Hitsss melakukan wawancara eksklusif dengan Aoura Lovenson Chandra mengenai perjalanannya membangun Famous ID, yang tidak hanya mengembangkan kreator digital, tapi juga menumbuhkan ekosistem industri kreatif di Indonesia

Famous ID, merupakan creators network atau jaringan kreator digital di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2015. Perusahaan ini bertujuan untuk menciptakan sinergi agar content creator Indonesia bisa tumbuh lebih cepat dari sisi audiens, dan bisa menginspirasi serta menjangkau lebih banyak orang. Pertumbuhan ini tentunya akan berdampak pada peningkatan value (nilai) dan bisnis mereka.

Kini, telah ada hampir 300 kreator yang bernaung di bawah jaringan Famous ID. Aoura Lovenson Chandra, menjadi salah satu orang di balik kesuksesan Famous ID. Pria yang mengenyam pendidikan di jurusan Media Arts and Production, University of Technology Sydney ini merupakan Founder dan CEO Famous ID.

Istrinya, Carline Darjanto juga seorang pebisnis. Carline adalah CEO CottonInk, yang pada tahun 2016 lalu Masuk dalam salah satu dari daftar Forbes 30 under 30 Asia untuk kategori Retail & E-Commerce.

Kepada Hitsss, Aoura Lovenson Chandra menceritakan tentang bagaimana Famous ID menjadi perusahaan yang “membenahi” kreator, hingga passion-nya di dunia media, dan inspirasi terbesar yang ia dapatkan dari sosok sang istri.

Hitsss (H): Famous ID sebagai jaringan kreator membantu para kreator ini bertumbuh atau istilahnya membenahi mereka dan membuat mereka berkembang. Lantas seperti apa Famous mendapatkan revenue dari model bisnis seperti itu?

Aora Lovenson Chandra (ALC): Setiap pendapatan yang kita dapatkan untuk kreator kita itu ada management fee-nya. Mulai dari pendapatan adsense, off air mereka, branded content dan lain sebagainya, ada potongannya. Karena kami membantu mereka untuk membesarkan audiens mereka dengan cara mengoptimalkan dan mengembangkan Youtube mereka dengan lebih baik dibanding mereka lakukan sendiri.

Contohnya, Samsolese. Awalnya akun mereka subscriber-nya hanya 1.500, dan akunnya pernah terserang sampai dua kali, akhirnya akunnya ditutup. Dan bersama Famous, kami bangun dari awal lagi. Dalam waktu 8 bulan, sudah 100 ribu subscriber dan sekarang sudah lebih.

Atau YouTuber Fathia Izzati (Kittendust). Dia udah main di YouTube kurang lebih dua tahunan sebelum gabung di kami dan subscriber-nya hanya 20 ribu. Setelah gabung bersama kami dalam waktu 6 bulan naik jadi 150 ribu dan sekarang sudah lebih banyak lagi. Kami membesarkan audiens mereka.

(Foto: Aprillia Ramadhina/Hitsss.com)
(Foto: Aprillia Ramadhina/Hitsss.com)

H: Bagaimana caranya Famous ID membesarkan audiens dari para kreator ini?

ALC: Caranya berbeda-beda. Karena setiap kreator itu punya masalah dan tantangan yang beda. Ada yang punya masalah di produksi, ada yang masalahnya di kreatif. Kesulitan yang dialami kreator yang satu tidak sama dengan kesulitan yang dialami kreator yang lain. Kami memberikan bantuan yang mereka butuhkan.

H: Cara kerjanya seperti management creator?

ALC: Iya betul. Tapi kami nggak menyebutnya sebagai manajemen, lebih ke network. Kami membawahi hampir 300 kreator. Mereka terasosiasi dengan Famous ID dengan kontrak. Channel Youtube mereka terkoneksi dengan channel YouTube Famous ID. Kami kasih input tools untuk mengoptimakan channel YouTube mereka. Beda dengan manajemen yang lebih terlibat dari segala urusannya, mulai dari off air, dan semacamnya.

Agung Hapsah, salah satu YouTuber dan content creator yang ada di naungan network Famous ID via famous.id
Agung Hapsah, salah satu YouTuber dan content creator yang ada di naungan manajemen Famous ID via famous.id

Kami punya tim manajemen juga, tapi kecil. Nggak semua yang kontrak di network Famous ID masuk ke manajemen. Kami menyeleksi kreator yang memang punya potensi. Yang secara penuh kami urus manajemennya ada tiga orang, yaitu Reza Arap, Agung Hapsah, dan Fathia Izzati (Kittendust).

Fathia Izzati (Kittendust), salah satu YouTuber yang berada di bawah manajemen Famous ID via famous.id
Fathia Izzati (Kittendust), salah satu YouTuber yang berada di bawah manajemen Famous ID. (Foto: Famous.id)

H: Berarti untuk kreator pemula yang subscriber-nya sedikit bisa dibantu di Famous ID?

ALC: Bisa banget. Contohnya Kevin Hendrawan, Samsolese, dan Ewing. Itu yang kami bantu besarkan. Banyak yang mulai tergabung di kami yang awalnya punya subscriber sedikit. Famous ID nggak cuma mau kerja sama yang punya nama besar aja. Kami mau kerja sama yang dari kecil, yang memang niat dan mau jadi kreator. Yang juga rajin bikin konten dan upload. Kalau upload-nya aja 6 bulan sekali ya gimana, ya.

Samsolese via Famous.id
Samsolese via Famous.id

Cerita yang lahir di Famous ID beda-beda. Contohnya Reza Arap. Waktu masuk ke kami dia sudah jadi kreator selama tiga tahun dan subscriber-nya mentok di sekitar 300 ribuan. Kami sampai meeting berkali-kali untuk membedah masalah yang dia alami. Mulai dari masalah network, kapasitas produksi yang terbatas, kurang fokusnya dalam membuat konten, hingga ke pergaulannya. Dari berbagai masalah yang kami analisis dan coba atasi, dalam waktu 6 bulan, dia mencapai 1 juta subscriber, dan sekarang sudah 2,1 juta subscriber.

reza oktovian
Reza Oktovian, salah satu YouTuber dan content creator yang berada di manajemen Famous ID. (Foto: Famous.id)

H: Dengan membenahi channel para kreator ini, sementara itu bagaimana perkembangan bisnis Famous ID sendiri?

ALC: Better than expected. Baik sekali. Jauh di atas yang kami prediksi. Karena waktunya tepat. Kami mulai di saat gerakan kreator di Indonesia semakin bergerak dan tumbuh. Kami ikut bangun infrastrukturnya. Dari awal tim Famous ada 20 orang. Sekarang sudah 52 orang. Nggak mungkin kami bisa bantu kreator berkembang kalau tim kami sedikit. Semua ini hasil dari kontribusi tim yang kami punya. Itu yang saya rasain.

Next: Mendirikan Provoke dan Muvila sebelum Famous ID