Kalau kamu berpikir bahwa tidak ada kalangan muda yang berminat pada seni keramik, kamu salah besar. Kini sudah semakin banyak, lho, seniman muda yang tertarik pada keramik, salah satunya, Ayu Larasati.

Perempuan berusia 29 tahun ini lahir dan besar di Indonesia, yang masa kuliahnya ia habiskan di Toronto, Kanada, untuk mengenyam pendidikan di jurusan desain industri Ontario College of Art and Design (OCAD University). Setelah lulus, ia bekerja di sebuah perusahaan desain dan manufaktur yang mengerjakan desain (produk dan furnitur) untuk berbagai perusahaan seperti McDonalds, Carnival Cruise Lines dan Days Inn Hotels.

Tahun 2014, Ayu memutuskan untuk kembali ke Indonesia serta mulai menapaki mimpinya untuk menjadi perupa keramik secara full time. Selain menjadi perupa, Ayu juga kerap mengajar workshop membuat keramik, salah satunya di Indoestri, sebuah makerspace yang berlokasi di daerah Cengkareng, Jakarta Barat.

Bulan Oktober ini, Ayu menjadi salah satu seniman pengisi pameran keramik bertema “Identitas” di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, yang berlangsung tanggal 16-25 Oktober 2015. Selain karya Ayu, ada karya 12 perupa lainnya di antaranya F. Widayanto, Antin Sabodo, Ayu Larasati, Bregas Harrimardoyo, Evy Yonathan, Geofrey Tjakra, dan Haryo Soenggono.  Bulan November mendatang, ia juga tengah menyiapkan pameran berikutnya.

Yuk, kenal lebih dekat dengan Ayu Larasati, perupa keramik yang juga berwajah ayu ini!

Hitsss (H): Sejak kapan dan bagaimana Ayu bisa mulai tertarik membuat keramik?

Ayu Larasati (AL): Kuliah di desain industri membuat saya kemudian banyak membuat desain produk. Saat itu aktivitas saya banyaknya berkutat dengan ide dan lebih menggunakan perangkat komputer, lebih konseptual. Yang saya lakukan ialah mengajukan ide ke klien, membuat konsep, tapi yang mengerjakan orang lain.

Saya jenuh dengan itu, dan saya kangen membuat sesuatu dengan tangan saya sendiri. Kemudian saya ikut kelas membuat keramik. Saya ambil kelas sambil kerja juga, jadi kelas malam yang saya ambil.

Setelah tekun di kelas malam itu, tahun 2012 saya mulai giat buat keramik sambil tetap kerja juga. Waktu saya buat keramik banyak yang suka. Tapi saya belum berani berhenti kerja dan memutuskan jadi pembuat keramik, karena berpikir juga soal penghasilan tetap yang didapat.

Sampai akhirnya memberanikan diri untuk fokus menjadi perupa keramik. Karena saya kan bisa punya stockist. Setiap perupa keramik pasti begitu, lagipula skala saya kecil, tungku saya hanya muat 4-5 lusin. 

H: Apa perbedaan dari keramik yang dibuat dengan tangan dengan keramik cetakan?

AL: Kalau cetakan hasil akhirnya lebih halus. Kalau yang diputar dengan tangan, misalnya gelas, di pinggirannya ada guratan-guratan melingkar bekas jari-jari. Selama ini saya selalu buat pakai tangan, tidak pernah pakai cetakan.

Salah satu karya Ayu Larasati. Foto: dok. pribadi
Salah satu karya Ayu Larasati. (Foto: Dok. Ayu Larasati)

H: Proses membuat keramik yang tidak mudah dan memakan waktu cukup lama bisa mendatangkan kebosanan, bagaimana Ayu menyiasati itu?

AL: Aku menjaga ketertarikan terhadap minatku itu dengan melakukan aktivitas lain, seperti menulis, membaca buku, dan mengajar. Karena kalau selalu memproduksi keramik, tentu terbiasa menyendiri ketika berkarya. Kalau setiap hari begitu pasti jenuh. Jadi, harus diselingi bertemu dengan orang-orang supaya tidak bosen, jadi ketika kembali berkarya sudah segar lagi.

H: Apa yang Ayu rasakan ketika sedang berproses membuat keramik?

AL: I feel completed and centered. Ketika membuat keramik memang terasa terisolasi. Untuk itu saya perlu keluar bertemu orang, ngobrol, setelah balik berkarya energi saya terbarukan. Hanya ada saya dan keramik saya, menyaksikannya berputar di tangan saya membuat saya merasa terpusat kepada diri sendiri. Di saat sekeliling saya terus bergerak, bumi berputar, saya seperti melihat hanya ada saya dan karya saya.

Ayu Larasati. Foto: dok. pribadi
Foto: Dok. Ayu Larasati

H: Hal apa yang perlu diperhatikan dalam menjadi perupa keramik?

AL: Reinventing. Saya terbiasa membuat functional ware, dan saya ingin mencoba untuk membuat karya seni yang lebih kontemporer. Jadi, saya sedang mengalami masa transisional. Karena berkarya adalah sebuah perjalanan, dan perjalanan berarti terus belajar dan mencari.

Kalau tidak reinventing nantinya akan kehilangan minat dalam bidang ini. Karena itu saya bergaul juga dengan orang-orang dari bidang lain, khususnya di dunia kreatif, tidak hanya orang-orang di bidang keramik dan desain produk saja. Rencananya karya saya yang bernuansa seni kontemporer akan dipamerkan di Dia.Lo.Gue artspace, bulan November ini.

H: Dalam dunia kreatif, seringkali ide sangat mudah untuk dicuri dan dicontek, tak terkecuali untuk keramik. Bagaimana Ayu menyikapi hal itu?

AL: Kalau karya saya ditiru saya tidak terlalu masalah. Karena saya pun tidak menciptakan konsep yang benar-benar baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Saya melihat perkembangan keramik di luar Indonesia seperti apa, tentu saya juga pasti terpengaruh dari karya-karya lain yang sudah ada sebelumnya.

H: Apa pesan-pesan Ayu untuk anak muda lainnya yang juga mencintai keramik?

AL: Saya melihat sudah mulai ada ketertarikan yang cukup besar dari anak muda di Indonesia. Namun, untuk terjun menjadi perupa keramik itu harus merasakan ‘panggilan’ dari dalam jiwa. Perlu usaha yang besar dan kecintaan yang juga sangat besar, bahkan kalau perlu melebihi cinta ke pacar sendiri. Harus punya passion yang besar karena tantangannya juga besar. Untuk pemula, harus bisa bertemu dan ngobrol sama mereka-mereka yang sudah lebih berpengalaman di bidang ini. (AR)