Founder Aruna bersama Komisaris Aruna

Menghubungkan nelayan dengan pembeli ikan dalam jumlah besar, Aruna ingin menyejahterakan masyarakat pesisir serta memajukan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia.

Farid Naufal Aslam beserta dua orang rekannya dari jurusan Manajemen Bisnis Universitas Telkom, Indraka Fadhillah dan Utari Octavianty mendirikan Aruna pada tahun 2015. Aruna adalah e-commerce terintegrasi yang menjual hasil laut dan perikanan dari kelompok nelayan ke pasar yang lebih luas terutama ke industri.

Aruna menghubungkan nelayan (supplier) ke pemesan ikan (buyer) dalam jumlah besar seperti ke pabrik pengolahan atau eksportir. Sebelumnya, Aruna bernama Pasarlaut.com. Karena ingin menggarap pasar yang lebih luas lagi dan lebih global, maka berubahlah namanya menjadi Aruna.

Sekarang ini sudah ada kurang lebih 1.700 kelompok nelayan di 15 propinsi dari Aceh sampai Papua dan lebih dari 50 perusahaan atau pembeli perikanan skala besar yang terhubung di Aruna.

Rugi ratusan juta, hingga diancam nyawa pernah Farid rasakan. Kepada Hitsss.com, co-founder dan CEO Aruna berusia 23 tahun ini bercerita tentang bagaimana jatuh bangunnya membesarkan Aruna  hingga mimpinya membawa e-commerce di bidang kelautan dan perikanan ini ke kancah global.

Mengapa Farid tertarik membuat bisnis Aruna ini?

Karena dua orang pendiri Aruna lainnya, yakni Indraka dan Utari tinggal di daerah pesisir. Jadi, kami ingin mengembangkan kawasan pesisir. Saat itu juga, waktu kami berdiri pada tahun 2015 belum ada perusahaan teknologi yang menghubungkan para nelayan ke industri.

Berarti Aruna juga membantu menyejahterakan nelayan. Apakah memang sudah berpikir untuk membuat perusahaan yang punya social impact seperti itu?

Iya. Karena kami nggak berpikir hanya tentang profit. Kembali lagi ke misi founder-nya, contohnya Utari. Dia ingin meningkatkan pendapatan nelayan di daerahnya. Dan ternyata setelah Aruna berjalan, social impact kami nggak hanya tentang meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir saja, tapi juga tentang membangun lingkungan kelautan yang berkelanjutan ke depannya. Supaya laut itu nggak dieksploitasi terus hanya untuk perdagangan.

Apa yang Aruna lakukan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan kelautan?

Bekerja sama dengan kelompok nelayan dan menstandardisasikan mereka. Dari mulai cara penangkapan, cara mengolah ikan sampai cara pengemasannya. Nelayan-nelayan ini diedukasi dan didampingi. Karena sebelumnya nggak ada pemahaman yang cukup dan masalah besar nelayan Indonesia adalah mereka hanya fokus pada kuantitas, bukan kualitas.

Mereka menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Ketika ikannya nggak ada yang beli, dibuang gitu aja. Akhirnya harga jatuh. Di Aruna ini, kami pelan-pelan melatih mereka untuk menjaga kualitas hasil tangkap. Kami menjamin ketersediaan pasar untuk para nelayan.

Melatih para nelayan yang punya kebiasaan sejak lama tentu nggak mudah. Bagaimana Aruna meyakinkan mereka agar mereka mau berubah?

Tentunya dengan sosialisasi dan kami tawarkan sisi peningkatan ekonomi. Kami bisa memberi jaminan buyer yang bisa kasih harga tinggi ke mereka. Akhirnya mereka juga sadar sendiri, “Saya harus berubah kalau mau dapat pendapatan lebih.”

Kenapa Aruna bisa memberikan harga lebih tinggi, karena kami melakukan efisiensi supply chain. Dari kelompok nelayan langsung kami sambungkan ke industri. Ada margin lebih yang bisa kami kasih ke nelayan. Karena mereka berpikir penghasilan mereka bisa meningkat, pelan-pelan mereka mau berubah. Nelayan kami pakai seragam, gudangnya juga rapi. Mereka bisa punya tempat memproses ikan skala kecil tapi standarnya kayak yang dipunya pabrik besar.

Bagaimana melatih nelayan yang tentunya merasa lebih paham tentang laut dan isinya?

Kami mulai dengan diskusi dan niatan ingin membantu mereka dengan kerja sama yang kami tawarkan. Bagaimana isi laut ini bisa ada terus sampai masa depan. Karena ada penelitian tahun 2048 seafood bisa habis kalau kita nggak mulai belajar mengelolanya lingkungan kelautan ini dengan baik dan benar.

Mereka juga kami kasih reward agar mereka lebih profesional. Kalau kerjaan mereka bagus, mereka layak dapat reward. Dari mulai sembako, alat tangkap, mesin kapal, sampai umroh. Ini supaya mereka bisa lebih produktif dan disiplin. Karena selama ini biasanya yang nentuin harga ke nelayan itu tengkulak. Mereka bisa nekan harga murah beli dari nelayan dan mereka jual dengan harga tinggi. Padahal yang kerja kerasnya kan para nelayan ini.

Setelah dilatih dan diedukasi, apa mereka merasakan betul perubahan dari sisi ekonomi?

Iya. Salah satu contohnya ada nelayan di Balikpapan, yang tadinya pendapatan sekitar 1,5 juta Rupiah bisa meningkat sampai 3,4 juta Rupiah per bulannya. Yang pasti lagi mereka juga dapat kepastian serapan pasar setiap bulannya. Karena itu, mereka jadi nelayan yang profesional.

Kalau dari sisi pembelinya, apa keuntungan yang didapat oleh buyer jika bermitra dengan Aruna?

Eksportir atau buyer ini punya pengolahan ikan, punya pabrik. Tapi utilitas mereka kecil karena mereka perlu supply. Sedangkan biaya produksi tetap setiap bulan, kalau supply-nya kecil, kan rugi. Lewat Aruna, buyer ini bisa dapat supply yang kontinu. Mereka juga nggak perlu datang ke daerahnya langsung.

Next: Bagaimana permodalan awal Aruna?