadapi era perdagangan bebas dan Masyarakat Ekonomi Asean 2016. Sampai bertemu di pertemuan berikutnya! (SS)