Meski sering jadi alasan, ide yang tidak ideal bukan satu-satunya alasan kegagalan bisnis. Bisa jadi, kegagalan bisnismu terjadi karena alasan lain. Berikut 7 alasan kegagalan bisnis dan startup (bukan karena ide!).

Semua orang bisa bilang, “Saya punya ide”. Masalahnya bagus tidaknya sebuah ide juga tergantung pada kemampuan orang yang akan menjalankannya. Hanya memiliki sebuah ide, meski menarik, cerdas atau unik tidak cukup.

Perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan tidak hanya bergantung pada ide, tapi juga pada eksekusinya.

Cara kita melakukan sesuatu lebih harus diperhitungkan dalam bisnis dan startup. Kegagalan bukan ada pada ide yang kita miliki, tapi bagaimana kita membawa ide itu menjadi kenyataan.

Karena pada dasarnya, tidak ada yang bisa menemukan ide yang sempurna. Kesuksesan adalah hasil dari konsep, ide, yang dipertemukan dengan rintangan, disesuaikan dengan usaha bersama dan kerja sama yang baik.

Jadi, mengapa banyak pelaku bisnis dan startup gagal? Berikut 7 alasan penyebab kegagalan bisnis, bukan karena ide. Simak ulasannya.

Photo courtesy of Pixabay
Photo courtesy of Pixabay

Tidak mengetahui ukuran sukses

Gary Vaynerchuk berbicara dalam beberapa kesempatan kalau ia merasa kurang percaya pada pengusaha yang berasal dari keluarga yang kaya atau lulusan dari kampus yang elit alias “Ivy League”, dan ingin mencoba untuk memulai bisnis.

Alasannya karena orang-orang yang tumbuh di lingkungan yang sangat mendukung membuat mereka tidak harus “berjuang” untuk mendapatkan sesuatu.

Menjalankan bisnis berbeda dengan menjalani kehidupan di sekolah. Tidak ada tugas yang harus dikerjakan, tidak ada juga pengukuran yang pasti untuk kesuksesan. Semua itu harus kamu definisikan sendiri, dan banyak pebisnis yang gagal di sini.

Mereka tidak bisa mengukur kesuksesan mereka sendiri. Dan kadang, mereka juga kaget saat mengetahui bahwa untuk meraih target tersebut, tidak semudah yang dibayangkan.

Photo courtesy of Pixabay
Photo courtesy of Pixabay

Tidak mengetahui caranya “tidak sabar dengan sabar”

Mungkin agak sulit untuk mengerti istilah ini, tapi ini istilah yang paling tepat untuk mendeskripsikan keseimbangan antara ambisi dan kesabaran, rasa lapar dan kenyang. Kebanyakan orang merasa kita hanya bisa memilih salah satu, seperti pilihan antara tidur dan bangun.

Padahal tidak. Titik tengah dari semua itu “tidak sabar dengan sabar”. Kamu harus mengerti kalau semua hal yang berarti membutuhkan waktu, dan harus bisa menjalani hal itu. Sabar, namun tidak diam dan menerima saja keadaan yang ada.

Photo courtesy of Pixabay
Photo courtesy of Pixabay

Berusaha mengikuti tren bukan fokus kepada kemampuan diri sendiri

Banyak orang yang memulai sebuah bisnis hanya karena tren yang sedang naik, misalnya sekarang saat media sosial sedang tinggi-tingginya. Beberapa orang mungkin juga tertarik untuk membuat media sosialnya sendiri, padahal mereka tidak mengerti apapun tentang media sosial. Sama seperti orang yang mendirikan bisnis restoran karena mereka suka makan, tapi tidak mengerti apapun tentang bisnis restoran itu sendiri.

Sebagai seorang pebisnis, pertanyaan yang harus kamu tanyakan bukan “Apa yang sedang hangat-hangatnya dicari di pasaran?” Tapi, “Apa yang bisa saya lakukan lebih baik dari orang lain, yang akan diinginkan oleh orang-orang?”

Saat kamu mengerti secara mendalam tentang bisnis dan produk bisnismu, maka bisnismu akan berjalan lebih jauh daripada jika kamu hanya mengikuti tren di pasar.

Jadi, jangan mengejar tren di pasaran. Percayalah pada kemampuan dirimu sendiri.

Photo courtesy of Pixabay
Photo courtesy of Pixabay

Bekerja sendiri

Pelajaran lain yang harus kamu mengerti adalah berbisnis bukan sesuatu yang bisa dikerjakan sendirian. Orang yang merasa kesulitan biasanya orang yang tidak ingin berbagi, baik itu dalam beban pekerjaan atau bahkan jaringan.

Kamu tidak bisa membangun sesuatu yang besar dan hebat sendirian. Bahkan jika kamu satu-satunya pemilik produk dan bisnis yang kamu bangun, kamu masih membutuhkan orang lain. Kamu membutuhkan seseorang untuk mendesain, membangun, membuat, atau menyediakan bahan bakunya.

Memperlakukan orang lain sebagai komoditas dan bukan sebagai rekan kerja yang berharga juga sama dengan menjatuhkan dirimu sendiri bahkan sebelum memulai.

Photo courtesy of Outside The Beltway
Photo courtesy of Outside The Beltway

Tidak tahu apa yang mereka tidak tahu

Alasan lain yang membuat pebisnis gagal adalah mereka tidak tahu apa yang mereka tidak ketahui.

Jika kamu baru memulai bisnis di bidang yang belum kamu ketahui, bagian ini tidak hanya penting, tapi bisa menentukan hidup dan matinya bisnismu. Kamu tidak bisa membangun bisnis dengan anggapan kamu sudah mengetahui segalanya, karena itu salah.

Tidak ada satu orang pun yang mengetahui segalanya di dunia bisnis. Bahkan jika kamu sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun.

Saat kamu merasa sudah tahu segalanya, kamu tidak akan lagi ingin mendengarkan masukan dari orang lain. Saat kamu tidak mendengarkan orang lain, kamu berhenti belajar, dan kamu akan mulai membuat pilihan yang berdasarkan dari asumsi.

Terus dengan sigap mencari tahu tentang apapun yang baru dan belum kamu ketahui. Dan saat kamu mengerti tentang hal itu, jangan berlagak sombong dan menganggap dirimu lebih dari yang lain. Duduk, ajarkan dirimu sendiri caranya untuk rendah hati dan selalu ingin tahu.

Photo courtesy of Pixabay
Photo courtesy of Pixabay

Tidak fokus pada satu hal

Kapan orang mulai keluar dari jalur? Saat mereka mulai mencoba melakukan sesuatu yang bukan kemampuan utama mereka, hanya karena mereka bisa.

Misalnya, saat seorang pendiri bisnis tanpa latar belakang kreatif yang tiba-tiba ingin memberikan masukan tentang bagian kreatif.

Tetap berjalan di jalurmu sendiri itu juga kemampuan, lho. Itu berarti kamu rela mengesampingkan dirimu sendiri dan membiarkan orang dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih darimu untuk mengambil alih tanggung jawab di bidang yang kamu tidak mengerti.

Saat seorang pebisnis mencoba untuk melakukan segalanya, mereka mulai berjalan ke arah yang salah.

Photo courtesy of Pixabay
Photo courtesy of Pixabay

Tidak bisa menanggung tanggung jawab yang ada

Saat ini, menaruh kata-kata seperti “CEO” atau “Founder” dan “Co-founder” di kartu nama atau profil media sosial lebih seperti pernyataan mode, terutama saat bisnis yang didirikan bahkan belum menghasilkan apapun. Itu hanya membuktikan bahwa banyak orang hanya menginginkan gelar, dan bukan ingin menjadi seorang pebisnis.

Karena sebenarnya, menjadi pebisnis bukan soal gelar atau nama posisi yang dicantumkan di kartu nama. Tapi tentang tanggung jawab.

Saat kamu mendirikan bisnis, kamu menanggung beban orang-orang yang bekerja dengan dan di bawah pimpinanmu. Kamu harus bisa membantu mereka menyediakan makanan di rumah, memastikan bahwa mereka merasa cukup, bahkan lebih dari cukup. Kamulah yang harus bangun tiap pagi dan memimpin bisnis, tanpa peduli perasaanmu hari itu seperti apa.

Setiap orang yang merasa bahwa menjadi pebisnis itu pada dasarnya mengenai nama posisi, bukan seorang pebisnis. (JK/NH)

Sumber: Inc ASEAN